Yang Belum Meninggalkan Perbuatan Dosa namun Kecanduan Ritual “PENGHAPUSAN
DOSA”, artinya BELUM TOBAT, justru Kian Parah dengan Menjelma KORUPTOR-DOSA
dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi
Orang Indonesia Mayoritas Beragama Islam, namun Islam Versi FANTASI
Question : Apakah benar, menurut islam adalah dosa adanya melakukan pencemaran ataupun perusakan terhadap lingkungan hidup semisal dengan melakukan penambangan maupun penggalian yang merusak ekosistem maupun habitat alami flora dan fauna?
Brief
Answer : Merujuk Hadis Sahih
Muslim No. 4852 : “Dan
barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi
tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.” Artinya, sekalipun meledakkan dunia ini hingga berkeping-keping
sekalipun, dosa sebesar itu tetap akan dihapus lewat ritual penghapusan-dosa.
Sehingga, ketika ada umat muslim yang sesumbar bahwa islam melarang manusia
untuk merusak lingkungan hidup, itulah bukti bahwa mayoritas umat muslim di
Indonesia merupakan pemeluk agama “islam versi FANTASI”..
PEMBAHASAN:
Yang
disebut “taubat / tobat”, ialah artinya meninggalkan perbuatan yang diketahui
buruk, disesali, serta bertekad tidak mengulanginya kembali. Namun, kecanduan
ritual “PENGHAPUSAN DOSA” justru bermakna sebaliknya, menikmati dosa-dosa yang
dihapuskan sembari tetap produktif mencetak dosa-dosa baru lainnya untuk
dihapuskan (business as usual). Yang disebut dengan “tobat”, ialah suatu
sikap mental untuk meninggalkan serta menjauhi sifat-sifat yang buruk dan yang
dicela oleh para bijaksanawan.
Adapun
perihal pertobatan sejati, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli
and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa
Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press
(2013):
~
SUTTA 40 ~
Cūḷa-Assapura Sutta: Khotbah
Pendek di Assapura
[281] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Negeri Anga di pemukiman penduduk Anga bernama Assapura. Di sana
Sang Bhagavā memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu.” – “Yang Mulia,”
mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:
2. “‘Petapa, petapa,’ para bhikkhu, itu adalah bagaimana orang-orang
mengenali kalian. Dan jika kalian ditanya, ‘Apakah kalian?’, maka kalian
mengaku bahwa kalian adalah para petapa. Karena itu adalah sebutan bagi kalian
dan apa yang kalian akui, kalian harus berlatih sebagai berikut: ‘Kami akan melatih jalan
benar selayaknya bagi seorang petapa sehingga sebutan kami menjadi benar dan
pengakuan kami benar, dan sehingga pelayanan dari mereka yang jubah, makanan,
tempat tinggal, dan obat-obatannya kami gunakan akan memberikan buah dan manfaat
besar bagi mereka, dan sehingga pelepasan keduniawian kami tidak sia-sia
melainkan subur dan berbuah.’
[Kitab Komentar : Sementara sutta sebelumnya, Mahā-Assapura
Sutta, menggunakan frasa “hal-hal yang membuat seseorang menjadi seorang
petapa” (dhammā samaṇakaraṇā), di sini sutta ini mengatakan “jalan selayaknya bagi petapa” (samaṇasamīcipaṭipada).]
3. “Bagaimanakah,
para bhikkhu, seorang bhikkhu tidak melatih jalan benar selayaknya bagi seorang
petapa? Selama seorang bhikkhu yang tamak belum meninggalkan ketamakan, yang
memiliki pikiran permusuhan belum meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan
belum meninggalkan kemarahan, yang penuh kekesalan belum meninggalkan kekesalan,
yang bersikap meremehkan belum meninggalkan sikap meremehkan, yang bersikap
congkak belum meninggalkan kecongkakan, yang iri-hati belum meninggalkan
keiri-hatian, yang kikir belum meninggalkan kekikiran, yang curang belum meninggalkan
kecurangan, yang menipu belum meninggalkan penipuan, yang memiliki keinginan
jahat belum meninggalkan keinginan jahat, yang berpandangan salah belum
meninggalkan pandangan salah, maka selama itu ia tidak melatih jalan benar selayaknya
bagi petapa, Aku katakan, karena kegagalannya dalam meninggalkan noda-noda bagi
petapa ini, cacat bagi petapa ini, sampah bagi petapa ini, yang merupakan
landasan bagi kelahiran kembali dalam kondisi sengsara dan yang
akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak berbahagia.
[Kitab Komentar : Sepuluh pertama dari dua belas
“noda bagi seorang petapa” ini termasuk di antara enam belas
“ketidak-sempurnaan yang mengotori batin” pada Majjhima Nikāya 7.3.]
4. “Misalkan senjata yang disebut mataja, terasah dengan baik pada kedua
sisinya, tertutup dan tersimpan dalam sarung kain. Aku katakan bahwa pelepasan
keduniawian bhikkhu itu adalah seperti senjata itu.
5. “Aku
tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan
hanya karena mengenakan jubah bertambalan, juga bukan dari seorang petapa
telanjang hanya karena ketelanjangannya, juga bukan dari seorang yang berlumuran
tanah dan debu hanya karena berlumuran tanah dan debu, juga bukan dari seorang
pelaku ritual mandi hanya karena melakukan ritual mandi, juga bukan dari
seorang penghuni bawah pohon hanya karena [282] menetap di bawah pohon, juga
bukan seorang yang menetap di ruang terbuka hanya karena menetap di ruang
terbuka, juga bukan dari seorang praktisi yang berlatih terus-menerus berdiri
hanya karena terus-menerus berdiri, juga bukan dari seorang yang makan dalam
interval waktu yang telah ditentukan hanya karena makan dalam interval waktu
yang telah ditentukan, juga bukan dari seorang pembaca mantera hanya karena
membaca mantera; Aku juga tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari
seorang petapa berambut kusut hanya karena berambut kusut.
6. “Para
bhikkhu, jika dengan hanya mengenakan jubah bertambalan seorang pemakai jubah
bertambalan yang tamak meninggalkan ketamakan, yang memiliki pikiran permusuhan
meninggalkan permusuhan ... yang berpandangan salah meninggalkan pandangan
salah, maka teman-teman dan sahabatnya, sanak saudara dan kerabatnya, akan
menjadikannya seorang pemakai jubah bertambalan segera setelah ia dilahirkan dan
menyuruhnya menjalani praktik mengenakan jubah bertambalan sebagai berikut:
‘Marilah, sayangku, jadilah seorang pemakai jubah bertambalan agar, sebagai
seorang pemakai jubah bertambalan maka, ketika engkau tamak maka engkau akan
meninggalkan ketamakan, ketika engkau memiliki pikiran permusuhan maka engkau
akan meninggalkan permusuhan ... ketika engkau berpandangan salah maka engkau
akan meninggalkan pandangan salah.’ Tetapi Aku melihat di sini seorang pemakai
jubah bertambalan yang tamak, yang memiliki pikiran permusuhan ... yang
berpandangan salah; dan itulah sebabnya mengapa Aku tidak mengatakan bahwa
status petapa datang dari pemakai jubah bertambalan hanya karena mengenakan
jubah bertambalan.
“Jika dengan ketelanjangan seorang petapa telanjang yang tamak
meninggalkan ketamakan ... Jika dengan berlumuran tanah dan debu ... Jika
dengan melakukan ritual mandi... Jika dengan menetap di bawah pohon ... Jika
dengan menetap di ruang terbuka ... jika dengan terus-menerus berdiri ... Jika dengan
makan pada interval waktu yang telah ditentukan ... Jika dengan membaca mantera
... Jika dengan berambut kusut ... [283] ... dan itulah sebabnya mengapa
Aku tidak mengatakan bahwa status petapa datang dari seorang petapa berambut
kusut hanya karena berambut kusut.
7. “Bagaimanakah,
para bhikkhu, seorang bhikkhu melatih jalan benar selayaknya bagi seorang
petapa? Ketika seorang bhikkhu yang tamak telah meninggalkan ketamakan, yang
memiliki pikiran permusuhan telah meninggalkan permusuhan, yang penuh kemarahan
telah meninggalkan kemarahan, yang penuh kekesalan telah meninggalkan
kekesalan, yang bersikap meremehkan telah meninggalkan sikap meremehkan, yang
bersikap congkak telah meninggalkan kecongkakan, yang iri-hati telah
meninggalkan keiri-hatian, yang kikir telah meninggalkan kekikiran, yang curang
telah meninggalkan kecurangan, yang menipu telah meninggalkan penipuan, yang
memiliki keinginan jahat telah meninggalkan keinginan jahat, yang berpandangan
salah telah meninggalkan pandangan salah, maka ia melatih jalan benar
selayaknya bagi seorang petapa, Aku katakan, adalah karena dengan meninggalkan
noda-noda bagi petapa ini, cacat bagi petapa ini, sampah bagi petapa ini, yang
merupakan landasan bagi kelahiran kembali dalam kondisi sengsara dan yang
akibat-akibatnya akan dialami di alam yang tidak berbahagia.
8. “Ia
melihat dirinya murni dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini, ia
melihat dirinya terbebas dari kondisi-kondisi jahat yang tidak bermanfaat ini.
Ketika ia melihat ini, kegembiraan muncul dalam dirinya. Ketika ia gembira,
sukacita muncul dalam dirinya; dalam diri seorang yang bersukacita, jasmaninya
menjadi tenang; seseorang yang jasmaninya tenang merasakan kenikmatan; dalam
diri seorang yang merasakan kenikmatan, pikirannya menjadi terkonsentrasi.
9. “Ia
berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan cinta kasih,
demikian pula arah ke dua, demikian pula arah ke tiga, demikian pula arah ke
empat; seperti ke atas, demikian pula ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala
arah, dan kepada semua makhluk seperti kepada dirinya sendiri, ia berdiam
dengan meliputi seluruh penjuru dunia dengan pikiran cinta kasih, berlimpah,
luhur, tanpa batas, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.
10-12. “Ia
berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang penuh dengan belas kasih
... dengan pikiran yang penuh dengan kegembiraan altruistik ... dengan pikiran
yang penuh dengan keseimbangan ... berlimpah, luhur, tanpa batas, tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan.
13. “Misalkan
terdapat sebuah kolam, dengan air yang jernih, sejuk menyenangkan, bening,
dengan tepian yang landai, indah, dan dekat dengan hutan. [284] Jika seseorang
yang kepanasan dan keletihan karena cuaca panas, lelah, terpanggang, dan
kehausan, datang dari arah timur atau dari arah barat atau dari arah utara atau
dari arah selatan atau dari manapun kalian inginkan, setelah mendatangi kolam
itu ia akan memuaskan dahaganya dan demam cuaca-panasnya. Demikian pula, para
bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan
Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, mengembangkan cinta
kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan keseimbangan, dan karenanya
memperoleh kedamaian internal, maka karena kedamaian internal itu ia melatih
jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku katakan. Jika siapapun dari kasta
brahmana meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pedagang
meninggalkan keduniawian … jika siapapun dari kasta pekerja meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan
setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata,
mengembangkan cinta kasih, belas kasih, kegembiraan altruistik, dan
keseimbangan, dan karenanya memperoleh kedamaian internal, maka karena
kedamaian internal itu ia melatih jalan benar selayaknya seorang petapa, Aku
katakan.
14. “Para
bhikkhu, jika siapapun dari kasta para mulia meninggalkan keduniawian dari
kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan dengan menembus untuk
dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan
berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa
noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi seorang petapa karena
hancurnya noda-noda itu. Dan jika siapapun dari kasta brahmana meninggalkan
keduniawian … Jika siapapun dari kasta pedagang meninggalkan keduniawian … Jika
siapapun dari kasta pekerja meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah
tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan dengan menembus untuk dirinya sendiri
dengan pengetahuan langsung di sini dan saat ini masuk dan berdiam dalam
kebebasan pikiran dan kebebasan melalui kebijaksanaan yang tanpa noda dengan
hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi seorang petapa karena hancurnya
noda-noda itu.”
[Kitab Komentar : Perihal “siapapun yang meninggalkan
keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan
dengan menembus untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung di sini dan
saat ini masuk dan berdiam dalam kebebasan pikiran dan kebebasan melalui
kebijaksanaan yang tanpa noda dengan hancurnya noda-noda, maka ia telah menjadi
seorang petapa karena hancurnya noda-noda itu”, bermakna ia telah menenangkan (samita)
segala kekotoran, maka ia adalah seorang petapa dalam makna tertinggi (paramatthasamaṇa).]
Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas
dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi yang ada
ialah dogma KORUP yang adiktif bernama “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN
DOSA”, dimana para umat pemeluknya kecanduan memproduksi segunung dosa-dosa,
mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa maupun maksiat,
agar dapat merasa “beruntung” menikmati candu “PENGHAPUSAN DOSA”, sekalipun orang
berakal-sehat akan menyadari betapa delusif harapan mereka yang “too good to
be true”—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan akal-sehat serta pikiran jernih milik Anda sendiri, candu
yang dijadikan ritual rutin harian sepanjang hidupnya berupa doa permohonan “PENGHAPUSAN
DOSA”, merupakan bukti betapa sang “nabi rasul Allah” benar-benar ber-tobat
dari perbuatan-perbuatan buruk ataukah sebaliknya?—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]