Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,
Bila tidak mengonsumsi produk
bakaran tembakau,
Sekalipun mereka yang bebas
dari candu tembakau dapat hidup sehat dengan pikiran yang jernih.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak korupsi atau ikut
terlibat dalam aksi kriminal,
Sekalipun mereka yang bebas
dari sifat maupun sikap korup dapat melanjutkan hidup hingga tua.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak meminum minuman beralkohol,
Sekalipun mereka yang bebas
dari candu alkohol dapat hidup gembira dan menikmati hidupnya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memiliki pasangan
hidup ataupun anak-keturunan,
Sekalipun mereka yang bebas
dari rumah-tangga dapat hidup bahagia dalam disiplin selibat-monastik.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memiliki kekuasaan,
Sekalipun mereka yang hidup
sebagai rakyat jelata tetap dapat menghirup udara segar dan berpetualang dalam luasnya
dunia.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak merampas hak-hak maupun
kebahagiaan orang lain,
Sekalipun mereka yang bebas
dari perilaku jahat tetap dapat melanjutkan hidup dengan menjaga dan melestarikan
moralitas.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak membenamkan diri ke
dalam kenikmatan indria,
Sekalipun mereka yang hidup
terasing dari kesenangan duniawi telah ternyata mampu menemukan kebahagiaan yang
tidak berhubungan dengan indria.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak menyakiti orang lain,
Sekalipun mereka yang bebas
dari kekerasan fisik dapat melanjutkan hidupnya hingga usia tua.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak mendapatkan ketenaran
maupun pengakuan dari banyak orang,
Sekalipun mereka yang hidup
bersahaja dan sederhana tetap dapat menikmati hidupnya sekalipun terasing dari
dunia luar.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak berkata dusta,
Sekalipun mereka yang bebas
dari dusta tetap dapat berjalan tanpa diliputi oleh perasaan takut.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak menyerah pada
perasaan takut lalu bersikap reaktif,
Sekalipun mereka yang berani
menghadapi rasa takut dalam dirinya tetap dapat bertahan hidup.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak mengikuti arus,
Sekalipun mereka yang bergerak
melawan arus tetap dapat mencapai pencapaian yang gemilang.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak mengikuti kemauan
hati,
Sekalipun mereka yang terbiasa
dalam disiplin diri yang ketat bernama kendali-diri tetap dapat melangsungkan hidupnya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak mengumpulkan
segudang harta dan kekayaan,
Sekalipun mereka yang hidup sederhana
tetap dapat menikmati hidupnya hingga lanjut usia.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak mewariskan segudang
harta kepada ahli waris Anda,
Sekalipun mereka yang hanya
dapat mewariskan teladan hidup serta moralitas tetap dapat mempertahankan
generasi penerusnya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak selalu menuruti keinginan
orang lain dan membiarkan diri dimanipulasi,
Sekalipun mereka yang berani dengan
tegas menolak dan berkata “tidak” tetap dapat dihormati dan dihargai.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memakan makanan yang
mewah,
Sekalipun mereka yang hanya
memakan makanan yang sederhana dan secukupnya tetap dapat melanjutkan aktivitas
kesehariannya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memiliki serangkaian
pendidikan formal,
Sekalipun mereka yang hanya
belajar secara informal maupun otodidak tetap dapat berkarya serta menghasilkan
karya-karya cerdas.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak bekerja keras hingga
taraf menyakiti diri sendiri,
Sekalipun mereka yang bekerja
cerdas dapat mencapai hasil yang dituju tanpa merusak diri sendiri.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memiliki banyak pengikut,
Sekalipun mereka yang hidup
soliter tetap dapat melanjutkan perjalanan hidupnya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak menikmati seluruh
tempat hiburan yang ditawarkan oleh dunia,
Sekalipun mereka yang membatasi
keinginannya tetap dapat mengeksplorasi potensi internal dirinya sendiri.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak membalas-dendam,
Sekalipun mereka yang tidak
pernah mendapatkan keadilan telah ternyata tetap dapat melanjutkan hidup dengan
baik sebagai secara membalas-dendam terbaik.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memiliki banyak
teman dan kawan,
Sekalipun mereka yang mampu memiliki
dirinya sendiri sebagai satu-satunya kawan dapat hidup tanpa rasa bosan
sekalipun seorang diri dan sebatang kara.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak menyelesaikan setiap
masalah dengan kekerasan fisik,
Sekalipun mereka yang hidup
tanpa kekerasan tetap dapat melanjutkan hidupnya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memiliki wajah yang rupawan,
Sekalipun mereka yang tidak
memiliki tubuh yang rupawan tetap dapat dikagumi oleh berbagai prestasi ataupun
karya gemilangnya yang patut dikagumi.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak menyembah Tuhan,
Sekalipun mereka yang hidup
dengan menghindari perbuatan buruk dan rajin melakukan kebajikan tetap masuk
surga.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak hidup penuh sensasi,
Sekalipun mereka yang hidup
monoton dan introvert tetap dapat merasa bahagia dan menikmati kesendirian
maupun berwisata di dalam kediamannya sendiri.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak diramalkan akan
panjang umur,
Sekalipun mereka yang hidup dalam
ketidakpastian hidup tetap melanjutkan hidupnya tanpa gentar.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak menggadaikan jiwa Anda
kepada Tuhan Sang Pencipta,
Sekalipun Sang Buddha berjuang
melawan arus dan memutus siklus penjelmaan.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engkau bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak memakai topeng,
Sekalipun mereka yang bersikap
apa adanya tetap dapat melanjutkan hidup sesuai aspirasinya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
Ketika engka bersikap seolah-olah
akan mati,
Bila tidak dimengerti oleh
orang lain,
Sekalipun mereka yang tidak pernah
mengemis minta dipahami oleh orang lain tetap dapat memiliki martabat dan
harkatnya.
Itulah yang disebut sebagai “delusi”.
© Hak Cipta HERY SHIETRA.
