Dying Is EASY. Living Takes TRUE STRENGTH! Mati Itu MUDAH. Akan Tetapi Hidup Membutuhkan KEKUATAN SEJATI!

Siapa Juga yang Butuh Nyawa Yesus, juga Tidak Ada yang Meminta Nyawa Yesus, Yesus Sendiri yang Justru Mencampakkan Nyawa-Hidupnya Ibarat Sampah Tidak Berharga, dengan Menyerahkan Nyawanya Agar Dibunuh dan Terbunuh di Kayu Salib alias “BUNUH DIRI”—Yesus Mati Konyol dan Sia-Sia

Question : Hidup adalah duka, karenanya melanjutkan hidup dan tetap hidup, adalah perjuangan sejati itu sendiri. Perspektifnya menjadi bertolak-belakang dengan ajaran agama samawi seperti nasrani, yang mengajarkan bahwa hidup adalah nikmat, karenanya yesus yang mati bunuh diri karena menyerahkan nyawanya bak sampah tidak berharga untuk dibunuh, sehingga mati muda, lalu mengundang keprihatinan para umat nasrani, seolah-olah yesus telah mengorbankan “tidak menikmati kenikmatan hidup hingga tua”. Padahal bila yesus memilih untuk tidak mencampakkan nyawanya dan hidup hingga tua, belum tentu ia tahan menanggung duka seperti kelaparan, kesedihan, penyakit, kekecewaan, wabah, bencana alam, bencana kemanusiaan, maupun penderitaan lainnya.

Karenanya, bila memakai perspektif Buddhisme, orang yang memilih untuk bunuh diri adalah orang yang “egois”, sementara orang lain merasakan duka yang ditanggung dan dipikul oleh diri mereka untuk sepanjang hidupnya, sementara orang-orang yang mengakhiri hidupnya seolah hendak melewati atau melompati serangkaian proses duka demikian. Sebaliknya, orang yang bunuh diri menurut agama nasrani, adalah orang yang “merugi”, rugi karena tidak menikmati kehidupan. Bukankah itu adalah bukti betapa tidak konvergennya antara Buddhisme dan ajaran agama nasrani?

Brief Answer : Cobalah tanyakan pertanyaan sederhana berikut kepada diri Anda sendiri. Apakah layak, demi memuaskan sifat pengecut para umat nasrani yang tidak bersedia bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri (dosa) seperti tidak mau bayar hutang, “lempar batu sembunyi tangan”, tabrak-lari, menipu, membunuh, memerkosa, merampok, lalu bersikap pengecut dengan tidak mau membayar “harga” atau konsekuensinya, lantas yesus yang harus “membayar” / “menebus” / “menanggung”-nya, membayar dengan nyawanya? Siapa juga yang butuh nyawa yesus, juga tidak ada yang meminta nyawa yesus, yesus sendiri yang justru mencampakkan nyawa-hidupnya ibarat sampah tidak berharga, dengan menyerahkan nyawanya agar dibunuh dan terbunuh di kayu salib.

Yang dibutuhkan oleh korban-korban para umat nasrani, ialah dibayar piutangnya, kerugiannya dipulihkan, lukanya disembuhkan, traumanya diobati, dan yang melakukan kejahatan harus dihukum agar tiada lagi korban baru berjatuhan atas kejahatan serupa oleh pelaku yang sama maupun oleh calon pelaku lainnya (efek jera). Demi melayani para pendosa-pengecut yang “berani berbuat namun tidak berani bertanggung-jawab”, lantas yesus menumbalkan nyawa-hidupnya sendiri, itu nyata-nyata bertentangan dengan sabda Sang Buddha dengan kutipan sebagai berikut:

“Jika mereka bertanya kepada seorang mulia sebagai berikut: ‘Siapakah di antara orang-orang ini yang seharusnya engkau layani – seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya, atau seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya: jika menjawab dengan benar, seorang mulia akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’”

PEMBAHASAN:

Perihal siapa yang patut dilayani dan siapa juga yang tidak sepatutnya dilayani, selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 96

Esukārī Sutta : Kepada Esukārī

1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

2. Kemudian Brahmana Esukārī mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan berkata:

3. “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat tingkat pelayanan. Mereka menetapkan tingkat pelayanan kepada seorang brahmana, tingkat pelayanan kepada seorang mulia, tingkat pelayanan kepada seorang pedagang, tingkat pelayanan kepada seorang pekerja. Di dalamnya, Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang brahmana: seorang brahmana boleh melayani seorang brahmana, seorang mulia boleh melayani seorang brahmana, seorang pedagang boleh melayani seorang brahmana, dan seorang pekerja boleh melayani seorang brahmana. Ini adalah tingkat pelayanan kepada seorang brahmana [178] yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang mulia: seorang mulia boleh melayani seorang mulia, seorang pedagang boleh melayani seorang mulia, dan seorang pekerja boleh melayani seorang mulia. Ini adalah tingkat pelayanan kepada seorang mulia yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang pedagang: seorang pedagang boleh melayani seorang pedagang, dan seorang pekerja boleh melayani seorang pedagang. Ini adalah tingkat pelayanan kepada seorang pedagang yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan kepada seorang pekerja: hanya seorang pekerja yang boleh melayani seorang pekerja; karena siapakah orang lainnya yang akan melayani seorang pekerja? Ini adalah tingkat pelayanan kepada seorang pekerja yang ditetapkan oleh para brahmana. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

4. “Baiklah, Brahmana, apakah seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat tingkat pelayanan ini?” – “Tidak, Guru Gotama.” – “Misalkan, Brahmana, mereka memaksakan sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya uang, melarat dan memberitahunya: ‘Tuan, engkau harus memakan daging ini dan membayarnya’; demikian pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana [lainnya], namun para brahmana menetapkan keempat tingkat pelayanan itu.

5. “Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga Aku tidak mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani seseorang, ia menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik karena pelayanan itu, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya tidak dilayani. Dan jika, ketika melayani seseorang, ia menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk karena pelayanan itu, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani.

6. “Jika mereka bertanya kepada seorang mulia sebagai berikut: ‘Siapakah di antara orang-orang ini yang seharusnya engkau layani – seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya, atau seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya: [179] jika menjawab dengan benar, seorang mulia akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’

Jika mereka bertanya kepada seorang brahmana … bertanya kepada seorang pedagang … bertanya kepada seorang pekerja … jika menjawab dengan benar, seorang pekerja akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’

7. “Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal dari keluarga bangsawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia kaya-raya, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia kaya-raya.

8. “Karena di sini, Brahmana, seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan mungkin membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan fitnah, bergosip, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Tetapi juga, Brahmana, seseorang dari keluarga bangsawan mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan ucapan salah, menghindari mengucapkan ucapan fitnah, menghindari gosip, tidak tamak, memiliki pikiran tanpa niat-buruk, dan menganut pandangan benar. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan.

Di sini, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang yang kaya-raya mungkin membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan … karena ia kaya-raya. Tetapi juga, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang yang kaya-raya … mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar. Oleh karena itu [180] Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan … karena ia kaya-raya.

9. “Aku tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga Aku tidak mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani seseorang, keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan kebijaksanaannya bertambah dalam pelayanannya, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani.

10. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang Bhagavā: “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat jenis kekayaan. Mereka menetapkan kekayaan seorang brahmana, kekayaan seorang mulia, kekayaan seorang pedagang, dan kekayaan seorang pekerja.

“Di dalamnya, Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang brahmana – mengembara mengumpulkan dana makanan; seorang brahmana yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu mengembara mengumpulkan dana makanan, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang brahmana yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang mulia – busur dan tempat anak panah; seorang mulia yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu busur dan tempat anak panah, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang mulia yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang pedagang – bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak; seorang pedagang yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang pedagang yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang pekerja – sabit dan galah pengangkut beban; seorang pekerja yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu sabit dan galah pengangkut beban, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang pekerja yang ditetapkan oleh para brahmana. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”

[Kitab Komentar : Adalah praktik sejak masa lampau di antara para brahmana untuk mengembara mengumpulkan dana makanan bahkan walaupun mereka memiliki kekayaan berlimpah.

Walaupun pertanian sepertinya adalah pekerjaan yang tidak seharusnya bagi seseorang yang digambarkan sebagai pedagang, harus dipahami bahwa para vessa tidak hanya menjalankan usaha perkotaan, tetapi juga memiliki dan mengawasi pekerjaan pertanian.]

11. “Baiklah, Brahmana, apakah seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat jenis kekayaan ini?” – [181] “Tidak, Guru Gotama.” – “Misalkan, Brahmana, mereka memaksakan sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya uang, melarat dan memberitahunya: ‘Tuan, engkau harus memakan daging ini dan membayarnya’; demikian pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana [lainnya], namun para brahmana menetapkan keempat jenis kekayaan itu.

12. “Aku, Brahmana, menyatakan Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa lampau, ia diakui menurut darimana ia terlahir kembali. Jika ia terlahir kembali dalam kasta mulia, maka ia diakui sebagai seorang mulia; jika ia terlahir kembali dalam kasta brahmana, maka ia diakui sebagai seorang brahmana; jika ia terlahir kembali dalam kasta pedagang, maka ia diakui sebagai seorang pedagang; jika ia terlahir kembali dalam kasta pekerja, maka ia diakui sebagai seorang pekerja. Seperti halnya api diakui melalui kondisi tertentu yang bergantung pada apa api itu membakar – jika api membakar dengan bergantung pada kayu batang, maka api itu dikenal sebagai api kayu batang; jika api membakar dengan bergantung pada kayu ranting, maka api itu dikenal sebagai api kayu ranting; jika api membakar dengan bergantung pada rumput, maka api itu dikenal sebagai api rumput; jika api membakar dengan bergantung pada kotoran-sapi, maka api itu dikenal sebagai api kotoran-sapi – demikian pula, Brahmana, Aku menyatakan Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa lampau, ia diakui menurut darimana ia terlahir kembali. Jika ia terlahir kembali … dalam kasta pekerja, maka ia diakui sebagai seorang pekerja.

[Kitab Komentar : Ariya kho aha brāhmaa lokuttara dhamma purissa sandhana paññāpemi, “Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan seseorang”.

Parihal “ia diakui menurut darimana ia terlahir kembali”, attabhāvassa abhinibbatti: secara literal, “di manapun pembuahan kembali individunya terjadi.”]

13. “Jika, Brahmana, seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ia menghindari membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah, menghindari ucapan fitnah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gosip, dan tidak tamak, memiliki pikiran tanpa permusuhan, dan menganut pandangan benar, maka ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. [182] Jika, Brahmana, seseorang dari kasta brahmana meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pedagang meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pekerja meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ia menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan menganut pandangan benar, maka ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.

14. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu mengembangkan pikiran cinta kasih terhadap suatu wilayah tertentu, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?

Tidak, Guru Gotama. Apakah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu mengembangkan pikiran cinta kasih terhadap suatu wilayah tertentu, tanpa pertentangan dan tanpa permusuhan.

“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian … (ulangi paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.

15. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan membersihkan diri dari debu dan kotoran, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja?”

“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan membersihkan diri dari debu dan kotoran.”

“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian … (sama seperti paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.

16. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seorang raja mulia yang sah mengumpulkan di sini seratus orang yang berasal dari kelahiran berbeda dan berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, silakan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga mulia atau keluarga brahmana atau keluarga bangsawan mengambil sebatang kayu api kayu sāla, kayu salala, kayu cendana, atau kayu padumaka dan menyalakan api dan menghasilkan panas. Dan juga silahkan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga buangan, keluarga pemburu, keluarga pembuat keranjang, keluarga pembuat kereta, atau keluarga pemungut sampah, mengambil kayu dari tempat minum anjing, dari tempat makan babi, dari tempat sampah, atau dari kayu jarak dan menyalakan api dan menghasilkan panas.’

Bagaimana menurutmu, Assalāyana? Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok pertama, apakah api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan apakah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api, sementara ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dari kelompok ke dua, api itu tidak memiliki kobaran, tanpa warna, dan tanpa cahaya, dan tidak mungkin menggunakannya sebagai fungsi api?

Tidak, Guru Gotama. Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok pertama, api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api. Dan api yang dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok ke dua, api itu juga memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api.” [184]

Karena semua api memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api.

“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian … (sama seperti paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.”

17. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma dan pada Sagha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur hidup.”

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, apakah Tuhan akan bersedia dilayani oleh manusia-busuk pendosa pecandu-berat “PENGHAPUSAN DOSA” seperti berikut di bawah ini? Jangankan Tuhan, kita sebagai manusia pun akan merasa jijik, alergik, serta muak terhadap manusia-manusia kotor-tercela bernama umat agama samawi, dimana tentunya tiada yang bersedia memercayakan mereka untuk urusan keuangan, pembukuan, penyimpanan aset di rumah ataupun perusahaan Anda—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini silahkan Anda nilai dengan nurani serta pikiran jernih kita sendiri, apakah patut ataukah tidaknya Anda menyembah ataupun melayani sang “nabi rasul Allah” yang mabuk serta kecanduan-berat “PENGHAPUSAN DOSA” akibat dosa-dosanya yang SETINGGI GUNUNG dan koleksi-maksiatnya yang SEDALAM SAMUDERA—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]