Orang yang Berbahagia Bukanlah Orang yang Mendapatkan Keadilan, namun Orang yang Mulai Mampu Menerima Kenyataan bahwa Tiada Keadilan dan Hidup Ini Jauh dari Kata “Ideal”

Bahaya Dibalik Obsesi bahwa Hidup Ini Adil dan Ada Keadilan untuk Diperjuangkan dan Diraih, bahwa Hidup ini Nikmat, dan bahwa Kehidupan Ini adalah Ideal—Kesemua Itu adalah “Delusi”

Bung, Dunia Tidak Pernah dan Tidak akan Pernah Seindah maupun Seideal Harapan Anda, Sekalipun Anda Korupsi maupun menjadi Kriminal yang Merampas Hak-Hak ataupun Kebahagiaan Milik Orang Lain

Hidup adalah “nikmat”? Jeruk, manis dan lezat adanya. Namun cobalah Anda makan sekaligus dua puluh butir, Anda akan muntah—“teori marginal” dalam ilmu ekonomi bahkan telah lama menjelaskan fakta dan realita demikian. Ketika kita tidak sedang memakan jeruk tersebut, kita mengidamkan dan tergiur dan kecewa menemukan diri kita tidak memiliki buah tersebut untuk dimakan—bahaya dibalik kerinduan, dimana kerinduan adalah “dukkha” itu sendiri. Baiklah, Anda mungkin tidak menyukai buah jeruk. Jika demikian, silahkan ganti dengan buah atau makanan lainnya, dan yakin Anda tetap akan muntah akibat “overdosis”. Sesuatu yang awalnya tampak lezat sekalipun, dapat menjelma penolakan dan menjauhinya.

Kini, kita berbicara perihal “keadilan”. Kabar gembira bagi pendosa yang dihapus dosa-dosanya dan tidak dihukum atas perbuatan jahatnya, merupakan kabar duka bagi kalangan korban. Sering kita jumpai umat agama samawi, yang berdalih bahwa baru akan ada keadilan di alam baka, “hari pembalasan”, dan dogma alibi lainnya. Itu “jawaban”, ataukah “penghiburan diri” seakan hidup ini adalah adil dan ada keadilan setelah kematian alias pengadilan di alam baka? Agama versi “fantasi”. Pertanyaannya, bila di dunia manasia saja, penuh ketidak-adilan, jauh dari kata “ideal”, bahkan serba mengecewakan dan menyakitkan, maka atas dasar delusi apakah kita berharap akan ada keadilan setelah kematian?

Sebaliknya, Buddhisme tegas-gamblang menyatakan bahwa “hidup ini adalah dukkha”, karenanya kita tidak perlu terobsesi pada keadilan dan juga tidak perlu menjadi “insane” akibat tidak mendapatkan keadilan di alam manapun, serta tidak perlu juga “menipu diri sendiri”. Dalam artikel sebelumnya, kita telah membahas kelemahan dan kekurangan paling fatal dari “cara kerja Hukum Karma” yang sangat tidak ideal adanya, yakni waktu berbuahnya yang tidak efektif membawa “efek jera”, sebagaimana tertuang dalam Mahākammavibhanga Sutta [Majjhima Nikāya] yang di bawah ini akan penulis kutip tiga buah ayatnya:

16. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak ada akibat dari perilaku baik,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: [214] ‘Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.

17. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

18. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

Fakta di atas, jauh lebih menohok daripada fakta bahwa orang jahat bisa menang melawan orang baik, orang jahat hidupnya lebih makmur daripada orang baik, dan bahwa orang jahat lebih panjang umur dairpada orang baik. Mereka yang mengandalakan dan mengidolakan atau mengagung-agungkan Hukum Karma, bukanlah seorang penganut Buddhisme, mereka penganut paham Jain (Jainisme) yang telah dibantah oleh Sang Buddha dalam banyak sutta. Ironisnya, banyak umat yang mengaku-ngaku Buddhist, namun merasa lebih pintar daripada Sang Guru—tanpa menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam paham Jain, bukan Dhamma.

Setelah memahami betapa tiadanya kata “ideal” ataupun “keadilan” dalam hidup dan kehidupan yang berkondisi ini, maka kita menjadi tergugah bahwa penjelmaan (kelahiran kembali, rebirth atau reborn, tumimbal-lahir) adalah dukkha itu sendiri, karenanya keinginan untuk kembali menjelma menjadi surut dan terkikis secara sendirinya sebelum kemudian mengetahui secara langsung bahwa keinginan demikian adalah “delusi”—salah satu kekotoran-batin yang menyebabkan kita terlahir dan kembali-terlahir, terjerat dalam siklus tumimbal-lahir tanpa akhir menyerupai “never ending stories” yang membosankan dan menjemukan : lahir, tua, sakit, meninggal, sebelum kemudian kembali menjelma untuk mengulangi siklus serupa.

Bagi mereka yang masih “keras kepala” menyatakan bahwa hidup ini adalah “indah” dan kita patut “bergembira” dan merayakannya dapat terlahir ke dunia ini, sehingga kita seharusnya berterima kasih kepada Tuhan karena telah diciptakan dan dilahirkan—seolah-olah kita “berhutang” karena pernah meminta kepada Tuhan untuk diciptakan dan dilahirkan ke dunia ini—maka tengoklah apa yang disabdakan oleh Sang Buddha dalam Aṅguttara Nikāya, dengan kutipan sebagai berikut:

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus; orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.

(1)  Dan apakah orang yang mengikuti arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.

(2)  Dan apakah orang yang melawan arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.”

Karena itulah, menjadi tidak mengherankan, Pangeran Siddhatta Gotama memilih jalan yang bermuara pada “BREAK THE SHACKLE / CHAIN OF KARMIC LAW”-memutus belenggu rantai karma, sekalipun telah mengumpulkan pārami selama ber-kappa-kappa lamanya. Tiada lagi penjelmaan baru, maka tiada lagi penuaan, tiada lagi sakit, dan tiada lagi kematian. Bukan surga, bukan alam Brahma, juga bukan alam manusia ataupun alam-alam rendah, yang menjadi tujuan utama jalan yang telah ditempuh oleh Sang Buddha, akan tetapi sebagaimana dikutip dari Brahmanimantanika Sutta [Majjhima Nikāya].

“Karena Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotori, yang membawa penjelmaan baru, memberikan kesusahan, yang matang dalam penderitaan, dan mengarah menuju kelahiran, penuaan, dan kematian di masa depan; Beliau telah memotongnya di akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan. Seperti halnya pohon palem yang dipotong pucuknya tidak akan mampu untuk tumbuh lebih tinggi lagi, demikian pula Sang Tathāgata telah meninggalkan noda-noda yang mengotoriNya pada akarnya, membuatnya menjadi seperti tunggul pohon palem, menyingkirkannya sehingga tidak akan muncul kembali di masa depan.”

Sepanjang masih membawa “kekotoran batin”, maka kelahiran-kembali akan terus menjadi vonis hidup dan nasib yang diemban yang bersangkutan, yakni terjebak dalam siklus tumimbal-lahir tiada akhir dimana air mata yang telah pernah kita teteskan di kehidupan-kehidupan sebelumnya lebih banyak jumlahnya daripada volume air lautan sekalipun seluruh samudera disatukan, dimana tumpukan tulang-belulang kita dari kehidupan-kehidupan sebelumnya bila ditumpuk menjadi satu maka gunung tertinggi pun kalah tinggi. Karenanya, dengan kata lain, kita terlahir akibat “kekotoran batin” kita serta membawanya serta kekotoran-batin tersebut saat kembali terlahir, bukan terlahir dengan kondisi “kain putih bersih”.

Sang Buddha dikenal karena “auman singa”-nya bukan karena menjelma terlahir-kembali ke dalam dewa sebagai makhluk dewata—dalam kehidupan-kehidupan lampau Buddha Gotama, Beliau telah pernah menduduki singgasana Sakka, raja para dewa, namun Beliau masih dikuasai oleh “ketidak-puasan”—juga bukan karena memenangkan pertarungan dalam suatu duel kekuatan batin melawan makhluk Brahmā di alam Brahmā—makhluk yang berdelusi sebagai “Tuhan Sang Pencipta” semata karena sakti dan umurnya yang panjang. Sang Buddha dikenal di alam dewata maupun di alam Brahmā, karena pernah membuat para dewata maupun para Brahmā menggigil ketakutan ketika Sang Buddha berkata kepada mereka (bukan menunjuk pada satu sosok dewa tertentu, namun kepada para dewa pada umumnya) : “Kalian akan mati [ketika buah Karma Baik mereka mulai menipis] dan akan kembali terlahir di alam neraka.”

Tidak tanggung-tanggung, dalam banyak sutta, Sang Buddha bahkan mengatakan para makhluk dewata tersebut akan kembali-terlahir di alam NERAKA, alias jatuh dari alam surgawi ke alam neraka, jauh lebih menyakitkan daripada jatuh dari atas tangga, dimana jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi dan mendarat jauh di bawah sana, lebih mengerikan daripada manusia yang jatuh ke alam neraka, ibarat kurva curam yang jatuh terjerembab, atau ibarat pesawat yang mengudara sebelum kemudian menghujam bumi. Alam dewa maupun alam Brahmā, hanyalah “persinggahan” sebelum kemudian kita kembali terjebab ke dalam alam NERAKA. Tanpa pengecualian, baik Anda maupun kita semua. Sang Buddha dikenal karena “auman singa”-nya, sebagaimana dikutip dari Cūḷasīhanāda Sutta [Majjhima Nikāya]:

“Para bhikkhu, ketika ketidak-tahuan ditinggalkan dan pengetahuan sejati muncul dalam diri seorang bhikkhu, maka dengan meluruhnya ketidak-tahuan dan munculnya pengetahuan sejati ia tidak lagi melekat pada kenikmatan indria, tidak lagi melekat pada pandangan, tidak lagi melekat pada ritual dan upacara, tidak lagi melekat pada doktrin diri. Ketika ia tidak melekat, ia tidak gelisah. Ketika ia tidak gelisah, maka ia oleh dirinya sendiri mencapai Nibbāna. Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’”

Kini, silahkan Anda nilai dengan akal sehat serta pikiran jernih Anda sendiri, bila Anda yang pada gilirannya menjadi korban—hanya persoalan waktu, sebelum cepat atau lambat Anda yang menjadi korban akibat perbuatan pihak lain yang tidak bertanggung-jawab. Karenanya, jangan pernah melecehkan orang yang terkena “bisul”, Anda pun tidak imun dari pengalaman menyakitkan dan menyedihkan yang membuat “derita”—maka Anda hanya dapat “gigit jari” sekalipun telah melapor dan mengadu kepada Tuhan / Allah. Mereka, bahkan tidak mampu membedakan antara “kembali ke fitri” (kembali suci) dan “menjelma KORUPTOR DOSA” (dimana dosa-dosa pun dikorupsi)—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]