Bagaimana Mungkin, Si Dungu yang Moralitasnya Jauh Dibawah Sang Buddha, Meremehkan dan Meragukan Moralitas Sang Buddha?

Hanya Orang Dungu yang Meremehkan Dhamma yang Dibabarkan oleh Sang Buddha

Question : Pernah ada film dari TIongkok, yang mengisahkan seorang biksu selalu merasa bosan dan mengantuk ketika mendengarkan khotbah Buddha. Bukankah itu sungguh mecelehkan Dhamma, dimana bisa jadi pembuat film tersebut tidak pernah membaca ataupun mendengarkan khotbah Buddha sebagaimana tertuang dalam Sutta Pitaka, Tipitaka? Semua orang yang telah pernah membaca khotbah-khotbah Buddha dalam Sutta Pitaka, seperti dalam Majjhima Nikāya, Dīgha Nikāya, Sayutta Nikāya, Aguttara Nikāya, dan sebagainya, akan merasa kagum dan terkesan pada ajaran-ajaran Buddha. Hanya orang yang tidak pernah membaca ataupun mendengar ajaran Buddha, yang meremehkan sebagai “tidak bagus” atau diskredit lainnya. Bukankah aneh, menyatakan “tidak bagus” akan tetapi tidak pernah mengetahui seperti apakah ajaran Buddha?

Agama Samawi Memelihara Dosa dan Maksiat Lewat Dogma KORUP Bernama PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA, Bukan Memeranginya

“Agama DOSA” Membuat Umatnya (Pendosa) Kecanduan Dogma KORUP Bernama PENGHAPUSAN DOSA

Umat Agama Samawi bahkan Tidak Mampu Membedakan manakah “Agama SUCI” dan “Agama DOSA”, Terlebih Membedakan antara si Bijaksana dan si Dungu

Question : Umat muslim hipokrit. Mereka membuat citra atau kesan seolah sangat anti dan memerangi perbuatan-dosa maupun maksiat. Katakanlah yang namanya perbuatan-dosa ataupun maksiat benar-benar bisa dipunahkan dari muka bumi. Pertanyaannya, jika tidak ada lagi dosa maupun maksiat, maka apa gunanya ritual agama islam yang setiap harinya terglla-gila berdoa memohon “penghapusan dosa”? Dapat kita balik pertanyaannya, bila setiap harinya umat muslim mabuk serta kecanduan-berat dogma “penghapusan dosa”, maka bukankah itu pertanda atau indikasi nyata tidak terbantahkan bahwa mereka melestarikan serta memelihara dosa-dosa maupun maksiat, alias punya KONFLIK-KEPENTINGAN?

Merusak Lingkungan Hidup Tidak Haram Hukumnya dalam Islam, karena Ritual Penghapusan Dosa Sebesar Isi Bumi pun HALAL HUKUMNYA

Yang Belum Meninggalkan Perbuatan Dosa namun Kecanduan Ritual “PENGHAPUSAN DOSA”, artinya BELUM TOBAT, justru Kian Parah dengan Menjelma KORUPTOR-DOSA dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi

Orang Indonesia Mayoritas Beragama Islam, namun Islam Versi FANTASI

Question : Apakah benar, menurut islam adalah dosa adanya melakukan pencemaran ataupun perusakan terhadap lingkungan hidup semisal dengan melakukan penambangan maupun penggalian yang merusak ekosistem maupun habitat alami flora dan fauna?

Yang Semestinya Diwaspadai oleh Umat Agama Samawi, ialah Sesama Umat Agama Samawi yang Kecanduan Ritual PENGHAPUSAN DOSA

Dengan meninggalkan ketamakan terhadap dunia, ia berdiam dengan pikiran bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih demi kesejahteraan makhluk-makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian.” [SANG BUDDHA]

Question : Mengapa terdapat kesan, di mata umat agama samawi, manusia yang berbahaya dan patut mereka perangi serta musuhi, bahkan punahkan, ialah kaum “non-agama samawi”? Bukankah yang paling membawa ancaman serta berbahaya, ialah orang-orang yang tidak takut berbuat kejahatan alias sesama umat agama samawi itu sendiri yang setiap harinya kecanduan ritual doa “penghapusan dosa”?

Cara Kerja HUKUM KARMA Tidak Seindah dan Tidak Seideal Apa yang Dibayangkan oleh Kebanyakan Umat Buddhist

Apakah HUKUM KARMA adalah Adil Adanya? Sang Buddha bahkan Tidak Pernah Menyatakan bahwa HUKUM KARMA adalah Adil Adanya ataupun bahwa ia Patut untuk Dilekati

Sebaliknya, Pangeran Siddhatta Gotama justru Berjuang untuk Memutus Belenggu Rantai Karma (Nibbana, Break the Chain / Shackle of Karmic Law)

Dari pengamatan pribadi, kurang dari satu persen umat Buddhist yang sekalipun rutin mengunjungi vihara selama puluhan tahun, telah pernah membaca atau mendengar khotbah-khotbah otentik Sang Buddha sebagaimana tertuang dalam Tipitaka. Akibatnya, banyak pemahaman keliru yang menguasai cara berpikir mayoritas umat Buddhist di Tanah Air. Mereka tidak ingin masuk Nibbana, dan berdelusi-ria bahwa menanam Karma Baik sudah cukup bagi mereka sebagai jaminan hidup bahagia dan aman serta sentosa baik di kehidupan masa kini maupun sebagai modal bagi kehidupan berikutnya. Mereka yakin, dengan melakukan kebaikan-kebaikan di kehidupan masa kini, maka kehidupan berikutnya terjamin tidak akan terlahir-kembali ke alam rendah, namun akan kembali-terlahir ke alam bahagia. Pandangan yang berkembang di tengah komunitas Buddhist perihal Hukum Karma, bisa dikatakan adalah “versi fantasi” mereka sendiri.

Ada yang Harus Kita Hindari dan Tidak Melatihnya, juga Ada yang Tidak Perlu Kita Hindari dan Perlu Melatihnya

Sekalipun Mengalami Kesakitan dan Kesedihan dengan Menghindari Perbuatan Buruk, Berbuah Kebahagiaan di Kehidupan Mendatang

Question : Dalam agama samawi seperti islam, yang mereka perhatikan hanyalah apa yang mereka makan, halal ataukah tidak halal (haram). Sementara itu persoalan perbuatan ataupun perilaku mereka sama sekali tidak diberikan bobot perhatian, mengingat dalam islam ada anekdot klise yang sangat kontraproduktif terhadap “standar moral” peradaban umat manusia, yakni : Babi, haram. Penghapusan dosa (bagi pendosa), halal. Mengapa terhadap dosa maupun maksiat, mereka begitu kompromistik; akan tetapi terhadap kaum yang berbeda keyakinan, mereka begitu intoleran?

Umat Agama Samawi Gemar PAMER DOSA Tanpa Rasa Malu ataupun Takut Atas Konsekuensinya, bahkan Merasa Bangga Mempertontonkan Sifat dan Sikap Jahat

Agama Samawi Bukanlah AGAMA SUCI, namun AGAMA DOSA yang Mempromosikan PENGHAPUSAN DOSA bagi KORUPTOR-DOSA, alih-alih Mengkampanyekan Gaya Hidup Higienis dari Dosa maupun Maksiat

KORUPTOR-DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi. Namun Orang Buta Memandangnya sebagai “Kembali ke Fitri” (Kembali ke NERAKA)

Ketika kita disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh umat agama samawi, tanyakanlah apa agama mereka yang menyakiti, melukai, maupun merugikan kita. Tanpa malu, mereka akan mengaku sebagai beragama samawi, bahkan mengenakan busana agamais. Selama ini mereka bermulut-besar mengenai agama, tuhan, neraka, surga, kitab, ayat, nabi, namun perihal tanggung-jawab, NOL BESAR. Mengapa mereka tidak malu juga tidak takut berbuat buruk, jahat, serta tercela?—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

Sejahat apakah Māra si Jahat?

Bila Anda merasakan Fenomena Sosial dengan Pola yang Ganjil dan Janggal, Kita Patut Curiga Adanya Keterlibatan “Māra si Jahat dan Penghasut” Dibaliknya

Sejahat apakah Māra? Penulis pernah berulang kali dibuat hampir mati oleh satu orang “manusia jahat yang bersekutu dengan iblis bernama dukun ilmu hitam”. Namun yang paling membuat penulis merasa heran dan tidak dapat memahaminya, orang-orang terdekat penulis sekalipun, tidak mau menolong, juga siapapun itu tidak mau menolong, mengabaikan, seolah mata mereka tertutup tembok tebal yang gelap. Bahkan, dewa pun mengabaikan kejahatan demikian berlangsung selama puluhan tahun. Keanehan tersebut, bukan terjadi untuk satu atau dua kali, namun selalu terjadi selama hampir separuh abad lama usia penulis.