Tidak Menggenggam Gambaran [Penglihatan] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Penciuman] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Pengecapan] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Pendengaran] Beserta Ciri-Cirinya, Gambaran [Sentuhan] Beserta Ciri-Cirinya, maupun Gambaran [Objek Pikiran] Beserta Ciri-Cirinya
Hendaknya kita tidak berlarut-berlarut terlebih tenggelam dalam kegembiraan maupun kesedihan, kerinduan maupun penyesalan, kecintaan maupun kebencian, kesukaan maupun ketidaksukaan, kenikmatan maupun kekecewaan, kegiuran maupun kejijikan, terhadap segala jenis kondisi yang muncul dari kontak keenam indera kita—penglihatan, penciuman, pengecapan, sentuhan, pendengaran, maupun pikiran. Batasi pada kurun waktu temporer bila kondisi tersebut muncul dan kita alami, sebatas tempo waktu temporer yang singkat saja, selanjutnya kita kembali ke dalam mode “keseimbangan batin” dengan kurva yang landai dan tenang-datar tanpa naik ataupun turun secara curam. Dengan cara begitulah, kita menjaga “sumur energi batin” kita tidak terkuras-kering.
Hindari untuk menggenggam gambaran maupun ciri-cirinya—baik itu
gambaran [penglihatan] beserta ciri-cirinya, gambaran [penciuman] beserta ciri-cirinya,
gambaran [pengecapan] beserta ciri-cirinya, gambaran [pendengaran] beserta ciri-cirinya,
gambaran [sentuhan] beserta ciri-cirinya, maupun gambaran [objek pikiran]
beserta ciri-cirinya. Sang Buddha dalam banyak sutta, seringkali berpesan:
“Marilah,
Bhikkhu, jagalah pintu-pintu indriamu. Ketika melihat suatu bentuk dengan mata,
jangan menggenggam gambaran [penglihatan] dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau
membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat
berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara
pengendaliannya, jagalah indria mata, jalankanlah pengendalian indria mata.
“Ketika
mendengar suatu suara dengan telinga, jangan menggenggam gambaran [suara] dan
ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria telinga tanpa terkendali,
kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat
menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria telinga, jalankanlah
pengendalian indria telinga.
“Ketika
mencium suatu bau-bauan dengan hidung, jangan menggenggam gambaran [bau-bauan]
dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria hidung tanpa
terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria hidung,
jalankanlah pengendalian indria hidung.
“Ketika
mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah, jangan menggenggam gambaran [rasa]
dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria hidung tanpa
terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria lidah,
jalankanlah pengendalian indria lidah.
“Ketika
menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan, jangan menggenggam gambaran
[sentuhan] dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria sentuhan
tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan
kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria
sentuhan, jalankanlah pengendalian indria sentuhan.
“Ketika
mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, jangan menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria pikiran tanpa terkendali,
kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat
menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria pikiran, jalankanlah
pengendalian indria pikiran.”
Untuk selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995);
diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara,
penerbit DhammaCitta Press (2013):
~ SUTTA 107 ~
Gaṇakamoggallāna
Sutta: Kepada Gaṇaka Moggallāna
[1] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Taman Timur, di Istana Ibunya Migāra. Kemudian Brahmana Gaṇaka Moggallāna mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan
Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada
Sang Bhagavā:
2. “Guru Gotama, di Istana Ibunya Migāra ini dapat terlihat latihan
bertahap, praktik bertahap, dan kemajuan bertahap, yaitu, hingga ke anak tangga
terakhir. Di antara para brahmana juga, dapat terlihat latihan bertahap,
praktik bertahap, dan kemajuan bertahap, yaitu, dalam hal belajar. Di antara
para pemanah juga, dapat terlihat latihan bertahap … yaitu, dalam hal memanah.
Dan juga di antara para akuntan seperti kami, yang berpenghidupan dari
akuntansi, dapat terlihat latihan bertahap … yaitu, dalam hal penghitungan.
Karena ketika kami menerima seorang murid pertama-tama kami mengajarinya
berhitung: satu satu, dua dua, tiga tiga, empat empat, lima lima, enam enam, tujuh
tujuh, delapan delapan, sembilan sembilan, sepuluh sepuluh; dan kami
mengajarinya menghitung seratus juga. Sekarang apakah mungkin, Guru Gotama,
untuk menjelaskan latihan bertahap, praktik bertahap, dan kemajuan bertahap
dalam Dhamma dan Disiplin ini?” [2]
[Kitab Komentar : Perihal frasa “hingga ke anak
tangga terakhir”, adalah tidak mungkin membangun istana bertingkat tujuh dalam
satu hari. Begitu lahan dibersihkan, sejak saat fondasi dibangun hingga
pekerjaan mengecat diselesaikan terdapat kemajuan bertahap.]
3. “Mungkin saja, Brahmana, untuk menjelaskan latihan bertahap, praktik
bertahap, dan kemajuan bertahap dalam Dhamma dan Disiplin ini. Seperti halnya,
Brahmana, ketika seorang pelatih kuda yang terampil mendapatkan seekor anak kuda
berketurunan murni yang baik, pertama-tama ia membiasakannya memakai kekang,
dan selanjutnya ia melatihnya lebih lanjut, demikianlah ketika Sang Tathāgata
mendapatkan seseorang untuk dijinakkan pertama-tama Beliau mendisiplinkannya
sebagai berikut: ‘Marilah, Bhikkhu, jadilah bermoral, terkendali melalui
pengendalian Pātimokkha, jadilah sempurna dalam perilaku dan tempat yang
dikunjungi, dan melihat dengan takut bahkan pada pelanggaran yang terkecil,
berlatih dengan menjalankan aturan-aturan latihan.’
[Kitab Komentar : Perihal “seekor anak kuda
berketurunan murni yang baik, pertama-tama ia membiasakannya memakai kekang,
dan selanjutnya ia melatihnya lebih lanjut”, dapat dibaca pada Majjhima Nikāya sutta
65 paragraf ke-33, yakni dengan kutipan sebagai berikut:
33. “Bhaddāli, misalkan seorang pelatih kuda yang
cerdas memperoleh seekor kuda muda dari keturunan murni yang baik. Pertama-tama
ia membuatnya terbiasa mengenakan tali kekang. Sewaktu kuda muda itu
dibiasakan mengenakan tali kekang, karena ia melakukan sesuatu yang belum
pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan
memberontak, namun
melalui pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi
tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam
tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terbiasa mengenakan
perlengkapan kuda. Sewaktu kuda muda itu dibiasakan mengenakan perlengkapan
kuda, karena ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia
memperlihatkan perlawanan, menggeliat, dan memberontak, namun melalui
pengulangan terus-menerus dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam
tindakan tersebut.
“Ketika kuda muda itu telah menjadi tenang dalam
tindakan itu, sang pelatih kuda lebih jauh membuatnya terlatih dalam melangkah,
dalam berlari berputar, dalam mengangkat kedua kaki depannya, dalam menderap,
dalam menyerang, dalam kualitas-kualitas kerajaan, dalam budaya kerajaan, dalam
kecepatan tertinggi, dalam ketangkasan tertinggi, dalam kelembutan tertinggi. Sewaktu
kuda muda itu dibiasakan melakukan hal-hal ini, karena ia melakukan sesuatu
yang belum pernah ia lakukan sebelumnya, ia memperlihatkan perlawanan,
menggeliat, dan memberontak, namun melalui pengulangan terus-menerus
dan latihan secara bertahap, ia menjadi tenang dalam tindakan tersebut.
“Ketika
kuda muda itu telah menjadi tenang dalam tindakan-tindakan itu, sang pelatih
kuda lebih jauh menghadiahinya dengan pijatan dan perawatan. Ketika seekor kuda
muda jantan dari keturunan murni memiliki sepuluh faktor ini, ia layak menjadi
milik raja, layak melayani raja, dan dianggap sebagai salah satu faktor seorang
raja.”]
4. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu menjadi bermoral … dan melihat dengan
takut bahkan pada pelanggaran yang terkecil, berlatih dengan menjalankan
aturan-aturan latihan, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih
lanjut: ‘Marilah,
Bhikkhu, jagalah pintu-pintu indriamu. Ketika melihat suatu bentuk dengan mata,
jangan menggenggam gambaran [penglihatan] dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau
membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat
berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara
pengendaliannya, jagalah indria mata, jalankanlah pengendalian indria mata.
Ketika mendengar suatu suara dengan telinga, jangan menggenggam gambaran
[suara] dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria telinga tanpa
terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria telinga,
jalankanlah pengendalian indria telinga. Ketika mencium suatu bau-bauan dengan
hidung, jangan menggenggam gambaran [bau-bauan] dan ciri-cirinya. Karena, jika
engkau membiarkan indria hidung tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak
bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara
pengendaliannya, jagalah indria hidung, jalankanlah pengendalian indria hidung.
Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah, jangan menggenggam gambaran
[rasa] dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau membiarkan indria hidung tanpa
terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
akan dapat menyerangmu, latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria lidah,
jalankanlah pengendalian indria lidah. Ketika menyentuh suatu objek sentuhan
dengan badan, jangan menggenggam gambaran [sentuhan] dan ciri-cirinya. Karena,
jika engkau membiarkan indria sentuhan tanpa terkendali, kondisi jahat yang
tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu,
latihlah cara pengendaliannya, jagalah indria sentuhan, jalankanlah
pengendalian indria sentuhan. Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan
pikiran, jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika engkau
membiarkan indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat
berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangmu, latihlah cara
pengendaliannya, jagalah indria pikiran, jalankanlah pengendalian indria
pikiran.’
5. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah menjaga pintu-pintu indrianya,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu,
makanlah secukupnya. Dengan merenungkan secara bijaksana, engkau harus memakan makanan
bukan demi kenikmatan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi keindahan dan
kemenarikan fisik, melainkan hanya demi ketahanan dan kelangsungan tubuh ini,
untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, dan untuk membantu dalam kehidupan suci, dengan
merenungkan:”Demikianlah aku akan menghentikan perasaan lama tanpa
membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan aku
dapat hidup dalam kenyamanan.”’
6. “Ketika, [3] Brahmana, bhikkhu itu telah terkendali dalam hal makanan,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu,
tekunilah keawasan. Selama siang hari, selagi berjalan mondar-mandir dan duduk,
murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi. Selama jaga pertama malam hari, selagi berjalan
mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang
merintangi. Selama jaga pertengahan malam hari engkau harus berbaring di sisi
kanan dalam postur singa dengan satu kaki di atas kaki lainnya, penuh perhatian
dan penuh kewaspadaan, setelah mencatat dalam pikiranmu waktu untuk terjaga.
Setelah terjaga, selama jaga ke tiga malam hari, selagi berjalan mondar-mandir
dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi.’
7. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah menekuni keawasan, kemudian
Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut: ‘Marilah, Bhikkhu,
milikilah perhatian penuh dan kewaspadaan penuh. Bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika
berjalan maju dan mundur; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika melihat
ke depan dan melihat ke belakang; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika
menekuk dan meregangkan bagian-bagian tubuhmu; bertindaklah dalam kewaspadaan
penuh ketika mengenakan jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu;
bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan dan
mengecap; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika buang air besar dan buang
air kecil; bertindaklah dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri,
duduk, jatuh terlelap, terjaga, berbicara, dan berdiam diri.’
8. “Ketika, Brahmana, bhikkhu itu telah memiliki perhatian penuh dan
kewaspadaan penuh, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih lanjut:
‘Marilah, Bhikkhu, datangilah tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon,
gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, belantara, ruang
terbuka, tumpukan jerami.’
9. “Ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan … tumpukan jerami.
Ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan ia duduk
bersila, menegakkan tubuh, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan
ketamakan akan dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia
memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan
kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih
terhadap kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari
permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia
berdiam dengan pikiran yang bebas dari kelambanan dan ketumpulan,
mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan
pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan
penyesalan, ia berdiam tanpa terganggu dengan batin yang damai; ia memurnikan
pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan,
ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tanpa kebingungan sehubungan dengan
kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan. [4]
10. “Setelah
meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-sempurnaan pikiran yang melemahkan
kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari
kondisi kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama,
yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan
kenikmatan yang muncul dari keterasingan. Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan
pikiran, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri
dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan
sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi. Dengan meluruhnya
sukacita, ia berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh
kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam
dalam jhāna ke tiga yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang
menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’ Dengan
meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya dari
kegembiraan dan kesedihan, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang
memiliki bukan kesakitan juga bukan kenikmatan dan kemurnian perhatian karena keseimbangan.
11. “Ini adalah instruksiKu, Brahmana, kepada para bhikkhu yang berada
pada tahap latihan yang lebih tinggi, yang batinnya masih belum mencapai
tujuan, yang berdiam dengan bercita-cita untuk mencapai keamanan tertinggi dari
belenggu. Tetapi hal-hal ini berperan pada kediaman yang nyaman di sini dan
saat ini serta pada perhatian dan kewaspadaan penuh bagi para bhikkhu yang adalah
para Arahant dengan noda-noda telah dihancurkan, yang telah menjalani
kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan
beban, telah mencapai tujuan mereka, telah menghancurkan belenggu-belenggu
penjelmaan, dan telah terbebaskan sepenuhnya melalui pengetahuan akhir.”
[Kitab Komentar : Walaupun langkah-langkah praktik
sebelumnya adalah suatu hal yang diperlukan bagi para bhikkhu yang berlatih
untuk mencapai Kearahantaan, namun hal-hal itu juga bermanfaat bagi para
Arahant dalam hal peranannya dalam “kediaman yang nyaman di sini dan saat ini.”
Kitab Komentar mengidentifikasi “kediaman” ini
sebagai pencapaian buah Kearahantaan, dan menjelaskan bahwa beberapa Arahant
dapat memasuki buah dengan mudah pada setiap saat sementara yang lainnya harus
mengerahkan diri mereka dengan tekun untuk menjalani tahapan praktik untuk
memasuki buah.]
12. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Gaṇaka Moggallāna bertanya kepada Sang Bhagavā: “Ketika para siswa Guru Gotama
dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian, apakah mereka semuanya
mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, atau apakah beberapa di antara mereka tidak
mencapainya?”
“Ketika, Brahmana, mereka dinasihati demikian, diberikan instruksi
demikian, beberapa siswaKu mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, dan beberapa
lainnya tidak mencapainya.”
13. “Guru Gotama, karena Nibbāna ada dan jalan menuju Nibbāna ada dan
Guru Gotama juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika
para siswa Guru Gotama dinasihati demikian, diberikan instruksi demikian oleh Beliau,
beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna, tujuan tertinggi, dan beberapa
lainnya tidak mencapainya?”
14. “Sehubungan dengan hal itu, Brahmana, Aku akan mengajukan sebuah
pertanyaan kepadamu sebagai balasan. Jawablah sesuai dengan apa yang menurutmu
benar. [5] Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah engkau mengenal baik jalan
menuju Rājagaha?”
“Benar, Guru Gotama, aku mengenal baik jalan menuju Rājagaha.”
“Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seseorang yang hendak pergi ke
Rājagaha mendatangimu dan berkata: ‘Tuan, aku hendak pergi ke Rājagaha,
tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’ Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang,
Tuan, jalan ini menuju Rājagaha. Ikutilah selama beberapa saat dan engkau akan
sampai di sebuah desa tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau akan
sampai di sebuah pemukiman tertentu, jalanlah sedikit lebih jauh dan engkau
akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman, hutan, padang rumput, dan
kolam-kolam yang indah.’ Kemudian, setelah dinasihati dan diberikan instruksi
demikian olehmu, ia mengambil jalan yang salah dan pergi menuju ke barat.
Kemudian orang ke dua yang hendak pergi ke Rājagaha mendatangimu dan berkata: ‘Tuan,
aku hendak pergi ke Rājagaha, tunjukkanlah kepadaku jalan menuju Rājagaha.’
Kemudian engkau memberitahunya: ‘Sekarang, Tuan, jalan ini menuju Rājagaha.
Ikutilah selama beberapa saat … dan engkau akan sampai di Rājagaha dengan taman-taman,
hutan, padang rumput, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian, setelah dinasihati
dan diberikan instruksi demikian olehmu, ia tiba dengan selamat di Rājagaha.
Sekarang, Brahmana, karena Rājagaha ada dan jalan menuju Rājagaha ada, dan
engkau juga ada sebagai penuntun, apakah sebab dan alasan mengapa, ketika
orang-orang itu yang telah dinasihati dan diberikan instruksi demikian olehmu,
seorang mengambil jalan yang salah dan pergi ke barat dan seorang lainnya
sampai dengan selamat di Rājagaha?” [6]
“Apakah yang dapat kulakukan sehubungan dengan hal itu, Guru Gotama? Aku hanyalah seorang
yang menunjukkan jalan.”
“Demikian pula, Brahmana, Nibbāna ada, dan jalan menuju Nibbāna ada
dan Aku juga ada sebagai penuntun. Namun ketika para siswaKu telah dinasihati
dan diberikan instruksi demikian, beberapa di antara mereka mencapai Nibbāna,
tujuan Tertinggi, dan beberapa lainnya tidak mencapainya. Apakah yang dapat
Kulakukan sehubungan dengan hal itu, Brahmana? Sang Tathāgata hanyalah
seorang yang menunjukkan jalan.”
[Kitab Komentar : Maggakkhāyī Tathāgato, Sang
Tathāgata hanyalah seorang yang menunjukkan jalan. Bandingkan dengan Dhammapada
276: “Engkau
sendiri yang harus berusaha; Sang Tathāgata hanya menunjukkan jalan.”]
15. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Gaṇaka Moggallāna berkata kepada Sang Bhagavā: “Ada orang-orang yang
tidak berkeyakinan dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga
menuju kehidupan tanpa rumah bukan karena keyakinan melainkan untuk mencari
penghidupan, yang palsu, menipu,
curang, congkak, kosong, sombong, berkata-kasar, berbicara-lepas, dengan
organ-organ indria tidak terjaga, makan berlebihan, tidak menekuni keawasan,
tidak mempedulikan kehidupan pertapaan, tidak menghargai latihan, hidup dalam
kemewahan, lengah, para pemimpin dalam kemunduran, mengabaikan keterasingan,
malas, kurang gigih, tidak penuh perhatian, tidak penuh kewaspadaan, tidak
terkonsentrasi, dengan pikiran berkeliaran, hampa dari kebijaksanaan, pembual.
Guru Gotama tidak berdiam bersama dengan orang-orang ini.
[Kitab Komentar : Paragraf di atas, sama seperti dapat
kita jumpai dalam Majjhima Nikāya sutta 5 paragraf ke-32.]
“Tetapi ada anggota-anggota keluarga yang telah meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah karena
keyakinan yang tidak palsu, tidak menipu, tidak curang, tidak congkak, tidak
kosong, tidak sombong, tidak berkata-kasar, tidak berbicara-lepas; yang dengan
organ-organ indria terjaga, makan secukupnya, menekuni keawasan, memperhatikan
kehidupan pertapaan, menghargai latihan, tidak hidup dalam kemewahan atau
lengah, yang tekun menghindari kemunduran, para pemimpin dalam keterasingan,
bersemangat, bersungguh-sungguh, kokoh dalam perhatian, penuh kewaspadaan,
terkonsentrasi, dengan pikiran terpusat, memiliki kebijaksanaan, bukan pembual.
Guru Gotama berdiam bersama dengan orang-orang ini.
16. “Seperti halnya akar orris hitam diakui sebagai akar harum yang
terbaik dan cendana merah diakui sebagai kayu harum terbaik dan melati diakui
sebagai bunga harum terbaik, [7] demikian pula, nasihat Guru Gotama adalah yang
tertinggi di antara ajaran-ajaran masa kini.
[Kitab Komentar : Paramajjadhammesu, adalah yang
tertinggi di antara ajaran-ajaran masa kini. Doktrin dari Gotama adalah
yang terbaik, tertinggi, di antara ajaran-ajaran masa itu — ajaran-ajaran enam
guru lainnya. Namun, Dhamma yang ditemukan dan diutarakan oleh Buddha Gotama
adalah sama dengan Dhamma yang akan ditemukan dan dibabarkan oleh Buddha-Buddha
di masa lampau maupun di masa mendatang.]
17. “Mengagumkan,
Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma
dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik,
mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau
menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat
melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Saṅgha para bhikkhu. Sejak hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai
seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
Budayakan hidup
JUJUR dengan menghargai Jirih Payah,
Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi
Hery Shietra selaku Penulis.