“Dengan meninggalkan ketamakan terhadap dunia, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih demi kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian.” [SANG BUDDHA]
Question : Mengapa terdapat kesan, di mata umat agama samawi, manusia yang berbahaya dan patut mereka perangi serta musuhi, bahkan punahkan, ialah kaum “non-agama samawi”? Bukankah yang paling membawa ancaman serta berbahaya, ialah orang-orang yang tidak takut berbuat kejahatan alias sesama umat agama samawi itu sendiri yang setiap harinya kecanduan ritual doa “penghapusan dosa”?
Brief
Answer : Dalam Buddhisme, yang
paling patut kita waspadai ialah kekotoran-batin, baik kekotoran-batin yang
bersarang dalam diri sendiri maupun kekotoran-batin yang bersarang dalam diri
orang lain, karena kekotoran-batinlah yang memiliki potensi-laten membuat
seseorang mencelakai dirinya sendiri maupun mencelakai orang lain. Yang paling
mengherankan ialah, umat agama samawi nyata-nyata merupakan pendosa
pecandu-berat dogma korup bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”,
namun berdelusi sebagai kaum superior yang memonopoli alam surgawi, serta
merasa berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya. Itu ibarat orang buta
yang hendak menuntun serombongan butawan lainnya, neraka pun dipandang sebagai
surga dan berbondong-bondong mereka terperosok ke dalam jurang gelap tersebut.
PEMBAHASAN:
Sejatinya, yang
paling patut diwaspadai oleh umat agama samawi, ialah sesama umat agama samawi.
Ketika mereka menjadi korban karena disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh
sesama umat agama samawi, maka pelakunya akan ritual doa “PENGHAPUSAN /
PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of sins) alih-alih sibuk
bertanggung-jawab kepada para korbannya, dimana sang korban hanya bisa
“gigit-jari”, mengingat Allah telah ternyata lebih PRO alias lebih berpihak
terhadap “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih
Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Bayangkan
ketika umat agama samawi, disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh “nabi rasul
Allah” yang menjadi junjungan mereka, atau bilamana pelaku yang menyakiti,
merugikan, ataupun melukai mereka meniru teladan sang “nabi rasul Allah”, yakni
bersikap kompromistik terhadap dosa dan maksiat, tidak malu dan tidak takut
menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak lainnya, tidak terkecuali terhadap
sesama umat agama samawi, maka Allah akan merampas hak korban atas keadilan,
sekalipun korbannya ialah sesama umat agama samawi, sehingga adalah percuma
mengadu / melapor kepada Allah. Perhatikan apa yang menjadi “standar moral”
umat agama samawi—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]
Berkebalikan dengan ajaran agama samawi, Sang Buddha mengajarkan bahwa dengan
meninggalkan ketamakan terhadap dunia, kita berdiam dengan pikiran bebas dari
ketamakan; memurnikan pikiran dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan
dan kebencian, kita berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas
kasih demi kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; memurnikan pikirannya dari
permusuhan dan kebencian. Selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 125 ~
Dantabhūmi
Sutta : Tingkatan Kejinakan
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Rājagaha di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.
2. Pada saat itu Samaṇera Aciravata sedang menetap di sebuah gubuk hutan.
Kemudian Pangeran Jayasena, sewaktu berjalan-jalan untuk berolah-raga,
mendatangi Samaṇera Aciravata dan saling bertukar sapa dengannya.
Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Samaṇera Aciravata: “Guru Aggivessana, aku telah mendengar bahwa seorang
bhikkhu yang
berdiam di sini yang rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dapat mencapai
keterpusatan pikiran.”
[Kitab Komentar mengidentifikasikan Pangeran
Jayasena sebagai seorang putera Raja Bimbisāra.]
“Demikianlah, Pangeran, demikianlah. Seorang bhikkhu yang berdiam di sini
yang rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dapat mencapai keterpusatan pikiran.”
3. “Baik sekali jika Guru Aggivessana dapat mengajarkan kepadaku Dhamma
seperti yang telah ia dengar dan kuasai.”
“Aku tidak dapat mengajarkan Dhamma kepadamu, Pangeran, seperti yang
kudengar dan kukuasai. Karena jika aku mengajarkan Dhamma kepadamu seperti yang
kudengar dan kukuasai, engkau tidak dapat memahami kata-kataku, dan hal itu akan
melelahkan dan merepotkan aku.” [129]
4. “Sudilah Guru Aggivessana mengajarkan kepadaku Dhamma seperti yang
telah ia dengar dan kuasai. Mungkin aku dapat memahami makna dari
kata-katanya.”
“Aku akan mengajarkan Dhamma kepadamu, Pangeran, seperti yang kudengar
dan kukuasai. Jika engkau dapat memahami makna dari kata-kataku, maka itu
bagus. Tetapi jika engkau tidak dapat memahami maknanya, maka biarkanlah demikian
dan jangan bertanya kepadaku lebih lanjut.”
“Sudilah Guru Aggivessana mengajarkan kepadaku Dhamma seperti yang telah
ia dengar dan kuasai. Jika aku dapat memahami makna dari kata-katanya, maka itu
bagus. Tetapi jika aku tidak dapat memahami maknanya, maka aku akan membiarkannya
demikian dan aku tidak akan bertanya kepadanya lebih lanjut.”
5. Kemudian Samaṇera Aciravata mengajarkan Dhamma kepada Pangeran
Jayasena seperti yang ia dengar dan ia kuasai. Setelah ia selesai berbicara,
Pangeran Jayasena berkata: “Mustahil, Guru Aggivessana, tidak mungkin terjadi
bahwa seorang bhikkhu yang
berdiam dengan rajin, tekun, dan bersungguh-sungguh dapat mencapai keterpusatan
pikiran.”
Kemudian setelah menyatakan kepada Samaṇera Aciravata bahwa hal ini mustahil dan tidak mungkin terjadi, Pangeran Jayasena
bangkit dari duduknya dan pergi.
6. Segera setelah Pangeran Jayasena pergi, Samaṇera Aciravata menghadap Sang Bhagavā. Setelah bersujud kepada Sang
Bhagavā, ia duduk di satu sisi dan melaporkan kepada Sang Bhagavā tentang
keseluruhan percakapannya dengan Pangeran Jayasena. Ketika ia telah selesai,
Sang Bhagavā berkata kepadanya:
7. “Aggivessana,
bagaimana mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah
kenikmatan indria, menikmati kenikmatan indria, dimangsa oleh pikiran
kenikmatan indria, ditelan oleh pikiran kenikmatan indria, cenderung mencari kenikmatan
indria, [130] dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui
melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui
pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian? Itu adalah tidak
mungkin.
8. “Misalkan,1175 Aggivessana, terdapat dua ekor gajah, kuda, atau sapi
yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, dan dua ekor gajah, kuda,
atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak disiplin. Bagaimana
menurutmu, Aggivessana? Apakah kedua ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat
dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, karena jinak, memiliki perilaku yang jinak,
apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak?” - “Benar, Yang Mulia.” – “Tetapi Apakah kedua
ekor gajah, kuda, atau sapi yang dapat dijinakkan yang tidak jinak dan tidak
disiplin, karena tidak jinak, dapat memiliki perilaku yang jinak, apakah mereka
akan sampai pada tingkat yang jinak, seperti dua ekor gajah, kuda, atau sapi
yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin?” – “Tidak, Yang Mulia.” – “Demikian pula, Aggivessana, adalah
tidak mungkin bahwa Pangeran Jayasena, yang hidup di tengah-tengah kenikmatan
indria ... dapat mengetahui, melihat, atau menembus apa yang harus diketahui
melalui pelepasan keduniawian, dilihat melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui
pelepasan keduniawian, ditembus melalui pelepasan keduniawian.
9. “Misalkan,
Aggivessana, terdapat sebuah gunung tinggi tidak jauh dari sebuah desa atau
pemukiman, dan dua sahabat meninggalkan desa atau pemukiman itu dan
bersama-sama pergi mendatangi gunung itu. Setelah sampai di sana, salah satu sahabat
tetap berada di kaki gunung sementara yang lainnya akan mendaki ke puncak
gunung. Kemudian sahabat yang berada di kaki gunung akan berkata kepada sahabat
yang berdiri di puncak gunung: ‘Sahabat, apakah yang engkau lihat, dengan berdiri
di puncak gunung?’ Dan yang lainnya menjawab: ‘Dengan berdiri di puncak gunung,
Sahabat, aku melihat taman-taman yang indah, semak belukar yang indah, padang
rumput-padang rumput yang indah, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian sahabat
pertama berkata: ‘Mustahil, [131] Sahabat, tidak mungkin terjadi bahwa dengan
berdiri di puncak gunung engkau dapat melihat taman-taman yang indah, semak
belukar yang indah, padang rumput-padang rumput yang indah, dan kolam-kolam yang
indah.’
“Kemudian
sahabat ke dua turun ke kaki gunung, menarik tangan sahabatnya, dan mendaki ke
puncak gunung. Setelah memberinya beberapa saat untuk menarik nafas, ia
bertanya: ‘Baiklah, Sahabat, dengan berdiri di puncak gunung, apakah yang
engkau lihat?’ Dan sahabatnya menjawab: ‘Dengan berdiri di puncak gunung,
Sahabat, aku melihat taman-taman yang indah, semak belukar yang indah, padang
rumput-padang rumput yang indah, dan kolam-kolam yang indah.’ Kemudian yang
lain berkata: ‘Sahabat, baru saja tadi kami mendengar engkau berkata:
“Mustahil, Sahabat, tidak mungkin terjadi bahwa dengan berdiri di puncak gunung
engkau dapat melihat taman-taman yang indah ... kolam-kolam yang indah.”’
Kemudian sahabat pertama menjawab: ‘Karena aku terhalang oleh gunung tinggi
ini, aku tidak melihat apa yang terlihat di sana.’
10. “Demikian
pula, Aggivessana, Pangeran Jayasena dihalangi, dirintangi, diblokir, dan
diselimuti oleh kumpulan yang lebih besar daripada ini – kumpulan
ketidak-tahuan. Dengan demikian adalah tidak mungkin bahwa Pangeran Jayasena,
yang hidup di tengah-tengah kenikmatan indria ... dapat mengetahui, melihat,
atau menembus apa yang harus diketahui melalui pelepasan keduniawian, dilihat
melalui pelepasan keduniawian, dicapai melalui pelepasan keduniawian, ditembus
melalui pelepasan keduniawian.
11. “Aggivessana, jika kedua perumpamaan ini telah terpikirkan olehmu
[sehubungan] dengan Pangeran jayasena, maka ia akan secara spontan berkeyakinan
padamu, dan karena berkeyakinan, maka ia akan memperlihatkan keyakinannya kepadamu.”
“Yang Mulia, bagaimana mungkin kedua perumpamaan ini terpikirkan olehku
[sehubungan] dengan Pangeran Jayasena seperti terpikirkan oleh Sang Bhagavā,
karena kedua perumpamaan ini muncul secara spontan dan belum pernah terdengar
sebelumnya?”
[132] 12. “Misalkan, Aggivessana, seorang raja mulia yang sah berkata
kepada pemburu gajahnya sebagai berikut: ‘Pemburu gajah, tunggangilah gajah
raja, pergilah ke hutan gajah, dan ketika engkau melihat seekor gajah hutan,
ikatlah gajah itu di lehernya pada gajah raja.’ Setelah menjawab ‘Baik,
Baginda,’ pemburu gajah itu menunggangi gajah raja, pergi ke hutan gajah, dan ketika
ia melihat seekor gajah hutan, ia mengikat gajah itu di lehernya pada gajah
raja. Gajah raja menuntunnya menuju ruang terbuka. Dengan cara inilah gajah
hutan itu keluar ke ruang terbuka; karena gajah hutan itu melekat pada hutan
gajah.
“Kemudian pemburu gajah itu memberitahu raja: ‘Baginda, gajah hutan telah
keluar ke ruang terbuka.’ Raja memanggil penjinak gajah sebagai berikut:
‘Pergilah, Penjinak-gajah, jinakkan gajah hutan itu, tundukkanlah
kebiasaan-kebiasaan hutannya, taklukkanlah ingatan-ingatan dan
kehendak-kehendak hutannya, hilangkanlah kesedihan, keletihan, dan demam karena
meninggalkan hutan. Buatlah agar gajah itu senang di kota, tanamkan padanya
kebiasaan-kebiasaan yang disenangi manusia.’ Setelah menjawab ‘Baik, Baginda,’
penjinak gajah itu menanam sebuah tiang besar di tanah dan mengikat gajah hutan
itu pada tiang itu di lehernya untuk menundukkan kebiasaan-kebiasaan hutannya
... dan untuk menanamkan padanya kebiasaan-kebiasaan yang disenangi manusia.
“Kemudian si penjinak gajah berkata kepada gajah itu dengan kata-kata
yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk dalam batin,
sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Ketika gajah hutan
itu [133] mendengar kata-kata demikian, ia mendengarkan, menyimak dan mengarahkan
pikirannya untuk memahami. Si penjinak gajah selanjutnya memberinya hadiah
berupa makanan dan air. Ketika gajah hutan itu menerima makanan dan air
darinya, penjinak gajah itu mengetahui: ‘Sekarang gajah raja ini akan hidup!’
“Kemudian si penjinak gajah melatih gajah itu lebih jauh lagi sebagai
berikut: ‘Angkat, turunkan!’ Ketika gajah raja itu mematuhi perintah si
penjinaknya untuk mengangkat dan menurunkan dan melaksanakan instruksinya, si
penjinak gajah melatihnya lebih jauh sebagai berikut: ‘Maju, mundur!’ Ketika gajah
raja itu mematuhi perintah si penjinaknya untuk berjalan maju dan mundur dan
melaksanakan instruksinya, si penjinak gajah melatihnya lebih jauh sebagai
berikut: ‘Berdiri, duduk!’ Ketika gajah raja itu mematuhi perintah si
penjinaknya untuk berdiri dan duduk dan melaksanakan instruksinya, si penjinak gajah
melatihnya lebih jauh dalam tugas yang disebut ketanpa-gangguan. Ia mengikatkan sebilah papan besar pada
belalainya; seorang laki-laki dengan tombak di tangan duduk di lehernya; orang-orang
dengan tombak di tangan mengelilinginya di segala sisi; dan si penjinak gajah
berdiri di depannya dengan memegang tombak panjang. Ketika gajah itu sedang
dilatih dalam tugas ketanpa-gangguan, ia tidak menggerakkan kaki depan atau kaki belakangnya;
ia tidak menggerakkan bagian tubuh depan atau belakangnya; ia tidak
menggerakkan kepalanya, telinganya, gadingnya, ekornya, atau belalainya. Gajah
raja itu mampu menahankan serangan tombak, serangan pedang, serangan anak
panah, serangan dari makhluk lain, dan gelegar suara tambur, genderang dan
terumpet. Karena bebas dari segala cacat dan kekurangan, bersih dari kerusakan,
ia layak menjadi gajah raja, layak melayani raja, dianggap sebagai salah satu
faktor seorang raja. [134]
13-14. “Demikian pula Aggivessana, seorang
Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam
pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang
tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan. Beliau menyatakan dunia ini bersama para dewa,
Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para
pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh dirinya sendiri dengan
pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal,
indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan kata-kata yang
benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna
sepenuhnya.
“Seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga atau seorang yang
terlahir dari beberapa suku lainnya mendengarkan Dhamma itu. Ketika
mendengarkan Dhamma itu ia
memperoleh keyakinan dalam
Sang Tathāgata. Dengan
memiliki keyakinan itu, ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga ramai dan
berdebu; kehidupan lepas dari keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi
hidup dalam sebuah keluarga, juga menjalani kehidupan suci yang murni dan
sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut
dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Kemudian pada kesempatan
lain, dengan
meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang
banyak atau sedikit, ia
mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah. Adalah dengan cara ini
seorang siswa mulia keluar ke ruang terbuka; karena para dewa dan manusia
melekat pada kelima utas kenikmatan indria.
15. “Kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
jadilah bermoral, terkendali dengan pengendalian Pāṭimokkha, sempurna dalam
perbuatan dan tempat-tempat yang dikunjungi, dan melihat dengan takut pada pelanggaran
sekecil apapun, terlatih oleh peraturan-peraturan latihan.’
16. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menjadi bermoral ... dan
melihat dengan takut pada pelanggaran sekecil apapun, terlatih dengan
menjalankan peraturan-peraturan latihan, kemudian Sang Tathāgata
mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah,
Bhikkhu, jagalah pintu-pintu indriamu. Ketika melihat bentuk dengan mata,
jangan menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan
indria mata tanpa terjaga, kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa
ketamakan dan kesedihan dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendaliannya,
jagalah indria mata, jalankanlah pengendalian indria mata. Ketika mendengar
suara dengan telinga ... Ketika mencium bau-bauan dengan hidung ... Ketika
mengecap rasa dengan lidah ... Ketika menyentuh objek-sentuhan dengan badan ...
Ketika mengenali objek-pikiran dengan pikiran, jangan menggenggam gambaran dan
ciri-cirinya. Karena jika engkau membiarkan indria pikiran tanpa terjaga,
kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan
dapat menyerangmu, latihlah jalan pengendalian, jagalah indria pikiran, jalankanlah
pengendalian indria pikiran.’
17. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menjaga pintu-pintu indrianya,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
makanlah secukupnya. Dengan merenungkan dengan bijaksana, seorang siswa mulia
memakan makanan bukan untuk kenikmatan juga bukan untuk mabuk juga bukan demi
kecantikan dan kemenarikan fisik, tetapi hanya untuk ketahanan dan kelangsungan
tubuh ini, untuk mengakhiri ketidak-nyamanan, untuk menunjang kehidupan suci,
dengan mempertimbangkan: “Dengan demikian aku akan mengakhiri perasaan lama
tanpa membangkitkan perasaan baru dan aku akan menjadi sehat dan tanpa cela dan
dapat hidup dalam kenyamanan.”’
18. “Ketika, [135] Aggivessana, siswa mulia itu telah menjalani praktik
makan secukupnya, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
tekunilah keawasan. Selama siang hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk,
murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertama
malam hari, sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari
kondisi-kondisi yang merintangi. Pada jaga pertengahan malam hari engkau harus
berbaring di sisi kanan dalam postur singa, dengan satu kaki di atas kaki
lainnya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, setelah mencatat dalam
pikirannya waktu untuk terjaga. Setelah terjaga, pada jaga ke tiga malam hari,
sambil berjalan mondar-mandir dan duduk, murnikanlah pikiranmu dari kondisi-kondisi
yang merintangi.’
19. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah menekuni keawasan,
kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu,
milikilah perhatian dan kewaspadaan penuh. Bertindaklah dengan penuh
kewaspadaan ketika berjalan maju dan mundur ... ketika melihat ke depan dan ke
belakang ... ketika menekuk dan merentangkan bagian-bagian tubuh ... ketika mengenakan
jubah dan membawa jubah luar dan mangkukmu ... ketika makan, minum, mengunyah
makanan, dan mengecap ... ketika buang air besar dan buang air kecil ... ketika
berjalan, berdiri, duduk, jatuh terlelap, terjaga, berbicara, dan berdiam
diri.’
20. “Ketika, Aggivessana, siswa mulia itu telah memiliki perhatian dan
kewaspadaan penuh, kemudian Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah,
Bhikkhu, datangilah tempat tinggal terasing: hutan, bawah pohon, gunung,
jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, belantara, ruang terbuka, tumpukan
jerami.’
21. “Ia mendatangi tempat tinggal terasing: hutan ... tumpukan jerami.
Ketika kembali dari perjalanan menerima dana makanan, setelah makan ia duduk
bersila, menegakkan tubuhnya, dan menegakkan perhatian di depannya. Dengan meninggalkan ketamakan
terhadap dunia, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketamakan; ia memurnikan
pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia
berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih demi kesejahteraan
makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian.
Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan bebas dari kelambanan
dan ketumpulan, mempersepsikan cahaya, penuh perhatian, dan penuh kewaspadaan;
ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan
dan penyesalan, ia berdiam dengan tanpa terganggu dengan pikiran yang damai; ia
memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. [136] Dengan
meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, kebingungan
sehubungan dengan kondisi-kondisi yang bermanfaat; ia memurnikan pikirannya
dari keragu-raguan.
22. “Setelah
meninggalkan kelima rintangan, ketidak-sempurnaan pikiran ini yang melemahkan
kebijaksanaan, ia berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh
kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan
sehubungan dengan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan
... pikiran sebagai pikiran ... objek-objek pikiran sebagai objek-objek
pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan
ketamakan dan kesedihan sehubungan dengan dunia.
[Kitab Komentar : Perumpamaan seperti pada Majjhima
Nikāya 90, Kaṇṇakatthala Sutta, dengan kutipan sebagai berikut:
11. “Ada empat kasta ini, Yang Mulia: para mulia,
para brahmana, para pedagang, [129] dan para pekerja. Sekarang jika mereka
memiliki kelima faktor usaha ini, apakah ada perbedaan di antara mereka?”
“Di sini, Baginda, Aku katakan bahwa perbedaan di
antara mereka terletak pada keberagaman usaha mereka. Misalkan terdapat dua
ekor gajah yang dapat dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang
dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, dan dua ekor gajah yang dapat
dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang
tidak jinak dan tidak disiplin. Bagaimana menurutmu, Baginda? Apakah kedua ekor
gajah yang dapat dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang
dapat dijinakkan yang telah jinak dan disiplin, karena jinak, memiliki perilaku
yang jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat yang jinak?”
“Benar, Yang Mulia.”
“Dan apakah kedua ekor gajah yang dapat
dijinakkan atau kuda yang dapat dijinakkan atau sapi yang dapat dijinakkan yang
tidak jinak dan tidak disiplin, karena tidak jinak, dapat memiliki perilaku
yang jinak, apakah mereka akan sampai pada tingkat jinak seperti kedua ekor
gajah atau kedua ekor kuda atau sapi yang dapat dijinakkan yang telah jinak dan
disiplin?”
“Tidak, Yang Mulia.”
“Demikian pula, Baginda, tidaklah mungkin bahwa
apa yang dapat dicapai oleh seseorang yang memiliki keyakinan, yang bebas dari
penyakit, yang jujur dan tulus, yang bersemangat, dan yang bijaksana, dapat
dicapai oleh seseorang yang tidak memiliki keyakinan, yang memiliki penyakit,
yang curang dan penuh muslihat, yang malas, dan yang tidak bijaksana.”]
23. “Seperti halnya, Aggivessana, penjinak gajah yang menanam sebuah
tiang besar di tanah dan mengikatkan leher gajah hutan pada tiang itu untuk
menundukkan kebiasaan-kebiasaan hutannya ... dan untuk menanamkan padanya kebiasaan-kebiasaan
yang disenangi manusia, demikian pula empat landasan perhatian ini adalah
pengikat pikiran siswa mulia itu untuk menundukkan kebiasaan-kebiasaannya yang berdasarkan
pada kehidupan rumah tangga, untuk menaklukkan ingatan-ingatan dan
kehendak-kehendak yang berdasarkan pada kehidupan rumah tangga, untuk
menghilangkan kesedihan, keletihan, dan demam yang berdasarkan pada kehidupan
rumah tangga, dan agar ia dapat mencapai jalan sejati dan mencapai Nibbāna.
24. “Kemudian
Sang Tathāgata mendisiplinkannya lebih jauh: ‘Marilah, Bhikkhu, berdiamlah
dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tetapi jangan memikirkan
pikiran-pikiran keinginan indria. Berdiamlah dengan merenungkan perasaan sebagai
perasaan, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan indria. Berdiamlah
dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tetapi jangan memikirkan
pikiran-pikiran keinginan indria. Berdiamlah dengan merenungkan objek-objek
pikiran sebagai objek-objek pikiran, tetapi jangan memikirkan pikiran-pikiran keinginan
indria.’
[Kitab Komentar : Perhatikan bahwa di sini empat
landasan perhatian dijelaskan di tempat yang biasanya ditempati oleh empat
jhāna.]
25. “Dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, ia masuk
dan berdiam dalam jhāna ke dua ... Dengan meluruhnya sukacita ... ia masuk dan
berdiam dalam jhāna ke tiga ... Dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan
... ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat.
26. “Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat
banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran,
empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga
puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus
kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa
penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa
penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu,
dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan
kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari
sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku
itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman
kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan
meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan
segala aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau.
27. “Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali
makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang
berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia,
keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan
mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam
kondisi buruk, di alam rendah, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka;
tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan
pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak
pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah
kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga.’
Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, ia melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk
berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.
28. “Ketika
pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari
ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan,
ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah
asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya
penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju
lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’;
ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami
sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana
adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’
29. “Ketika
ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan
indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan
muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah
dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah
dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’
30. “Bhikkhu
itu mampu menahankan dingin dan panas, lapar dan haus, dan kontak dengan lalat,
nyamuk, angin, matahari, dan binatang-binatang melata; ia mampu menahankan
ucapan-kasar, kata-kata yang tidak menyenangkan dan perasaan [137] jasmani yang
telah muncul yang menyakitkan, menyiksa, tajam, menusuk, tidak menyenangkan,
menyusahkan, dan mengancam kehidupan. Karena bebas dari segala nafsu, kebencian,
dan delusi, bersih dari kerusakan, ia menjadi layak menerima pemberian, layak menerima
keramahan, layak menerima persembahan, layak menerima penghormatan, suatu lahan
jasa yang tiada taranya bagi dunia.
31. “Jika,
Aggivessana, gajah raja itu mati di usia tua dalam keadaan tidak jinak dan
tidak disiplin, maka ia dianggap sebagai seekor gajah tua yang mengalami
kematian yang tidak jinak. Jika gajah raja itu mati di usia pertengahan dalam
keadaan tidak jinak dan tidak disiplin, maka ia dianggap sebagai seekor gajah
usia pertengahan yang mengalami kematian yang tidak jinak. Jika gajah raja itu
mati di usia muda dalam keadaan tidak jinak dan tidak disiplin, maka ia
dianggap sebagai seekor gajah muda yang mengalami kematian yang tidak jinak.
Demikian pula, Aggivessana, jika seorang bhikkhu tua mati dengan noda-nodanya belum
dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu tua yang mengalami
kematian yang tidak jinak. Jika seorang bhikkhu berstatus menengah mati dengan
noda-nodanya belum dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu
berstatus menengah yang mengalami kematian yang tidak jinak. Jika seorang
bhikkhu yang baru ditahbiskan mati dengan noda-nodanya belum dihancurkan, maka
ia dianggap sebagai seorang bhikkhu yang baru ditahbiskan yang mengalami kematian
yang tidak jinak.
32. “Jika,
Aggivessana, gajah raja itu mati di usia tua dalam keadaan jinak dan disiplin,
maka ia dianggap sebagai seekor gajah tua yang mengalami kematian yang jinak.
Jika gajah raja itu mati di usia pertengahan dalam keadaan jinak dan disiplin,
maka ia dianggap sebagai seekor gajah usia pertengahan yang mengalami kematian
yang jinak. Jika gajah raja itu mati di usia muda dalam keadaan jinak dan
disiplin, maka ia dianggap sebagai seekor gajah muda yang mengalami kematian
yang jinak. Demikian pula, Aggivessana, jika seorang bhikkhu tua mati dengan
noda-nodanya telah dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang bhikkhu tua
yang mengalami kematian yang jinak. Jika seorang bhikkhu berstatus menengah
mati dengan noda-nodanya telah dihancurkan, maka ia dianggap sebagai seorang
bhikkhu berstatus menengah yang mengalami kematian yang jinak. Jika seorang
bhikkhu yang baru ditahbiskan mati dengan noda-nodanya telah dihancurkan, maka
ia dianggap sebagai seorang bhikkhu yang baru ditahbiskan yang mengalami kematian
yang jinak.”
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Samaṇera Aciravata merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.