Agama HIpokrit, Penuh Kedok dan Topeng yang Menyelubungi Kotor-Borok Hati serta Perilaku Kaum Agamais

HERY SHIETRA, Agama HIpokrit, Penuh Kedok dan Topeng yang Menyelubungi Kotor-Borok Hati serta Perilaku Kaum Agamais

Tiada yang Lebih Berbahaya,

Daripara Orang Dungu,

Berjubah Agamais.

Sekujur tubuh,

Ditutup busana,

“Aurat Berjalan”,

Begitu mereka berkata.

Akan tetapi,

Disaat bersamaan,

“Aurat Terbesar”,

Berupa berbuat dosa-dosa,

Mereka pertontonkan secara vulgar dan seronok,

Kepada publik luas,

Tanpa rasa malu ataupun tabu,

Lewat speaker pengeras suara,

Dogma-dogma korup semacam “PENGHAPUSAN DOSA”.

Hipokrit yang Bernama Kaum Agamais,

Merasa bersikap seolah-olah sebagai kaum paling superior,

Yang berdelusi berhak menghakimi kaum lainnya,

Sekalipun mereka sendiri sejatinya seorang KORUPTOR-DOSA,

Dimana dosa-dosa pun dengan rakusnya mereka korupsi.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada minuman beralkohol.

Itu “MAKSIAT”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada pergaulan-bebas.

Itu “MAKSIAT”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada tempat hiburan malam.

Itu “MAKSIAT”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada mencuri maupun merampok.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada membunuh maupun menganiaya.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada perzinahan maupun perselingkuhan.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada menipu ataupun berkata dusta.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada korupsi.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada praktek pemerasan.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada premanisme maupun aksi begal.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada perusakan lingkungan hidup.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada peperangan maupun penjajahan.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Mereka berkata “TIDAK!”,

Kepada terorisme.

Itu “DOSA”,

Kata mereka.

Namun disaat bersamaan,

Untuk setiap harinya,

Mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Bagi “Pendosa”, tentunya.

Seorang anak kecil pun mengetahui,

Bahwa antara “DOSA-DOSA” dan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Sifatnya saling bundling satu sama lainnya,

Ibarat sikat-gigi dan pasta-gigi,

Yang saling berkomplomenter.

Ini dan itu,

Disebut “DILARANG”.

Ini dan itu,

Disebut “HARAM”.

Ini dan itu,

Disebut “DOSA”.

Ironisnya,

Disaat bersamaan,

Mereka mabuk serta kecanduan-berat,

Kepada ideologi yang bahkan lebih korup,

Daripada ideologi komun!sme yang terlarang dan dilarang,

Dogma korup bernama “PENGHAPUSAN DOSA”,

Mereka klaim sebagai “HALAL LIFESTYLE”.

Babi,

HARAM.

Penghapusan dosa bagi pendosa,

HALAL.

Setiap harinya lima kali ritual dalam sehari,

Setiap tahunnya saat ramadhan dikala konsumsi mereka meningkat drastis,

Bahkan saat meninggal dunia,

Ritual doa yang mereka pertontonkan kepada dunia,

Ialah “PENGHAPUSAN DOSA”,

“PENGHAPUSAN DOSA”,

Dan “PENGHAPUSAN DOSA”.

Seakan korban-korban mereka,

Tidak punya hak untuk menuntut keadilan,

Karena telah dilukai,

Disakiti,

Maupun dirugikan oleh para kaum agamais,

Agamais mana berdelusi memonopoli alam surgawi,

Surga yang menyerupai,

Tong sampah raksasa,

Bagi para manusia sampah.

Terhadap dosa maupun maksiat,

Mereka begitu kompromistik.

Akan tetapi,

Terhadap kaum yang berbeda keyakinan,

Mereka begitu intoleran.

Ketika masih minoritas,

Mereka menuntut serta menikmati toleransi.

Ketika mereka menjelma mayoritas,

Mereka hendak merusak toleransi yang semula mereka nikmati.

Pendosa,

Namun hendak berceramah serta menggurui orang lain,

Perihal moralitas,

Perihal kebaikan,

Perihal kejujuran,

Perihal kemuliaan,

Perihal keluhuran,

Ibarat orang buta yang hendak menuntun kaum butawan lainnya,

Neraka pun mereka pandang sebagai surga,

Dan berbondong-bondong mereka terperosok,

Ke dalam jurang gelap demikian,

Masih dengan tetap keras-kepala,

Hendak menyeret pula orang lain,

Bersama mereka terjerumus ke dalamnya.

Tanpa rasa malu ataupun takut,

Bahkan dengan bangga,

Kebanggaan orang-orang dungu,

Mempromosikan “PENGHAPUSAN DOSA”,

Alih-alih mengkampanyekan gaya hidup,

Yang higienis,

Dari dosa maupun maksiat.

Mereka sungguh layak,

Diberi gelar sebagai,

PECUNDANG KEHIDUPAN,

Yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab,

Atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri,

Atas konsekuensi dibalik aksi mereka sendiri,

Dimana mereka lebih sibuk ritual,

Memohon “PENGHAPUSAN DOSA”,

Alih-alih,

Berani tampil,

Untuk mengambil tanggung-jawab.