Cara Kerja HUKUM KARMA Tidak Seindah dan Tidak Seideal Apa yang Dibayangkan oleh Kebanyakan Umat Buddhist

Apakah HUKUM KARMA adalah Adil Adanya? Sang Buddha bahkan Tidak Pernah Menyatakan bahwa HUKUM KARMA adalah Adil Adanya ataupun bahwa ia Patut untuk Dilekati

Sebaliknya, Pangeran Siddhatta Gotama justru Berjuang untuk Memutus Belenggu Rantai Karma (Nibbana, Break the Chain / Shackle of Karmic Law)

Dari pengamatan pribadi, kurang dari satu persen umat Buddhist yang sekalipun rutin mengunjungi vihara selama puluhan tahun, telah pernah membaca atau mendengar khotbah-khotbah otentik Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam Tipitaka. Akibatnya, banyak pemahaman keliru yang menguasai cara berpikir mayoritas umat Buddhist di Tanah Air. Mereka tidak ingin masuk Nibbana, dan berdelusi-ria bahwa menanam Karma Baik sudah cukup bagi mereka sebagai jaminan hidup bahagia dan aman serta sentosa baik di kehidupan masa kini maupun sebagai modal bagi kehidupan berikutnya. Mereka yakin, dengan melakukan kebaikan-kebaikan di kehidupan masa kini, maka kehidupan berikutnya terjamin tidak akan terlahir-kembali ke alam rendah, namun akan kembali-terlahir ke alam bahagia. Pandangan yang berkembang di tengah komunitas Buddhist perihal Hukum Karma, bisa dikatakan adalah “versi fantasi” mereka sendiri.

Sayangnya, serta kabar buruknya, asumsi yang mereka yakini demikian tidaklah seperti apa yang dibabarkan oleh Sang Buddha dalam Sutta Pitaka—sumber otentik berisi ajaran Sang Buddha—terutama perihal cara kerja Hukum Karma, yang telah ternyata jauh dari kata ideal dan sama sekali tidak dapat diberi gelar sebagai “adil”. Anda dan mereka, akan merasakan kekecewaan bila bukan keterkejutan yang luar biasa mengguncang jiwa dan mental, ketika mengetahui apa yang dibabarkan oleh Sang Buddha tentang cara kerja Hukum Karma yang sebenarnya. Bahkan, besar kemungkinan Anda berniat untuk menggugat Hukum Karma setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Bayangkan ketika sepanjang usia Anda dari muda hingga beranjak dewasa, rajin menabung. Namun, ketika gilirannya Anda butuh biaya darurat dan mendesak untuk mencairkan tabungan Anda, namun Anda dihadapkan kepada realita bahwa Anda dapat menarik dana-dana yang selama ini telah Anda tanamkan. Apakah yang menjadi reaksi Anda, bila bukan merasakan keheranan serta kegeraman? Mungkin Anda akan menuding sistem tabungan demikian sebagai otoriter atau telah menzolimi hak Anda atas tabungan Anda sendiri. Bila seperti itu adanya, dan pihak otoritas dibalik sistem bersikap “pasang badan” dengan tetap tidak memberikan dana tabungan “milik Anda”, maka pertanyaannya ialah apakah Anda akan kembali menabung dan apakah Anda tidak merasa sia-sia menabung? Sistem akan berkata, “Mohon maaf, dana-dana ini ‘BUKAN milik Anda’.” Tiada yang lebih mengejutkan daripada realita kehidupan yang bernama “anattā”, akan dibahas di bawah.

Sebaliknya, seseorang sepanjang usia hidupnya di masa kini rajin berhutang dan terus berhutang, hingga hutangnya telah setinggi gunung. Akan tetapi, ketika kreditornya hendak menagih piutang yang menjadi hak mereka, pihak debitor yang berkewajiban membayar dan mengembalikan dana pinjamannya justru berkelit serta hanya mengumbar janji tanpa pernah ada realisasi. Banyak drama dan banyak sandiwaranya. Ujung muaranya, bagaikan imun dan kebal, para kreditornya senantiasa gagal menagih dari sang debitor yang licin dan licik. Merasa imun serta kebal, pertanyaannya ialah apakah ia akan termotivasi untuk mencicil dan membayar lunas hutangnya, ataukah akan terdemovitasi untuk itu dan justru kian rajin berhutang serta menunggak tanpa membayar berkat mendapatkan insentif serta “reward” alih-alih “punishtment”?

Bagi mereka yang memiliki keyakinan tentang cara kerja “Hukum Karma versi fantasi”, akan bersikeras sedemikian rupa bahwasannya “Hukum Karma adalah hukum tentang konsekuensi dan tentang sebab-akibat”, bahwa “Hukum Karma adalah hukum alam yang adil”, dan segala pembenaran atau justifikasi lainnya. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah mau mengikuti jejak dan jalan yang ditempuh oleh Sang Buddha menuju Nibbana. Mereka ingin tetap melekat kepada Hukum Karma, serta merasa layak dan patut tunduk pada penjelmaan (tumimbal-lahir, siklus kelahiran-kembali tanpa akhir) tanpa pernah mau memahami bahaya dibalik pandangan-keliru demikian yang akan mempermainkan mereka dalam siklus tumimbal-lahir.

Kini, perhatikan apa yang Sang Buddha babarkan dalam Sutta Pitaka, berisi khotbah tentang cara kerja Hukum Karma dan waktu berbuahnya, dengan kutipan sebagai berikut, dan silahkan Anda nilai sendiri apakah Hukum Karma adalah hukum universal yang adil ataukah patut untuk diputus belenggunya agar tidak lagi memperbudak dan mempermainkan kita:

17. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

18. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

19. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

20. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.”

Inilah letak kelemahan paling utama dari cara-kerja dibalik Hukum Karma : “atau dalam beberapa kelahiran setelahnya”. Bila itu yang terjadi, si pelaku kejahatan tidak akan jera atas perilaku-perilaku jahatnya. Adapun di beberapa kehidupan / kelahiran setelahnya, ia besar kemungkinan telah tidak ingat perbuatan buruk apa yang pernah ia lakukan di kehidupan-kehidupan sebelumnya, dimana bisa jadi di kehidupannya masa kini ia telah berubah menjadi orang baik, akan tetapi Karma Buruk masa lampaunya berbuah dan membuatnya hidup sengsara serta tertimpa berbagai musibah. Ia di masa kini, bisa jadi kelaparan, atau dicelakai makhluk dari alam rendah, disakiti oleh sesama manusia, tertimpa musibah bencana alam, terserang penyakit atau wabah, maupun ketidak-mujuran lainnya.

Dalam kasus sebaliknya, seseorang banyak melakukan kebajikan pada beberapa kehidupan masa lampaunya. Akan tetapi, pada satu kehidupan sebelumnya dan pada kehidupan masa kini, ia melakukan banyak kejahatan. Ironisnya, akibat dari perbuatan bajiknya pada beberapa kehidupan sebelumnya ranum dan berbuah pada kehidupannya di masa kini, sementara akibat dari perbuatan-perbuatan buruknya pada satu kehidupan sebelumnya maupun perilaku-perilaku jahatnya pada kehidupan masa kini belum kunjung ranum untuk berbuah pada kehidupan masa kini juga, akibatnya ia akan tampak sebagai imun dari musibah, penghukuman, ataupun penjeraan apapun, terkesan “kebal”. Pertanyaannya, apakah layak dan patut kita menolong dan mendukung orang semacam demikian?

Pernyataan Sang Buddha bahwa “ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya”, akibat / konsekuensi dibalik suatu perbuatan akan tetap matang baginya dalam suatu cara apakah dalam kehidupan ini, atau dalam kehidupan berikut, atau dalam beberapa kehidupan setelah itu. Suatu kesenjangan waktu berbuah suatu perbuatan, cenderung membuat kebanyakan orang (si pelaku perbuatan) jatuh dalam spekulasi pandangan-keliru bahwa tiada buah ataupun konsekuensi dari suatu perbuatan, atau secara keliru salah-menerjemahkan seolah “berbuat jahat justru masuk surga sebagai buahnya” atau “berbuat baik akibatnya justru masuk neraka” (keduanya adalah paham fatalisme), atau juga “tiada konsekuensi dari suatu perbuatan” (nihilisme).

Dalam konstruksi kasus semacam demikian, yakni “apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar”, kelahiran kembali di alam surga pasti disebabkan karena perbuatan-perbuatan lainnya selain dari perbuatan yang terlihat sedang ia lakukan, karena suatu perbuatan jahat tidak dapat menghasilkan modus kelahiran kembali yang beruntung. Itulah juga sebabnya, orang baik dapat terlahir kembali ke alam rendah, sementara orang jahat dapat terlahir kembali ke alam surgawi dan menjadi makhluk dewata, semata karena kesenjangan waktu berbuahnya perbuatan-perbuatan pada suatu kehidupan.

Bila Hukum Karma (hukum sebab-akibat) adalah sesempurna dan seideal yang dibayangkan oleh kebanyakan orang, pertanyaan terbesarnya ialah mengapa Pangeran Siddhatta Gotama justru berjuang untuk memutus belenggu rantai karma (break the chain / shackle of karmic law) dengan hidup terasing dari kenikmatan indria, sekalipun selama berkappa-kappa menanam begitu banyak “parami”? Pihak-pihak yang mengagung-agungkan Hukum Karma, bukankah sedang menganut paham Buddhisme, itu adalah paham Jainisme yang telah ditolak oleh Sang Buddha [dapat dibaca khotbah Sang Buddha dalam Aguttara Nikāya, Sutta Pitaka, Tipitaka). Buddhisme menekankan praktek deliberatif untuk membebaskan diri dari belenggu tersebut, bukan deterministik Hukum Karma (perbudakan Karma).

Itulah sebabnya, hukum negara tetap harus dibentuk untuk melindungi anggota masyarakat yang baik dari perilaku warga yang buruk, aparatur penegak hukum tetap perlu dibangun dan dioperasionalkan untuk menghukum pelaku kejahatan, para “demon hunter” tetap perlu bergerak dan membasmi makhluk-makhluk jahat dari alam rendah yang kerap mengganggu umat manusia, serta para dermawan tetap perlu berdonasi bagi yang membutuhkan, dengan cukup semata berpegangan pada dua faktor : moralitas si calon penerima bantuan / pertolongan, serta apakah ia benar-benar membutuhkan bantuan ataukah tidak agar donasi menjadi tidak sia-sia “salah alamat”. Berbuat kebaikan artinya, tidak merugikan diri sendiri juga tidak merugikan pihak lain, demikian Sang Buddha pernah berpesan—bukan persoalan spekulatif penuh penghakiman bahwa Karma Buruk seseorang sedang berbuah karenanya tertimpa musibah dan petaka. Penghakiman tidak menolong mereka, justru kian melukai mereka.

Hukum Karma, ibarat hukum yang cenderung “tidak tepat-sasaran”. Reward dan punishment-nya eksis, akan tetapi cara-kerja dibaliknya tidak jarang menyerupai “justice delay, is justice denied”. Terlepas dari kesemua itu, itu jugalah bukti bahwa “hidup adalah dukkha”, karena Hukum Karma sekalipun bukanlah tempat untuk kita bergantung dan andalkan sepenuhnya. Hukum Karma sendiri bergantung pada kondisi, sementara apa yang berkondisi sifatnya selalu mengecewakan. Sasāra (Bahasa Pāli ini cara baca lafalnya : “sang-saa-ra”, bukan “sam-sa-ra”), yang bermakna “lingkaran kelahiran”, adalah dukkha, tidak lain tidak bukan ialah fakta bahwa tiada satu hal pun yang berkondisi—termasuk Hukum Karma yang juga tunduk pada kondisi—yang patut digenggam-erat, karena senantiasa mengecewakan.

Kita yang menanam benih Karma Baik, namun kita tidak dapat memerintahkan buahnya untuk ranum pada saat kita sedang benar-benar membutuhkannya. Kita bahkan tidak dapat mengendalikan buah dari perbuatan baik kita sendiri kapan waktunya berbuah. Itulah fenomena yang dalam litelatur Buddhisme disebut sebagai “anattā”, yang bermakna “tanpa diri”, “bukan aku”, dan “bukan milikku”. Termasuk buah-buah Hukum Karma, sifatnya pun adalah “anattā”, yakni “bukan milikku”. Bisa Anda bayangkan betapa tidak adilnya segala yang berkondisi, Anda yang menanam dan menabung banyak kebaikan namun statusnya ialah “bukan milik aku”, atau sebaliknya, melakukan banyak kejahatan namun buahnya bersifat “bukan milik-nya”—betul bahwa seseorang akan mewarisi serta berkerabat dengan perbuatannya sendiri, namun kapan berbuahnya tidak dapat ia kendalikan ataupun perintahkan.

Untuk mengetahui secara lebih utuh tentang cara-kerja yang kurang ideal dibalik Hukum Karma dari segi waktu berbuahnya yang tidak dapat kita kendalikan, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

~SUTTA 136~

Mahākammavibhanga Sutta : Pembabaran Panjang tentang Perbuatan

[207] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Rājagaha, di Hutan Bambu, Taman Suaka Tupai.

2. Pada saat itu Yang Mulia Samiddhi sedang menetap di sebuah gubuk hutan. Kemudian Pengembara Potaliputta, sewaktu berjalan-jalan untuk berolah-raga, mendatangi Yang Mulia Samiddhi dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata kepada Yang Mulia Samiddhi:

“Teman Samiddhi, aku mendengar dan mempelajari ini dari mulut Petapa Gotama sendiri: ‘Perbuatan jasmani adalah tidak berarti, perbuatan ucapan adalah tidak berarti, hanya perbuatan pikiran yang nyata.’ Dan: ‘Ada pencapaian yang dengan memasukinya maka seseorang tidak merasakan apapun sama sekali.’”

[Kitab Komentar mengatakan bahwa Potaliputta sesungguhnya tidak secara langsung mendengar dari Sang Buddha, tetapi pernah mendengarkan berita bahwa pernyataan-pernyataan ini dinyatakan oleh Sang Buddha. Pernyataan pertama adalah versi menyimpang dari pernyataan Sang Buddha dalam Majjhima Nikāya 56.4 bahwa perbuatan pikiran adalah Pāling tercela di antara ketiga jenis perbuatan bagi pelaksanaan perbuatan jahat. Pernyataan ke dua diturunkan dari pembahasan lenyapnya persepsi oleh Sang Buddha dalam Poṭṭhapāda Sutta (Dīgha Nikāya 9). Kitab Komentar mengemas kata “tidak berarti” menjadi “tidak berbuah.”]

“Jangan berkata begitu, Teman Potaliputta, jangan berkata begitu. Jangan salah memahami Sang Bhagavā, tidaklah baik salah memahami Sang Bhagavā. Sang Bhagavā tidak berkata seperti ini: ‘Perbuatan jasmani adalah tidak berarti, perbuatan ucapan adalah tidak berarti, hanya perbuatan pikiran yang nyata.’ Tetapi, Teman, memang ada pencapaian itu yang dengan memasukinya maka seseorang tidak merasakan apapun sama sekali.”

“Berapa lamakah sejak engkau meninggalkan keduniawian, Teman Samiddhi?”

“Belum lama, Teman: tiga tahun.”

“Demikianlah, apa yang akan kami katakan kepada para bhikkhu senior ketika seorang bhikkhu muda berpikir bahwa Sang Guru harus dibela seperti demikian? Teman Samiddhi, setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, apakah yang dirasakan seseorang?”

Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, seseorang merasakan penderitaan, Teman Potaliputta.

Kemudian, dengan tidak menerima juga tidak menolak kata-kata Yang Mulia Samiddhi, Pengembara Potaliputta bangkit dari duduknya dan pergi.

3. Segera setelah Pengembara Potaliputta pergi, Yang Mulia Samiddhi mendatangi Yang Mulia Ānanda [208] dan saling bertukar sapa dengannya. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan menceritakan keseluruhan percakapannya dengan Pengembara Potaliputta kepada Yang Mulia Ānanda. Setelah ia selesai berbicara, Yang Mulia Ānanda berkata kepadanya: “Sahabat Samiddhi, percakapan ini harus diberitahukan kepada Sang Bhagavā. Marilah, kita menghadap Sang Bhagavā dan memberitahu Beliau mengenai hal ini. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Sang Bhagavā kepada kita, demikianlah kita harus mengingatnya.” – “Baik, Sahabat,” Yang Mulia Samiddhi menjawab.

4. Kemudian Yang Mulia Ānanda dan Yang Mulia Samiddhi bersama-sama mendatangi Sang Bhagavā, dan setelah bersujud kepada Beliau, mereka duduk di satu sisi. Yang Mulia Ānanda menceritakan keseluruhan percakapan antara Yang Mulia Samiddhi dengan Pengembara Potaliputta kepada Sang Bhagavā.

5. Ketika ia selesai, Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Ānanda, Aku bahkan tidak ingat pernah bertemu dengan Pengembara Potaliputta, jadi bagaimana mungkin pernah terjadi percakapan ini? Walaupun pertanyaan Pengembara Potaliputta seharusnya dianalisis terlebih dulu sebelum dijawab, namun orang sesat Samiddhi ini menjawabnya secara sepihak.”

6. Ketika hal ini dikatakan, Yang Mulia Udāyin berkata kepada Sang Bhagavā: “Yang Mulia, mungkin Yang Mulia Samiddhi berkata demikian dengan merujuk pada [prinsip]: ‘Apapun yang dirasakan adalah termasuk dalam penderitaan.’” Kemudian Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda:

“Lihatlah, Ānanda, bagaimana orang sesat Udāyin ini menyimpulkan. Aku tahu, Ānanda, bahwa saat ini orang sesat Udāyin ini akan menyimpulkan dengan cara keliru. Sejak awal Pengembara Potaliputta menanyakan tentang ketiga jenis perasaan. Orang sesat Samiddhi ini [209] seharusnya menjawab Pengembara Potaliputta dengan benar jika, ketika ditanya demikian, ia menjelaskan: ‘Teman Potaliputta, setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai menyenangkan, maka seseorang merasa senang. Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai menyakitkan, maka seseorang merasa kesakitan. Setelah melakukan perbuatan yang disengaja melalui jasmani, ucapan, atau pikiran, [yang akibatnya] dirasakan sebagai bukan-menyakitkan-juga-bukan-menyenangkan, maka seseorang merasakan bukan-kesakitan-juga-bukan-kesenangan.’ Tetapi siapakah orang-orang dungu ini, para pengembara bodoh dari sekte lain, yang dapat memahami penjelasan panjang dari Sang Tathāgata tentang perbuatan? Engkau harus mendengarkan Sang Tathāgata, Ānanda, sewaktu Beliau menjelaskan penjelasan panjang tentang perbuatan.”

[Kitab Komentar : Pernyataan “‘Apapun yang dirasakan adalah termasuk dalam penderitaan.’” ini dinyatakan oleh Sang Buddha pada Sayutta Nikāya 36:11/iv.216, sehubungan dengan penderitaan yang terkandung dalam segala bentukan karena alasan ketidak-kekalannya (selalu berubah dan tidak dapat digenggam-erat). Walaupun pernyataan itu benar, Samiddhi tampaknya telah salah menginterpretasikannya menjadi bermakna bahwa semua perasaan dirasakan sebagai penderitaan, yang jelas salah.]

7. “Sekarang adalah waktunya, Sang Bhagavā, sekarang adalah waktunya, Yang Sempurna, bagi Sang Bhagavā untuk membabarkan penjelasan panjang tentang perbuatan. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka dengarkanlah, Ānanda, dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” Yang Mulia Ānanda menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

8. “Ānanda, ada empat jenis orang terdapat di dunia ini. Apakah empat ini? Di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.

[Kitab Komentar : Bagian itu tidak menjelaskan pengetahuan Sang Tathāgata mengenai penjelasan panjang tentang perbuatan, tetapi membentuk kerangka yang bertujuan untuk menyajikan penjelasan.]

“Tetapi di sini seseorang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.

“Di sini seseorang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan ia menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.

“Tetapi di sini seseorang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan kebohongan, menghindari mengucapkan kata-kata fitnah, [210] menghindari mengucapkan kata-kata kasar, menghindari gosip; ia tidak tamak, tidak memiliki pikiran permusuhan, dan ia menganut pandangan benar. Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.

9. “Di sini, Ānanda, melalui semangat, usaha, kegigihan, ketekunan, dan perhatian benar, seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat orang itu di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan jahat, ada akibat dari perilaku salah; karena aku melihat seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan kebohongan, mengucapkan kata-kata fitnah, mengucapkan kata-kata kasar, bergosip; ia tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

10. “Tetapi di sini, Ānanda, [211] melalui semangat … seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat orang itu di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup ... dan menganut pandangan salah, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan jahat, tidak ada akibat dari perilaku salah; karena aku melihat seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.’

11. “Di sini, Ānanda, melalui semangat … seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat orang itu di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup ... dan menganut pandangan benar, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan baik, ada akibat dari perilaku baik; karena aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.

12. “Tetapi di sini, Ānanda, [212] melalui semangat … seorang petapa atau brahmana mencapai konsentrasi pikiran sedemikian sehingga, ketika pikirannya terkonsentrasi, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat orang itu di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup ... dan menganut pandangan benar, dan ia melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita, di alam tujuan kelahiran yang tidak bahagia, dalam kesengsaraan, bahkan di neraka. Ia berkata sebagai berikut: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak ada akibat dari perilaku baik; karena aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka.’ Ia berkata sebagai berikut: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru.’ Demikianlah ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah.

13. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan jahat, ada akibat dari perilaku salah,’ Aku membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku juga membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.

[Kitab Komentar : Bagian di atas juga tidak membabarkan pengetahuan mengenai penjelasan panjang tentang perbuatan, tetapi masih membentuk kerangka. Tujuannya di sini adalah untuk menunjukkan apa yang dapat diterima dan apa yang harus ditolak dari pernyataan para petapa dan brahmana luar. Singkatnya, dalil yang melaporkan pengamatan langsung mereka dapat diterima, tetapi generalisasi yang mereka turunkan dari pengamatan itu harus ditolak.]

14. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan jahat, tidak ada akibat dari perilaku salah,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ [213] Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: ‘Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.

15. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, ada perbuatan-perbuatan baik, ada akibat dari perilaku baik,’ Aku membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku juga membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga,’ Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.

16. “Di sana, Ānanda, ketika seorang petapa atau brahmana mengatakan: ‘Sesungguhnya, tidak ada perbuatan-perbuatan baik, tidak ada akibat dari perilaku baik,’ Aku tidak membenarkan ini. Ketika ia mengatakan: ‘Aku melihat seseorang di sini yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, dan aku melihat bahwa ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku membenarkan ini. Tetapi ketika ia mengatakan: ‘Ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, semua orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka,’ Aku tidak membenarkan ini. Dan ketika ia mengatakan: [214] ‘Mereka yang mengetahui demikian mengetahui yang benar; mereka yang berpikir sebaliknya adalah keliru,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Dan ketika ia dengan keras kepala melekat pada apa yang telah ia ketahui, ia lihat, dan ia temukan, dengan memaksakan: ‘Hanya ini yang benar, yang lainnya adalah salah,’ Aku juga tidak membenarkan ini. Mengapakah? Karena, Ānanda, pengetahuan Sang Tathāgata akan penjelasan panjang tentang perbuatan adalah tidak seperti itu.

17. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

[Kitab Komentar : Paragraf di atas, dimulai penjelasan atas pengetahuan mengenai penjelasan panjang tentang perbuatan. Orang yang dilihat melalui mata dewa melakukan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, dan seterusnya, terlahir kembali di neraka karena perbuatan jahat lain yang telah ia lakukan sebelum ia melakukan pembunuhan, dan seterusnya, atau karena perbuatan jahat yang ia lakukan setelahnya, atau karena pandangan salah yang ia terima pada saat kematian. Walaupun Pāli sepertinya mengatakan bahwa ia seharusnya terlahir kembali di neraka karena perbuatan-perbuatan selain dari yang terlihat sedang ia lakukan, ini jangan dipahami sebagai suatu pernyataan pasti melainkan hanya sebagai suatu pernyataan kemungkinan. Yaitu, walaupun mungkin saja bahwa ia terlahir kembali di neraka karena perbuatan jahat yang ia terlihat lakukan, tetapi mungkin juga bahwa ia terlahir kembali di neraka karena perbuatan-perbuatan jahat lain yang ia lakukan sebelumnya atau sesudahnya atau karena pandangan salah.

Pernyataan “ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya” ini menunjukkan bahwa bahkan jika kamma buruknya tidak menghasilkan modus kelahiran kembali, namun kamma itu akan tetap matang baginya dalam suatu cara apakah dalam kehidupan ini, dalam kehidupan berikut, atau dalam beberapa kehidupan setelah itu.]

18. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena ia di sini telah membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

[Kitab Komentar : Dalam kasus ini, yakni “apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar” kelahiran kembali di alam surga pasti disebabkan karena perbuatan-perbuatan lainnya selain dari perbuatan yang terlihat sedang ia lakukan, karena suatu perbuatan jahat tidak dapat menghasilkan modus kelahiran kembali yang beruntung.]

19. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan baik yang dirasakan sebagai menyenangkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan benar. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali di alam bahagia, bahkan di alam surga. Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup [215] … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

20. “Di sana, Ānanda, sehubungan dengan orang yang menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka: apakah sebelumnya telah melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau belakangan ia melakukan perbuatan jahat yang dirasakan sebagai menyakitkan, atau pada saat kematian ia memperoleh dan menganut pandangan salah. Karena hal itu, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, ia muncul kembali dalam kondisi menderita … bahkan di neraka. Dan karena ia di sini telah menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, ia akan mengalami akibat dari perbuatan itu di sini dan saat ini, atau dalam kelahiran kembali berikutnya, atau dalam beberapa kelahiran setelahnya.

21. “Demikianlah, Ānanda, ada perbuatan yang tidak mampu dan tampak tidak mampu; ada perbuatan yang tidak mampu dan tampak mampu; ada perbuatan yang mampu dan tampak mampu; dan ada perbuatan yang mampu dan tampak tidak mampu.”

[Kitab Komentar menjelaskan abhabba, tidak mampu, sebagai tidak bermanfaat (akusala), disebut “tidak mampu” karena kosong dari kapasitas untuk tumbuh; dan bhabba, mampu, sebagai bermanfaat, disebut ‘”mampu” karena memiliki kapasitas untuk tumbuh.

Penjelasan dalam Kitab Komentar, menurut Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi selaku penerjemah, tampaknya meragukan; bhabba (Skt bhavya) hanya bermakna “berpotensi, mampu menghasilkan akibat,” tanpa menyiratkan penilaian moral tertentu. Kitab Komentar memberikan dua penjelasan atas tetrad ini. Yang pertama berangkat dengan menganggap akhiran –ābhāsa sebagai bermakna “mengungguli” atau “mengatasi,” dan dengan demikian keempat kata itu menunjukkan cara suatu kamma dari satu kualitas dapat “mengungguli” kamma lainnya dalam menghasilkan akibatnya. Penjelasan ke dua yang tampaknya lebih meyakinkan, menganggap –ābhāsa sebagai bermakna “tampak,” yang penerjemah ikuti dalam terjemahan ini.

Pada penjelasan ini, jenis pertama diilustrasikan oleh orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup dan terlahir kembali di neraka: perbuatannya tidak mampu menghasilkan (akibat baik) karena perbuatan itu adalah tidak bermanfaat, dan tampak tidak mampu karena ia terlahir kembali di neraka, yang sepertinya menjadi sebab bagi kelahiran kembalinya di sana. Yang ke dua diilustrasikan oleh orang yang membunuh makhluk-makhluk hidup dan terlahir kembali di alam surga: perbuatannya tidak mampu menghasilkan (akibat baik) karena perbuatan itu adalah tidak bermanfaat, namun tampak mampu karena ia terlahir kembali di alam surga; demikianlah bagi para petapa dan brahmana luar, hal ini tampak seperti sebab bagi kelahirannya di alam surga. Kedua kata berikutnya harus dipahami dengan cara yang sama, dengan perubahan seperlunya.]

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Yang Mulia Ānanda merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.