Hanya Orang Dungu, yang Menantang NERAKA. Juga hanya Orang Dungu, yang Merasa
Kebal / Imun dari Neraka dan Terjamin Masuk Surga Lewat Ritual
Menyesal Tidak Menghapus FAKTA telah Pernah Melakukan Perbuatan Buruk yang Jahat dan Tercela
Seperti apakah, gambaran alam neraka menurut catatan yang ada di Tipitaka?
Hanya orang dungu, yang menertawakan dan meremehkan ancaman neraka, juga hanya
orang dungu yang meremehkan jeritan korban yang mengutuk sang pelaku
(disumpahi) masuk neraka, bahkan seolah terkesan menantangnya dengan kian
melecehkan derita korban ataupun tetap gemar melakukan kejahatan sepanjang
hidupnya. Perhatikan apa yang diungkapkan oleh Sang Buddha, perihal siksaan di alam
Neraka bagi para manusia jahat yang merasa senang berbuat kejahatan semasa hidupnya,
dengan kutipan sebagai berikut:
10. “Kemudian para penjaga neraka [183] menyiksanya dengan lima tusukan.
Mereka menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus tangan lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu kakinya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus kaki lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus perutnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
11. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke bawah dan mengulitinya
dengan kapak. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
12. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mengulitinya dengan alat pengukir kayu. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
13. “Kemudian para penjaga neraka mengikatnya pada sebuah kereta dan
menariknya ke sana-sini di atas tanah yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
14. “Kemudian para penjaga neraka menyuruhnya memanjat naik dan turun di
atas gundukan bara api yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
15. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mencelupkannya ke dalam panci logam panas yang terbakar,
menyala, dan berpijar. Ia direbus di sana di dalam pusaran buih. Dan ketika ia
direbus di sana di dalam pusaran buih, ia kadang-kadang terhanyut ke atas,
kadang-kadang ke bawah, kadang-kadang ke sekeliling. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk.
Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:
Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun
Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,
Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya
Dan ditutup dengan atap besi.
Lantainya juga terbuat dari besi
Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar
Luasnya seratus liga
Yang mencakup seluruh wilayah itu.
17. “Sekarang lidah api yang menyambar dari tembok timur mengenai tembok
barat. Lidah api yang menyambar dari tembok barat mengenai [184] tembok timur.
Lidah api yang menyambar dari tembok utara mengenai tembok selatan. Lidah api
yang menyambar dari tembok selatan mengenai tembok utara. Lidah api yang
menyambar dari lantai mengenai atap. Lidah api yang menyambar dari atap
mengenai lantai. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
18. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama, pintu
timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan
cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya terbakar,
dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang sama
terjadi ketika kakinya diangkat. Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu
itu tertutup. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
“Pada suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, pintu barat Neraka Besar
itu terbuka ... pintu utara Neraka Besar itu terbuka ... pintu selatan Neraka
Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat ...
Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
19. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama,
pintu timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah
dengan cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya
terbakar, dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang
sama terjadi ketika kakinya diangkat. Ia keluar melalui pintu itu.
20. “Persis di sebelah Neraka Besar [185] adalah Neraka Kotoran yang
luas. Ia terjatuh ke dalam neraka itu. Di dalam Neraka Kotoran itu
makhluk-makhluk bermulut jarum mengebor kulit luarnya dan mengebor kulit
dalamnya dan mengebor dagingnya dan mengebor uratnya dan mengebor tulangnya dan
melahap sumsumnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
21. “Persis di sebelah Neraka Kotoran adalah Neraka Bara Api Panas yang
luas. Ia terjatuh di sana. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
22. “Persis di sebelah Neraka Bara Api Panas adalah Hutan Pepohonan
Simbali yang luas, tingginya satu liga, berduri dengan duri-duri sepanjang enam
belas lebar jari, yang terbakar, menyala, dan berpijar. Mereka menyuruhnya
memanjat pepohonan itu naik dan turun. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
23. “Persis di sebelah Hutan Pepohonan Simbali adalah Hutan Daun-pedang
yang luas. Ia masuk ke sana. Dedaunannya, digerakkan oleh angin, memotong
tangannya dan memotong kakinya dan memotong tangan dan kakinya; memotong
telinganya dan memotong hidungnya dan memotong telinga dan hidungnya. Di sana
ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
24. “Persis di sebelah Hutan Daun-pedang adalah sungai besar berair tajam
membakar. Ia terjatuh di sana. di sana ia tersapu mengikuti arus dan melawan
arus dan mengikuti-sekaligus-melawan arus. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
25. “Kemudian para penjaga neraka menariknya dengan kail, [186] dan
menaikkannya ke atas tanah, mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau
inginkan?’ Ia berkata: ‘Aku lapar, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka
membuka paksa mulutnya dengan penjepit besi yang panas membara, yang terbakar,
menyala, dan berpijar, dan mereka memasukkan bola besi yang panas membara, yang
terbakar, menyala, dan berpijar ke dalam mulutnya, bola besi itu membakar
tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa
usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
26. “Kemudian para penjaga bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau
inginkan?’ ia berkata: ‘Aku haus, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka
membuka paksa mulutnya dengan penjepit besi yang panas membara, yang terbakar,
menyala, dan berpijar, dan mereka menuangkan tembaga cair yang terbakar,
menyala, dan berpijar ke dalam mulutnya. Tembaga itu membakar bibirnya,
membakar mulutnya, membakar tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos
keluar melalui bawah membawa usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
27. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya kembali ke dalam Neraka Besar.
29. “Para
bhikkhu, Aku mengatakan hal ini kepada kalian bukan sebagai sesuatu yang
Kudengar dari petapa atau brahmana lain. Aku mengatakan hal ini kepada kalian
sebagai sesuatu yang sebenarnya diketahui, dilihat, dan ditemukan olehKu
sendiri.” [187]
Menyesal karena menjatuhkan piring dari keramik atau kaca, dan pecah berkeping-keping
saat terjatuh ke lantai. Sekalipun kita menyesal, apakah piring atau gelas
keramik yang telah pecah tersebut, dapat kembali utuh dan pulih seperti
sedia-kala, atau bahkan bersih dari lantai secara sendirinya tanpa perlu kita
merepotkan diri membersihkan lantai dari pecahan keramik tersebut? Menyesal, fungsinya
ialah agar kita belajar dari kesalahan dan tidak mengulangi kesalahan serupa. Akan
tetapi, meski demikian, kita tetap saja harus menghadapi konsekuensi apa yang telah
kita perbuat.
Menyesali perbuatan buruk kita, tidaklah cukup. Tetap saja korban-korban kita
masih merasakan trauma. Tetap saja luka korban kita belum mengering. Tetap saja
luka cacat permanen korban kita bersifat permanen. Tetap saja korban yang tewas
tidak dapat hidup kembali. Air mata maupun tetesan darah tidak dapat kembali ke
tempatnya semula. Penyesalan tidak berhenti sampai disitu, namun harus
diwujudkan ke dalam sikap berani untuk bertanggung-jawab serta tekad serius
untuk tidak mengulanginya di masa mendatang.
Kita tetap harus membayar hutang kita. Kita tetap harus membiayai berobat
orang-orang yang pernah kita lukai. Kita tetap harus menghadapi konsekuensi
dari apa yang telah kita perbuat dan lakukan. Kita bahkan tidak bisa menghapus
sejarah bahwa kita telah pernah berbuat, baik perbuatan baik maupun perbuatan
buruk, baik perbuatan kecil maupun perbuatan besar. Singkatnya, penyesalan
tidak menghapus fakta bahwa kita telah pernah berbuat keliru, dan bahwa kita
tidak dapat lepas dari konsekuensi yang bernama TANGGUNG-JAWAB.
Ancaman neraka berfungsi dalam rangka membangun sistem deteksi dini, agar
si pelaku kejahatan menghentikan perilaku jahatnya seperti melukai, menyakiti, maupun
merugikan pihak-pihak lainnya. Namun, berkat iming-iming KORUP semacam “PENGAMPUNAN
/ PENEBUSAN / PENGHAPUSAN DOSA”, membuat early warning system demikian
tidak berfungsi sebagaimana mestinya, justru kontraproduktif, para umat agama
samawi meremehkan perbuatan-perbuatan buruk maupun jahat, sembari “business
as usual” sibuk berlomba-lomba memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang
dosa, dan berkubang dalam samudera dosa maupun maksiat sembari yakin seyakin-yakinnya
akan masuk alam surgawi setelah ajal menjemputnya.
Terhadap dosa maupun maksiat, demikian kompromistik. Akan tetapi,
terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran. Puluhan nabi
agama samawi telah diutus oleh Allah, akan tetapi tiada satupun dosa maupun
maksiat dimusnahkan, justru dilestarikan semata karena itulah umpan Allah yang
dimakan oleh umat agama samawi sehingga mereka kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins). Dalam hal ini, ada “KONFLIK KEPENTINGAN” besar dibalik agama
samawi, Allah butuh “Setan sang penggoda” agar umat manusia menghamba
kepadanya, dan keduanya berkomplot.
Jangan pernah remehkan
perbuatan buruk, konsekuensinya bisa sangat mengerikan, dimana merasa menyesal dikemudian
hari pun akan percuma, sebagaimana dapat kita simak selengkapnya dalam “Khotbah-Khotbah
Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The
Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”,
translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications
(1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra
Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
~
SUTTA 130 ~
Devadūta
Sutta : Utusan Surgawi
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Beliau memanggil para bhikkhu sebagai berikut: “Para
bhikkhu.” – “Yang Mulia,” mereka menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
2. “Para bhikkhu, misalkan terdapat dua rumah berpintu dan seseorang yang
berpenglihatan baik berdiri di antara kedua rumah itu melihat orang-orang masuk
dan keluar dan berlalu-lalang. Demikian
pula, dengan mata dewa, yang murni dan melampaui manusia, Aku melihat
makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan
buruk rupa, kaya dan miskin. Aku memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut
sesuai dengan perbuatan mereka: ‘Makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik
dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan
benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika
hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia,
bahkan di alam surga. Atau Makhluk-makhluk mulia ini, yang berperilaku baik
dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan [179] pencela para mulia,
berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka,
ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam
manusia. Tetapi makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani,
ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan
dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani,
setelah kematian, telah muncul kembali di alam hantu. Atau makhluk-makhluk ini
yang berperilaku buruk … ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah
muncul kembali di alam binatang. Atau makhluk-makhluk ini yang berperilaku
buruk … ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam
kondisi buruk, di alam rendah, dalam kehancuran, bahkan di dalam neraka.’
3. “Sekarang para penjaga neraka menangkap makhluk itu pada kedua
lengannya dan membawanya ke hadapan Raja Yama, dengan berkata: ‘Baginda, orang
ini telah memperlakukan ibunya dengan buruk, memperlakukan ayahnya dengan
buruk, memperlakukan para petapa dengan buruk, memperlakukan para brahmana
dengan buruk; ia tidak menghormati para sesepuh sukunya. Silahkan Raja
menjatuhkan hukuman.’
[Kitab Komentar : Yama adalah dewa kematian. Kitab
Komentar mengatakan bahwa ia adalah raja makhluk halus yang memiliki istana
surgawi. Kadang-kadang ia menetap di istana surgawi menikmati kenikmatan
surgawi, kadang-kadang ia mengalami akibat kamma; ia adalah raja yang
baik. Kitab Komentar menambahkan bahwa sebenarnya ada empat Yama, satu di
setiap empat gerbang (neraka?).]
4. “Kemudian Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi pertama: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
pertama muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang bayi lembut yang
berbaring telungkup, kotor dengan kotoran dan air kencingnya sendiri?’ Ia
berkata: ‘Pernah, Tuan.’
[Kitab Komentar : Menurut
legenda Buddhis, tiga dari para utusan surgawi – orang tua, orang sakit, dan
orang mati – menampakkan diri di hadapan Sang Bodhisatta ketika ia sedang
menetap di istana, menghancurkan pesona kehidupan duniawi dan menyadarkannya
pada keinginan untuk mencari jalan kebebasan. Baca Anguttara Nikāya 3:38/i.145-46 untuk penjelasan atas asal-usul
secara psikologis dari mana legenda ini berkembang.]
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada kelahiran, aku tidak terbebas dari kelahiran: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu atau ayahmu, [180] atau oleh saudara laki-laki atau
saudara perempuanmu, atau oleh teman-teman dan sahabatmu, atau oleh sanak
saudara dan kerabatmu, atau oleh para petapa dan brahmana, atau oleh para dewa;
perbuatan jahat
ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
5. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi pertama, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke dua: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke dua muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama berkata:
‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau seorang
perempuan – berumur delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun, tua,
bungkuk seperti rusuk atap, merunduk, berjalan dengan ditopang oleh tongkat,
terhuyung-huyung, lemah, kehilangan kemudaan, gigi tanggal, rambut memutih,
rambut berguguran, botak, keriput, dengan bercak pada bagian-bagian tubuh?’ Ia
berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada penuaan, aku tidak terbebas dari penuaan: tentu saja aku lebih
baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
6. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke dua, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke tiga: [181] ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan
surgawi ke tiga muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau
seorang perempuan – yang sakit, menderita, dan sakit parah, berbaring dengan
dikotori oleh kotoran dan air kencingnya sendiri, diangkat oleh beberapa orang
dan dibaringkan oleh beberapa orang lainnya?’ Ia berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada penyakit, aku tidak terbebas dari penyakit: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
7. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke tiga, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke empat: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke empat muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia, ketika seorang penjahat
perampok tertangkap, raja-raja menjatuhkan berbagai jenis hukuman padanya:
setelah menderanya dengan cambukan, memukulnya dengan rotan, memukulnya dengan
pemukul; setelah memotong tangannya, memotong kakinya, memotong tangan dan
kakinya; memotong telinganya, memotong hidungnya, memotong telinga dan
hidungnya; dikenai siksaan ‘panci bubur,’ ‘cukuran kulit kerang yang digosok,’
‘mulut Rāhu,’ ‘lingkaran api,’ ‘tangan menyala,’ ‘helai rumput,’ ‘pakaian kulit
kayu,’ ‘kijang,’ ‘kail daging,’ ‘kepingan uang,’ ‘cairan asin,’ ‘tusukan
berporos,’ ‘gulungan tikar jerami’; dan mereka disiram dengan minyak mendidih,
dan mereka dibuang agar dimangsa oleh anjing-anjing, dan mereka dalam keadaan
hidup ditusuk dengan kayu pancang, dan kepala mereka dipenggal dengan pedang?’
Ia berkata: ‘Pernah, Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Mereka
yang melakukan perbuatan jahat akan mengalami berbagai jenis siksaan di sini
dan saat ini; [182] apa lagi setelah kematian? Tentu saja aku lebih baik
melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
8. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke empat, Raja Yama mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya
tentang utusan surgawi ke lima: ‘Tidak pernahkah engkau melihat utusan surgawi
ke lima muncul di dunia?’ Ia berkata: ‘Tidak, Tuan.’ Kemudian Raja Yama
berkata: ‘Tidak pernahkah engkau melihat di dunia seorang laki-laki – atau
seorang perempuan – satu hari setelah mati, dua hari setelah mati, tiga hari
setelah mati, membengkak, memucat, dan meneteskan cairan?’ Ia berkata: ‘Pernah,
Tuan.’
“Kemudian Raja Yama berkata: ‘Tidak pernahkah terpikir olehmu – seorang
manusia yang cerdas dan dewasa – “Aku
juga tunduk pada kematian, aku tidak terbebas dari kematian: tentu saja aku
lebih baik melakukan perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran”?’ Ia berkata: ‘Aku tidak mampu, Tuan, aku lalai.’
Kemudian Raja Yama berkata: ‘Karena kelalaian maka engkau telah gagal melakukan
perbuatan baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran. Tentu saja mereka akan
memperlakukanmu sesuai kelalaianmu. Tetapi perbuatan jahatmu ini bukan
dilakukan oleh ibumu … atau oleh para dewa; perbuatan
jahat ini dilakukan oleh dirimu sendiri, dan engkau sendiri yang akan mengalami
akibatnya.’
9. “Kemudian, setelah mendesak dan mempertanyakan dan mendebatnya tentang
utusan surgawi ke lima, Raja Yama berdiam diri.
10. “Kemudian para penjaga neraka [183] menyiksanya dengan lima tusukan.
Mereka menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu tangan, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus tangan lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus satu kakinya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus kaki lainnya, mereka
menusukkan sebatang pancang besi membara menembus perutnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
[Kitab Komentar : Penjelasan mengenai neraka berikut
ini, hingga ke paragraf nomor ke-16, juga terdapat pada Majjhima Nikāya
129.10-16.]
11. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke bawah dan mengulitinya
dengan kapak. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
12. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mengulitinya dengan alat pengukir kayu. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
13. “Kemudian para penjaga neraka mengikatnya pada sebuah kereta dan
menariknya ke sana-sini di atas tanah yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
14. “Kemudian para penjaga neraka menyuruhnya memanjat naik dan turun di
atas gundukan bara api yang terbakar, menyala, dan berpijar. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
15. “Kemudian para penjaga neraka menggantungnya dengan kaki di atas dan
kepala di bawah dan mencelupkannya ke dalam panci logam panas yang terbakar,
menyala, dan berpijar. Ia direbus di sana di dalam pusaran buih. Dan ketika ia
direbus di sana di dalam pusaran buih, ia kadang-kadang terhanyut ke atas,
kadang-kadang ke bawah, kadang-kadang ke sekeliling. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun
ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
16. “Kemudian para penjaga neraka melemparnya ke dalam Neraka Besar. Sekarang sehubungan dengan Neraka Besar, para bhikkhu:
Neraka ini memiliki empat sudut dan dibangun
Dengan empat pintu, satu di setiap sisinya,
Terbatasi dinding terbuat dari besi dan mengelilinginya
Dan ditutup dengan atap besi.
Lantainya juga terbuat dari besi
Dan dipanaskan dengan api hingga berpijar
Luasnya seratus liga
Yang mencakup seluruh wilayah itu.
17. “Sekarang
lidah api yang menyambar dari tembok timur mengenai tembok barat. Lidah api
yang menyambar dari tembok barat mengenai [184] tembok timur. Lidah api yang
menyambar dari tembok utara mengenai tembok selatan. Lidah api yang menyambar
dari tembok selatan mengenai tembok utara. Lidah api yang menyambar dari lantai
mengenai atap. Lidah api yang menyambar dari atap mengenai lantai. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama
akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
18. “Pada
suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama, pintu timur Neraka
Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat. Ketika
berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya terbakar, dagingnya
terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang sama terjadi ketika
kakinya diangkat. Ketika akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di
sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati
selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
“Pada
suatu saat, di akhir suatu masa yang lama, pintu barat Neraka Besar itu terbuka
... pintu utara Neraka Besar itu terbuka ... pintu selatan Neraka Besar itu
terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah dengan cepat ... Ketika
akhirnya ia mencapai pintu itu, pintu itu tertutup. Di sana ia merasakan
perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
19. “Pada suatu saat, para bhikkhu, di akhir suatu masa yang lama,
pintu timur Neraka Besar itu terbuka. Ia berlari menuju pintu itu, melangkah
dengan cepat. Ketika berlari itu, kulit luarnya terbakar, kulit dalamnya
terbakar, dagingnya terbakar, uratnya terbakar, tulangnya berasap; dan hal yang
sama terjadi ketika kakinya diangkat. Ia keluar melalui pintu itu.
20. “Persis
di sebelah Neraka Besar [185] adalah Neraka Kotoran yang luas. Ia terjatuh ke
dalam neraka itu. Di dalam Neraka Kotoran itu makhluk-makhluk bermulut jarum
mengebor kulit luarnya dan mengebor kulit dalamnya dan mengebor dagingnya dan
mengebor uratnya dan mengebor tulangnya dan melahap sumsumnya. Di sana ia
merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama
akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
21. “Persis
di sebelah Neraka Kotoran adalah Neraka Bara Api Panas yang luas. Ia terjatuh
di sana. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia
tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
22. “Persis
di sebelah Neraka Bara Api Panas adalah Hutan Pepohonan Simbali yang luas,
tingginya satu liga, berduri dengan duri-duri sepanjang enam belas lebar jari,
yang terbakar, menyala, dan berpijar. Mereka menyuruhnya memanjat pepohonan itu
naik dan turun. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa, menusuk.
Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
23. “Persis
di sebelah Hutan Pepohonan Simbali adalah Hutan Daun-pedang yang luas. Ia masuk
ke sana. Dedaunannya, digerakkan oleh angin, memotong tangannya dan memotong
kakinya dan memotong tangan dan kakinya; memotong telinganya dan memotong
hidungnya dan memotong telinga dan hidungnya. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
24. “Persis
di sebelah Hutan Daun-pedang adalah sungai besar berair tajam membakar. Ia
terjatuh di sana. di sana ia tersapu mengikuti arus dan melawan arus dan
mengikuti-sekaligus-melawan arus. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan,
menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya
belum habis.
25. “Kemudian
para penjaga neraka menariknya dengan kail, [186] dan menaikkannya ke atas
tanah, mereka bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ Ia berkata: ‘Aku
lapar, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan
penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan
mereka memasukkan bola besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan
berpijar ke dalam mulutnya, bola besi itu membakar tenggorokannya, membakar
perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa usus dan selaput pengikat
organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan menyakitkan, menyiksa,
menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari perbuatan jahatnya belum habis.
26. “Kemudian
para penjaga bertanya kepadanya: ‘Apa yang engkau inginkan?’ ia berkata: ‘Aku
haus, Tuan-tuan.’ Kemudian para penjaga neraka membuka paksa mulutnya dengan
penjepit besi yang panas membara, yang terbakar, menyala, dan berpijar, dan
mereka menuangkan tembaga cair yang terbakar, menyala, dan berpijar ke dalam
mulutnya. Tembaga itu membakar bibirnya, membakar mulutnya, membakar
tenggorokannya, membakar perutnya, dan menerobos keluar melalui bawah membawa
usus dan selaput pengikat organ dalam tubuhnya. Di sana ia merasakan perasaan
menyakitkan, menyiksa, menusuk. Namun ia tidak mati selama akibat dari
perbuatan jahatnya belum habis.
27. “Kemudian
para penjaga neraka melemparnya kembali ke dalam Neraka Besar.
28. “Pernah Raja Yama berpikir: ‘Mereka
yang di dunia melakukan perbuatan-perbuatan tidak bermanfaat sungguh akan
mengalami berbagai jenis siksaan yang dijatuhkan pada mereka. Oh, Semoga aku terlahir kembali menjadi manusia,
semoga seorang Tathāgata, yang sempurna dan tercerahkan sempurna, muncul di
dunia, semoga aku dapat melayani Sang Bhagavā itu, semoga Sang Bhagavā
mengajarkan Dhamma kepadaku, dan semoga aku memahami Dhamma Sang Bhagavā itu!’
29. “Para
bhikkhu, Aku mengatakan hal ini kepada kalian bukan sebagai sesuatu yang
Kudengar dari petapa atau brahmana lain. Aku mengatakan hal ini kepada kalian
sebagai sesuatu yang sebenarnya diketahui, dilihat, dan ditemukan olehKu
sendiri.” [187]
30. Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Setelah Yang
Sempurna mengatakan itu, Sang Guru berkata lebih lanjut:
“Walaupun
diperingatkan oleh para utusan surgawi,
Banyak
yang lalai,
Dan
orang-orang sungguh akan berdukacita dalam waktu yang lama
Begitu
pergi ke alam rendah.
Tetapi
ketika oleh para utusan surgawi
Orang-orang
baik di sini dalam kehidupan ini teringat,
Mereka
tidak berdiam dalam kelalaian
Namun
mempraktikkan Dhamma mulia dengan baik.
Dengan
takut mereka melihat kemelekatan
Karena
dapat mengakibatkan kelahiran dan kematian;
Dan
melalui ketidak-melekatan mereka terbebas
Dalam
hancurnya kelahiran dan kematian.
[Komentar : Dari sutta lainnya, yang dimaksud dengan
“hancurnya kelahiran dan kematian” artinya tiada lagi penjelmaan-baru, siklus
tumimbal-lahir (saṁsāra, Bahasa Pāli ini dibaca dengan lafal :
“sang-saa-ra”) terputus, Nibbana.]
Mereka
berdiam dalam kebahagiaan karena mereka aman
Dan
mencapai Nibbāna di sini dan saat ini.
Mereka
melampaui segala ketakutan dan kebencian;
Mereka
telah membebaskan diri dari segala penderitaan.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, para umat agama samawi
dibiasakan untuk meremehkan perbuatan-perbuatan buruk, baik perbuatan yang
kecil maupun yang besar, dengan menutup-mata dari bahaya ataupun konsekuensi
dibalik perbuatan-perbuatan buruk yang tercela tersebut. Meremehkan perbuatan buruk
maupun bahaya dibalik perbuatan buruk, sama artinya meremehkan ancaman Neraka yang
terbuka lebar di bawah kaki mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini,
silahkan nilai dengan akal-sehat, nurani, serta pikiran jernih milik Anda
sendiri, apakah “nabi rasul Allah” sedang merasa ketakutan masuk NERAKA dan
mencari akal untuk lolos dari NERAKA lewat dogma KORUP bernama “PENGHAPUSAN /
PENGAMPUNAN DOSA”, sehingga sang “nabi rasul Allah” menjelma KORUPTOR-DOSA,
dimana dosa-dosa pun dikorupsi, alias mengatasi satu jejak kejahatan dengan membuat
kejahatan baru lainnya. Bila atau jika sang “nabi rasul Allah” bersih dari dosa
maupun maksiat, mengapa yang bersangkutan mabuk, tergila-gila, serta
kecanduan-berat dogma “PENGHAPUSAN DOSA” sekalipun hanya seorang PENDOSA yang
butuh dogma KORUP demikian?—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]