Tiada yang Lebih Berbahaya,
Daripara Orang Dungu,
Berjubah Agamais.
Sekujur tubuh,
Ditutup busana,
“Aurat Berjalan”,
Begitu mereka berkata.
Akan tetapi,
Disaat bersamaan,
“Aurat Terbesar”,
Berupa berbuat dosa-dosa,
Mereka pertontonkan secara vulgar dan seronok,
Kepada publik luas,
Tanpa rasa malu ataupun tabu,
Lewat speaker pengeras suara,
Dogma-dogma korup semacam “PENGHAPUSAN DOSA”.
Hipokrit yang Bernama Kaum Agamais,
Merasa bersikap seolah-olah sebagai
kaum paling superior,
Yang berdelusi berhak menghakimi
kaum lainnya,
Sekalipun mereka sendiri sejatinya
seorang KORUPTOR-DOSA,
Dimana dosa-dosa pun dengan
rakusnya mereka korupsi.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada minuman beralkohol.
Itu “MAKSIAT”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada pergaulan-bebas.
Itu “MAKSIAT”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada tempat hiburan malam.
Itu “MAKSIAT”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada mencuri maupun merampok.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada membunuh maupun menganiaya.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada perzinahan maupun
perselingkuhan.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada menipu ataupun berkata
dusta.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada korupsi.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada praktek pemerasan.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada premanisme maupun aksi
begal.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada perusakan lingkungan
hidup.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada peperangan maupun
penjajahan.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Mereka berkata “TIDAK!”,
Kepada terorisme.
Itu “DOSA”,
Kata mereka.
Namun disaat bersamaan,
Untuk setiap harinya,
Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Bagi “Pendosa”, tentunya.
Seorang anak kecil pun
mengetahui,
Bahwa antara “DOSA-DOSA” dan “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Sifatnya saling bundling satu
sama lainnya,
Ibarat sikat-gigi dan pasta-gigi,
Yang saling berkomplomenter.
Ini dan itu,
Disebut “DILARANG”.
Ini dan itu,
Disebut “HARAM”.
Ini dan itu,
Disebut “DOSA”.
Ironisnya,
Disaat bersamaan,
Mereka mabuk serta kecanduan-berat,
Kepada ideologi yang bahkan
lebih korup,
Daripada ideologi komun!sme
yang terlarang dan dilarang,
Dogma korup bernama “PENGHAPUSAN
DOSA”,
Mereka klaim sebagai “HALAL
LIFESTYLE”.
Babi,
HARAM.
Penghapusan dosa bagi pendosa,
HALAL.
Setiap harinya lima kali ritual
dalam sehari,
Setiap tahunnya saat ramadhan
dikala konsumsi mereka meningkat drastis,
Bahkan saat meninggal dunia,
Ritual doa yang mereka
pertontonkan kepada dunia,
Ialah “PENGHAPUSAN DOSA”,
“PENGHAPUSAN DOSA”,
Dan “PENGHAPUSAN DOSA”.
Seakan korban-korban mereka,
Tidak punya hak untuk menuntut keadilan,
Karena telah dilukai,
Disakiti,
Maupun dirugikan oleh para kaum
agamais,
Agamais mana berdelusi
memonopoli alam surgawi,
Surga yang menyerupai,
Tong sampah raksasa,
Bagi para manusia sampah.
Terhadap dosa maupun maksiat,
Mereka begitu kompromistik.
Akan tetapi,
Terhadap kaum yang berbeda
keyakinan,
Mereka begitu intoleran.
Ketika masih minoritas,
Mereka menuntut serta menikmati
toleransi.
Ketika mereka menjelma
mayoritas,
Mereka hendak merusak toleransi
yang semula mereka nikmati.
Pendosa,
Namun hendak berceramah serta menggurui
orang lain,
Perihal moralitas,
Perihal kebaikan,
Perihal kejujuran,
Perihal kemuliaan,
Perihal keluhuran,
Ibarat orang buta yang hendak
menuntun kaum butawan lainnya,
Neraka pun mereka pandang
sebagai surga,
Dan berbondong-bondong mereka
terperosok,
Ke dalam jurang gelap demikian,
Masih dengan tetap keras-kepala,
Hendak menyeret pula orang lain,
Bersama mereka terjerumus ke
dalamnya.
Tanpa rasa malu ataupun takut,
Bahkan dengan bangga,
Kebanggaan orang-orang dungu,
Mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA”,
Alih-alih mengkampanyekan gaya
hidup,
Yang higienis,
Dari dosa maupun maksiat.
Mereka sungguh layak,
Diberi gelar sebagai,
PECUNDANG KEHIDUPAN,
Yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab,
Atas perbuatan-perbuatan buruk mereka
sendiri,
Atas konsekuensi dibalik aksi
mereka sendiri,
Dimana mereka lebih sibuk ritual,
Memohon “PENGHAPUSAN DOSA”,
Alih-alih,
Berani tampil,
Untuk mengambil tanggung-jawab.
