Jangan Bersikap Seolah-Olah Anda akan Mati Bila Hidup secara Tidak Konvensional

HERY SHIETRA, Jangan Bersikap Seolah-Olah Anda akan Mati Bila Hidup secara Tidak Konvensional

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak mengonsumsi produk bakaran tembakau,

Sekalipun mereka yang bebas dari candu tembakau dapat hidup sehat dengan pikiran yang jernih.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak korupsi atau ikut terlibat dalam aksi kriminal,

Sekalipun mereka yang bebas dari sifat maupun sikap korup dapat melanjutkan hidup hingga tua.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak meminum minuman beralkohol,

Sekalipun mereka yang bebas dari candu alkohol dapat hidup gembira dan menikmati hidupnya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memiliki pasangan hidup ataupun anak-keturunan,

Sekalipun mereka yang bebas dari rumah-tangga dapat hidup bahagia dalam disiplin selibat-monastik.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memiliki kekuasaan,

Sekalipun mereka yang hidup sebagai rakyat jelata tetap dapat menghirup udara segar dan berpetualang dalam luasnya dunia.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak merampas hak-hak maupun kebahagiaan orang lain,

Sekalipun mereka yang bebas dari perilaku jahat tetap dapat melanjutkan hidup dengan menjaga dan melestarikan moralitas.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak membenamkan diri ke dalam kenikmatan indria,

Sekalipun mereka yang hidup terasing dari kesenangan duniawi telah ternyata mampu menemukan kebahagiaan yang tidak berhubungan dengan indria.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak menyakiti orang lain,

Sekalipun mereka yang bebas dari kekerasan fisik dapat melanjutkan hidupnya hingga usia tua.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak mendapatkan ketenaran maupun pengakuan dari banyak orang,

Sekalipun mereka yang hidup bersahaja dan sederhana tetap dapat menikmati hidupnya sekalipun terasing dari dunia luar.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak berkata dusta,

Sekalipun mereka yang bebas dari dusta tetap dapat berjalan tanpa diliputi oleh perasaan takut.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak menyerah pada perasaan takut lalu bersikap reaktif,

Sekalipun mereka yang berani menghadapi rasa takut dalam dirinya tetap dapat bertahan hidup.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak mengikuti arus,

Sekalipun mereka yang bergerak melawan arus tetap dapat mencapai pencapaian yang gemilang.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak mengikuti kemauan hati,

Sekalipun mereka yang terbiasa dalam disiplin diri yang ketat bernama kendali-diri tetap dapat melangsungkan hidupnya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak mengumpulkan segudang harta dan kekayaan,

Sekalipun mereka yang hidup sederhana tetap dapat menikmati hidupnya hingga lanjut usia.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak mewariskan segudang harta kepada ahli waris Anda,

Sekalipun mereka yang hanya dapat mewariskan teladan hidup serta moralitas tetap dapat mempertahankan generasi penerusnya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak selalu menuruti keinginan orang lain dan membiarkan diri dimanipulasi,

Sekalipun mereka yang berani dengan tegas menolak dan berkata “tidak” tetap dapat dihormati dan dihargai.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memakan makanan yang mewah,

Sekalipun mereka yang hanya memakan makanan yang sederhana dan secukupnya tetap dapat melanjutkan aktivitas kesehariannya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memiliki serangkaian pendidikan formal,

Sekalipun mereka yang hanya belajar secara informal maupun otodidak tetap dapat berkarya serta menghasilkan karya-karya cerdas.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak bekerja keras hingga taraf menyakiti diri sendiri,

Sekalipun mereka yang bekerja cerdas dapat mencapai hasil yang dituju tanpa merusak diri sendiri.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memiliki banyak pengikut,

Sekalipun mereka yang hidup soliter tetap dapat melanjutkan perjalanan hidupnya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak menikmati seluruh tempat hiburan yang ditawarkan oleh dunia,

Sekalipun mereka yang membatasi keinginannya tetap dapat mengeksplorasi potensi internal dirinya sendiri.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak membalas-dendam,

Sekalipun mereka yang tidak pernah mendapatkan keadilan telah ternyata tetap dapat melanjutkan hidup dengan baik sebagai secara membalas-dendam terbaik.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memiliki banyak teman dan kawan,

Sekalipun mereka yang mampu memiliki dirinya sendiri sebagai satu-satunya kawan dapat hidup tanpa rasa bosan sekalipun seorang diri dan sebatang kara.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak menyelesaikan setiap masalah dengan kekerasan fisik,

Sekalipun mereka yang hidup tanpa kekerasan tetap dapat melanjutkan hidupnya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memiliki wajah yang rupawan,

Sekalipun mereka yang tidak memiliki tubuh yang rupawan tetap dapat dikagumi oleh berbagai prestasi ataupun karya gemilangnya yang patut dikagumi.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak menyembah Tuhan,

Sekalipun mereka yang hidup dengan menghindari perbuatan buruk dan rajin melakukan kebajikan tetap masuk surga.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak hidup penuh sensasi,

Sekalipun mereka yang hidup monoton dan introvert tetap dapat merasa bahagia dan menikmati kesendirian maupun berwisata di dalam kediamannya sendiri.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak diramalkan akan panjang umur,

Sekalipun mereka yang hidup dalam ketidakpastian hidup tetap melanjutkan hidupnya tanpa gentar.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak menggadaikan jiwa Anda kepada Tuhan Sang Pencipta,

Sekalipun Sang Buddha berjuang melawan arus dan memutus siklus penjelmaan.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engkau bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak memakai topeng,

Sekalipun mereka yang bersikap apa adanya tetap dapat melanjutkan hidup sesuai aspirasinya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

Ketika engka bersikap seolah-olah akan mati,

Bila tidak dimengerti oleh orang lain,

Sekalipun mereka yang tidak pernah mengemis minta dipahami oleh orang lain tetap dapat memiliki martabat dan harkatnya.

Itulah yang disebut sebagai “delusi”.

© Hak Cipta HERY SHIETRA.