When you or someone abuses another person,
That is called abusing one’s own power.
When you or someone steals another person’s belongings,
That is called abusing one’s own hands.
Website untuk Mengenal Ajaran Otentik SANG BUDDHA bagi Kaum Ateis, Umat Agama Samawi, maupun bagi Sahabat Buddhist. Temukan Bukti SQ Linear dengan IQ
When you or someone abuses another person,
That is called abusing one’s own power.
When you or someone steals another person’s belongings,
That is called abusing one’s own hands.
There are some members of our society,
Who are so ridiculously proud of being an alcoholic,
And feel proud of being someone who is drunk, as if it were cool and funny.
There are some members of our society,
Who are so ridiculously proud of being a tobacco addict,
And feel so proud of being attached and enslaved by it, being a slave to tobacco.
Jangan bersikap seolah-olah
tidak bisa hidup tanpa mengonsumsi zat-zat yang memabukkan dan melemahkan
kesadaran,
Sekalipun banyak buktinya
mereka yang bisa bertahan hidup dan melanjutkan hidup tanpa zat-zat memabukkan
yang melemahkan kesadaran.
Jangan bersikap seolah-olah
tidak bisa menemukan kebahagiaan hidup tanpa merampas kebahagiaan orang lain,
Mereka yang kreatif tidak pernah merampas kebahagiaan orang lain untuk menjadi berbahagia.
HAPPY ENDING, Jauh Panggang dari Api dengan Realita Dunia Dibawah Kendali Tuhan : Kesenjangan Ekonomi, Mafia Tanah dan Hukum, Pejabat Korup, serta Pelaku Usaha Kartel Harga Dibiarkan Merajalela, Dipelihara, serta Berkeliaran Mencari Warga yang Lemah sebagai Mangsa Empuk
Tuhan Ibarat Profesor LING-LUNG, Terus Mencobai Manusia
Sekalipun Umur Umat Manusia Sudah Setua Usia Planet Bumi
Saat ulasan ini ditulis, terdapat sebuah Chinese Drama berjudul “FORTUNE WRITER” yang rilis pada tahun 2024. Kisahnya cukup menarik bila tidak bisa dibilang tidak lazimnya kisah-kisah drama mainstream, tokoh utamanya justru ialah tokoh antagonis yang jahat, sehingga jalannya alur cerita menggunakan persepsi dan perspektif sang tokoh antagonis yang “evil and venom”. Tuhan bagaikan sedang bercanda, bermain-main dan menjadikan lelucon nasib umat manusia, semua manusia dijadikan “pion” demi merealisasikan “naskah kisah” ciptaan Tuhan yang sedang bereksperimen-ria sehingga manusia ibarat kelinci percobaan. Ada yang dibuat berperan menjadi manusia jahat lengkap dengan sifat jahatnya, ada juga tokoh baik yang menjadi pahlawan, namun lebih banyak manusia-manusia yang lemah dan kurang tampan sekadar menjadi tokoh figuran semata.
Kekuatan Rasa Malu (hiri) dan Rasa Takut (ottappa)
Question: Ada kalangan umat dari agama-agama samawi, yang merasa paling superior dan begitu bangga menjadi pemeluknya sampai-sampai mengajak hingga memaksa orang lain untuk masuk ke agama mereka. Tapi, apakah artinya betul mereka agama yang kaya akan ajaran baik dan kesucian?
Bahaya Melafalkan Paritta dengan Intonasi Dilagukan
Buddhisme memiliki filosofi, keheningan dan senyap adalah musik terindah. Ketika bermeditasi, kita tidak perlu bernyanyi ataupun mendengarkan nyanyian / lagu apapun. Pada umat kristiani kerap mengejek para umat Buddhist sebagai “agama patung”, karena mereka anggap sebagai penyembah yang menyembah patung dan beribadah dengan cara yang sehening “patung” (tidak norak). Namun tahukah Anda, lebih baik menjadi “agama patung” daripada “agama penjilat bokong (kue sus)”. Lihat, betapa noraknya umat kristiani, kemana-mana memakai liontin bergambar kue sus disalib—lahirnya di kandang ternak, matinya berdarah-darah disalib, dengan hanya mengenakan celana dalam, sungguh hina-dina. Jangan lupa, salib adalah tempat atau simbol dimana para penjahat pada masanya itu disalib dan dihukum mati. Tragis, lahir kotor di kandang ternak dan mati diatas salib, dengan hanya memakai “kolor”, AGAMA KOLOR.
Tanpa Istrospeksi Diri dan Latihan Self-Control, Determinisme Genetik menjadi Mutlak dan Permanen
IBLIS Melahirkan IBLIS, PENJAHAT Melahirkan PENJAHAT
Question: JIka genetik memang memegang tanggung-jawab seseorang menjadi seorang malaikat atau menjadi seorang penjahat yang menyerupai iblis, maka apakah artinya manusia menjadi budak genetiknya sendiri tanpa adanya pilihan bebas? Jika tidak punya pilihan bebas, apakah artinya dapat dimintakan pertanggung-jawaban atas perbuatan-perbuatan buruk seseorang? Bila tidak dapat dimintakan pertanggung-jawaban, maka bukankah artinya orang tersebut tidak dapat dihukum, entah di dunia manusia seperti penjara ataupun di alam baka berupa neraka?
Penjelasan Sosiokultural mengapa Indonesia Gagal Membendung Fenomena JUD! ONLINE
Alih-Alih Ditabukan dan Merasa Malu, justru Merasa Bangga,
Mempromosikan, dan Merasa Paling Superior, itulah para PENDOSAWAN Pemeluk AGAMA
DOSA
Sekolah negeri bertaburan di negeri bernama Indonesia ini, dimana setiap tahunnya APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) digelontorkan untuk pembangunan sekolah dan menggaji guru. Berbagai tempat ibadah begitu bersahut-sahutan membahanakan praktik “narsisisme” dan “norakisme”, bahkan seolah bersaing dengan gonggongan anjing warga setempat, dimana ayat-ayat mereka kumandangkan lewat pengeras suara eksternal yang masuk gelombang suaranya hingga ke dalam lubang jamban kediaman warga. Namun telah ternyata, begitu keropos dan rapuhnya fungsi dan peran guru maupun para pemuka agama kita.
DOSA dan PENGHAPUSAN DOSA, LEBIH AURAT DARIPADA AURAT
Sekujur Tubuh Ditutupi, namun Dosa dan Penghapusan
Dosa Diubar, Dikampanyekan, Dipromosikan, bahkan Dipertontonkan secara Vulgar
oleh Para Pendosawan yang Berdelusi Memonopoli Alam Surgawi
Question: Selama ini agama samawi dikenal sebagai agama yang umatnya paling suka pamer “paling sibuk” beribadah setiap harinya. Namun benarkan begitu, cara menjadi seorang spiritualis yang benar-benar layak dikagumi dan dipuji? Besar sekali mulut mereka bericara perihal Tuhan dan alam surga, lengkap dengan pakaian atau busana agamais mereka.
Janganlah Menghakimi Orang Lain ataupun Berbangga Diri Lewat Tes IQ
Question: Apakah tes IQ, memang akurat ataukah mitos saja sebenarnya?
Teori BIG BANG Bukan Kali Pertamanya Dicetuskan oleh Stephen Hawking, namun oleh Sang Buddha
Betapa Kerdil dan Narsistiknya Agama-Agama Samawi,
dan Betapa Luasnya Agama Buddha. Berkeyakinanlah pada yang BESAR, Bukan pada
yang KERDIL
Question: Apakah di Agama Buddha, ada dibahas tentang alam semesta? Kalaupun ada disebutkan, seluas apakah jagat raya semesta ini menurut Buddha?
Yang Lengah, akan Terhantam Ombak dan Terseret Hanyut, akan Tewas Akibat Terguncang Jiwanya
Yang Bersikap Waspada dan Siap secara Mental, Setidaknya
Telah Siap secara Psikis, akan Lebih Besar Peluang untuk Selamat dari Terpaan
Ombak Kehidupan
Sepenting dan Se-vital Itulah Persiapan Mental dan
Jiwa Kita
Ada banyak benarnya adagium “si vis pacem para bellum”—jika ingin hidup damai, maka bersiaplah untuk perang. Kita memang dituntut keadaan, keadaan mana jarang sekali berjalan ideal sebagaimana kita kehendaki—untuk mempersiapkan diri, jiwa, pikiran, dan mental secara sebaik-baiknya, terutama antisipasi maupun mitigasinya untuk “the worst case scenario”. Berikut salah satu puisi yang penulis susun khusus untuk itu, yang mungkin dapat memberikan inspirasi bagi para pembaca:
Umat Manusia Tidak akan Punah Sekalipun Ada Sebagian
diantara Masyarakat Kita yang Memilih untuk Menjalani Hidup sebagai Petapa yang
Berlatih SELF-CONTROL dengan Hidup Selibat
Yang Hebat ialah yang Mampu Melepas, Bukan yang Mengambil dan Menjadikan Milik (Memiliki dan Melekatinya)
Dalam Buddhisme, hidup adalah pilihan, dimana kehendak bebas (free will) dihargai dan dihormati sebagai hak asasi manusia itu sendiri. Tidak ada dogma-dogma berisi ancaman dalam Buddhistik, baik Anda memilih untuk menikah ataukah tidak menikah. Selebihnya, ialah perihal konsekuensi dibalik setiap pilihan. Karenanya, rumusan dalam Buddhisme menjadi sebagai berikut : hidup adalah pilihan, lengkap dengan masing-masing konsekuensinya. Meminjam istilah dari Ajahn Brahm, bhikkhu asal Inggris yang setelah menjalani latihan hidup sebagai “bhikkhu hutan” di Thailand sebelum kemudian menjadi kepala dari salah satu vihara di Australia, membagi menjadi dua konsekuensi dibalik pilihan bagi seseorang untuk berumah-tangga atau untuk hidup selibat, yakni “dukkha orang yang hidup berumah-tangga” dan “dukkha orang yang hidup selibat”.
Gerakan Konsumen yang Sadar Kelestarian Lingkungan, BOIKOT PRODUK-PRODUK KEMASAN YANG TIDAK RAMAH LINGKUNGAN
Wariskan Alam yang Bersih dari Sampah, Bukan Alam
yang Rusak oleh Tumpukan maupun Ceceran Sampah
Satu dekade lampau, sampah / limbah bekas kemasan produk konsumsi berupa beling / kaca, diterima oleh pengepul sehingga kalangan pemulung kerap memulung limbah domestik rumah-tangga dari berbagai daerah pemukiman penduduk berupa kemasan beling. Patut kita apresiasi, langkah pemerintah yang melarang pemberian kantung plastik bagi konsumen pada ribuan minimarket, karena tarafnya sudah sangat mencemaskan serta memprihatikan. Adapun produk-produk dengan kemasan plastik, sekalipun juga merupakan limbah domestik rumah-tangga, namun setidaknya masih memiliki nilai ekonomis di mata para pemulung maupun pengepul botol-botol plastik bekas, yang karenanya sedikit atau banyaknya dapat mengurangi volumen sampah yang mencemari sungai, danau, hingga lautan. Sayangnya, regulasi terkait sampah domestik berupa kemasan berupa beling, tidak mendapat perhatian dari regulator baik di pusat maupun di daerah.
Versi Singkat Āṭānāṭiyasuttaṃ
Question: Dalam sutta teks Pali, ada sutta yang bernama Āṭānāṭiyasuttaṃ, dikenal luas oleh kalangan umat Buddhist digunakan untuk menghadapi gangguan makhluk-makhluk tidak kasat mata yang jahat. Masalahnya untuk membaca dan menyuarakan paritta satu ini, sangat menguras energi serta waktu, Adakah solusinya, semisal sutta versi singkat dari Āṭānāṭiyasuttaṃ ini?
AGAMA BAGI ORANG RASIONAL Vs, AGAMA BAGI ORANG IRASIONAL, Anda yang Mana?
Berbuat Dosa / Kejahatan (Merugikan, Melukai, maupun
Menyakiti), namun Mengharap Masuk Surga, INSANE
Question: Banyak sekali kita jumpai orang-orang yang melakukan hal yang sama, berulang-ulang, namun mengharap hasil yang berbeda. Kata Albert Einstein, itu “INSANE”, alias “tidak logis”, “tidak waras”, dan “tidak rasional”. Namun apakah ada, yang lebih parah sifatnya daripada sekadar “INSANE”?
Dosa adalah Nikmat di Mata DOSAWAN, namun adalah Derita di Mata seorang SUCIWAN. Meditatif, Hening, dan Higienis dari Dosa adalah Kebahagiaan di Mata seorang SUCIWAN, namun adalah Derita di Mata para DOSAWAN
Ketika Umat Pemeluk AGAMA DOSA Berdelusi sebagai
Agama yang Paling Superior dan Bangga Mempromosikan Ideologi Korup bernama Iming-Iming
“Penghapusan Dosa”, alih-alih Merasa Malu
Seperti kata anekdot klasik yang ternyata masih relevan hingga saat kini, “don’t judge the book by the cover”, dalam kesempatan ini hendak penulis tambahkan dan lengkapi menjadi “jangan pula menilai sebuah kitab dari nama yang dilekatkan sebagai ‘Kitab SUCI’”, namun lihat dan nilai isi substansinya. Dalam istilah dunia politik dan marketing, upaya manipulatif-pengelabuan demikian diberi istilah sebagai “framing”, alias membingkai dan menghiasinya dengan “make up” pemutih kulit wajah agar tampak menarik dan mengundang minat masyarakat. Jangan menelan secara mentah-mentah nama dari sebuah buku (kitab agama) ataupun nama suatu alam.
Perbedaan antara Agama Buddha dan Agama Samawi, Buddhisme
adalah Perihal Hukum Tabur-Tuai, sementara Agama Samawi Menina-Bobokan Para
Pendosa lewat Iming-Iming Penghapusan Dosa
Kabar Baik bagi Pendosa, sama artinya Kebar Buruk bagi Kalangan Korban
Question: Di negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha, para kriminil yang bermasalah dengan hukum adalah para Buddhist, maka bukankah itu artinya umat agama Buddha sama saja alias tidak berbeda dengan umat agama lain yang juga banyak bermasalah dengan hukum?
Dukkha Tertinggi menurut Pandangan Agama Buddha
Neraka Bukanlah Dukkha Tertinggi, namun adalah Siklus Lingkaran Samsara alias Tumimbal Lahir Tidak Berujung dan Tidak Kenal Akhir
Question: JIka dalam agama-agama samawi yang kini mendominasi para umat manusia, keyakinan mengenai adanya alam surga maupun alam neraka setelah ajal seseorang tiba, merupakan pamuncak alias akhir episode dari seorang manusia. Apakah Buddhisme memiliki tujuan akhir dan siksaan abadi berupa surga dan neraka seperti pandangan agama-agama samawi tersebut?
Jangan seperti Katak dalam Tempurung yang Dangkal dan Kerdil Cara Berpikir maupun dalam Bersikap
Question: Mengapa di dunia ini, masih saja ada banyak manusia yang menyebalkan, seolah-olah dunia ini kekurangan orang-orang yang “toxic” maupun yang menyebalkan?
Bertanggung Jawab dan Penuh Tanggung Jawab dan menjadi Suciwan yang Melawan Arus Keduniawian, Jelas merupakan Dukkha
Menjadi Pendosa Penjilat Penuh Dosa yang Setiap
Harinya Mengharap dan Memohon Penghapusan Dosa, Jelas merupakan “Nikmat”
Meminta dan Diberi adalah Nikmat (ala Pemalas).
Menanam Karma Baik untuk Dipetik dan Dipanen adalah Meletihkan.
Bertanggung-Jawab ala Ksatria adalah Menakutkan di Mata para Pengecut dan
Pecundang Kehidupan
Question: Apa latar belakangnya, agama samawi mengajarkan dan mengklaim bahwa hidup pemberian Tuhan adalah nikmat, sementara itu Agama Buddha justru menyatakan bahwa hidup adalah duka?
Ketika Puluhan Nabi Utusan / Rasul Tuhan GAGAL TOTAL
Memusnahkan Satu pun Maksiat / Dosa Paling Primitif dari Muka Bumi, Tuhan pun
Meradang
Ketika Nabi Utusan Tuhan justru Mempromosikan dan
Mengkampanyekan Maksiat Lengkap dengan Iming-Iming Penghapusan Dosa = Kabar Baik
bagi PENDOSA
Messenger yang Mewartakan Kabar Baik bagi PENDOSA = Kabar
Buruk bagi para KORBAN
Alam Neraka merupakan Simbol / Monumen Kegagalan Tuhan
yang Tidak Benar-Benar Berkuasa atas Pilihan HIdup maupun Pikiran Umat Manusia
Question: Konon menurut satu dogma agama tertentu, puluhan
orang nabi telah Tuhan (versi mereka) turunkan ke dunia ini untuk memerangi
maksiat dari muka bumi. Namun, mengapa sampai detik ini masih juga ada begitu
banyaknya maksiat-maksiat paling primitif yang sudah dikenal umat manusia sejak
era pra sejarah maupun maksiat-maksiat zaman purbakala seperti praktik
pemerkosaan, menyembah batu, merampok, mencuri, membunuh, menganiaya,
pemerasan, mabuk kawin, dan dosa-dosa ataupun maksiat-maksiat lainnya?
Singkatnya, mengapa tidak ada satu pun maksiat yang berhasil diberantas oleh
puluhan nabi utusan atau rasul dari Tuhan tersebut? Mengapa juga Tuhan
bergantung atau mengandalkan sosok semacam nabi untuk menjadi “messenger” seolah-olah Tuhan kalah
canggih dengan teknologi broadcast semacam radio ataupun televisi?
Manusia dilahirkan lengkap dengan seperangkat “software” dalam otak dan genetik mereka dari sejak lahir, tidak terkecuali watak atau sifat-sifat buruk sang manusia, tentu itu bukan salah bunda mengandung, juga bukan salah si manusia yang tidak pernah memilih ataupun meminta untuk dilahirkan, tapi adalah hasil penciptaan Tuhan itu sendiri. Sehingga, jika mau disalahkan, Tuhan semestinya menunjuk hidung Tuhan sendiri sebagai pelaku “aktor intelektual” segala aksi kejahatan dan maksiat demikian untuk dituntut pertanggung-jawaban. Bukankah katanya konon tiada apapun yang dapat terjadi tanpa seizin, kuasa, maupun rencana Tuhan, tidak terkecuali terjadinya segala tindak kejahatan maupun maksiat dan dosa-dosa lainnya?
Nilai dari Cara Seseorang Berpikir, Berbicara, dan Berperilaku
Ada sebagian diantara anggota masyarakat kita—atau mungkin juga sebagian mayoritas dari masyarakat kita—di Indonesia ini bahwa seorang manusia secara ekstrim tidak perlu menerapkan gaya hidup sehat maupun gaya hidup bersih, toh masih bisa hidup. Semisal, mereka memberi contoh, tukang sampah yang setiap harinya mengangkuti sampah dari rumah ke rumah, tanpa sarung tangan, bahkan banyak diantara masyarakat kita yang makan tanpa terlebih dahulu mencuci tangannya baik-baik dengan sabun, bahkan juga berbagai penjual masakan kita tidak mencuci sayur-mayur lalapan yang mengandung pestisida, larva cacing, kotoran binatang liar, dan kimia karsinogenik lainnya dalam proses penanaman, panen, maupun distribusi hingga penyajian, toh mereka semua masih bisa hidup sampai dewasa dan tua pada realitanya. Mereka juga kerap memberi ilustrasi kalangan penghisap bakaran tembakau, masih sehat-sehat saja.
Satu Tangan Berbuat Baik, Tangan Lainnya Memohon “Penghapusan / Pengampunan Dosa”, Dua Preposisi yang Tidak Pernah Sejalan, Bertolak-Belakang
Terdapat sebuah tempat ibadah “norakisme” ala “narsistik” di dekat kediaman penulis, pada suatu Jum’at tengah hari seorang pemuka agama mereka lewat pengeras suara eksternal yang luar biasa membahana, berceramah perihal berbuat kebajikan, pentingnya amal kebaikan, dan segala perbuatan baik lainnya dalam rangka agar sang umat dapat diterima di kerajaan Tuhan yang mereka sembah. Tampaknya tidak ada yang salah dengan ceramah tersebut, namun pemuka agama yang sama pada malam harinya kembali berceramah pada tempat ibadah yang sama, dengan toa pengeras suara yang sama membahananya, akan tetapi dengan topik yang berbeda, yakni mengenai “pengampunan / penghapusan dosa”—yang mana notabene kedua topik tersebut sejatinya saling menegasikan alias saling menihilkan serta bertolak-belakang satu sama lainnya antar dogma, inkonsisten.
AKAL DOSA Milik para Pendosa Vs. AKAL BAIK Milik Orang-Orang Baik
Ketika Agama Bertentangan dengan Kemanusiaan, maka
Itulah Agama yang Harus Dilarang sebagaimana Kita Melarang Agama Liberal!s,
Agama Hedonistis, maupun Agama Komunistis
Question: Apa ada kiat, agar kita dapat memilih agama yang tepat dan baik untuk kita peluk dan praktikkan di keseharian serta untuk kita kelak kenalkan maupun wariskan kepada anak-cucu kita?
Orang Indonesia Tidak Pernah Cukup Berbuat Satu buah
Kejahatan / Keburukan
Hidup Berdampingan dengan Orang yang Tidak Malu dan
Tidak Takut Berbuat Jahat & Buruk (Dosa) akibat Memakan dan Termakan
Ideologi Korup Bernama PENGHAPUSAN DOSA (abolition
of sins)
Hanya seorang Pendosa, yang Butuh Penghapusan / Pengampunan / Penebusan Dosa. Pendosa, hendak Berceramah Perihal Keadilan maupun Hidup Suci?
Question: Mengapa ya, masyarakat kita di Indonesia suka sekali melakukan hal yang buruk terhadap kita, sesama warga, namun ketika kita protes, berkeberatan, melawan, atau membalas perbuatannya, mereka justru kian menjadi-jadi dengan kembali berbuat buruk dan jahat terhadap kita secara lebih jahat lagi sifatnya, seolah-olah melakukan satu buah hal buruk belum terlampau buruk dan belum terlampau jahat bagi mereka? Padahal, negara ini tidak pernah kekurangan orang-orang yang “agamais”, rajin beribadah, dan mengaku ber-Tuhan, serta membungkus tubuhnya dengan busana keagamaan. Singkatnya, mengapa di Indonesia, selalu saja lebih galak yang ditegur daripada korban yang menegur mereka?
Tidak Pernah ataupun Jarang Berbuat Baik, sama artinya sedang Bersikap Egois terhadap Dirinya Sendiri
Bukan Tidak Ada Kesempatan Berbuat Baik, namun
Manusia Dungu cenderung Mengabaikan dan Menyepelekannya
Tentulah kita pernah atau sering mengamati dan mengalami langsung, bagaimana petugas pelayanan pada loket-loket pelayanan di kantor pemerintahan ataupun petugas pelayan di berbagai minimarket, beragam watak atau karakternya. Namun yang umum kita jumpai di Indonesia ialah, sikap kurang ramah alias aroganistik oleh Aparatur Sipil Negara alias Pegawai Negeri Sipil kita (terutama yang sudah lama bekerja di kantor pemerintahan) maupun pelayanan yang “standar-standar” saja pada pertokoan swasta—seolah-olah hanya kita yang “butuh” mereka, sekalipun sumber gaji mereka ialah apa yang dibayarkan oleh wajib pajak maupun oleh konsumen. Adapun “kami siap melayani dengan hati” masih sekadar jargon, dan mereka tampaknya cukup berpuas diri membodohi publik yang terbodohi lewat umbar jargon yang minim esensi demikian.
Ketika Masih Minoritas, Menuntut dan Menikmati Toleransi. Ketika telah menjadi Mayoritas, para Muslim justru Ingin Meniadakan Toleransi yang Dahulu Mereka Tuntut dan Nikmati, Menggantikannya dengan Intoleransi, Represi, serta Teror (Kitab Jawa DHARMO GHANDUL). Pola yang Sama Selalu Berulang dan Terulang di Setiap Negara
Memakan dan Termakan HOAX, Sebelum Kemudian Turut
Reproduksi HOAX tersebut, adalah DOSA—Fitnah Itu Sendiri
Fenomena Sarjana HOAX, Bergelar Sarjana namun Menu
Makanannya ialah HOAX
Belum lama ini, penulis berkomunikasi dengan seorang teman satu almamater yang bergelar sarjana bahkan memperoleh Strata-2 dari Fakultas Hukum di Tanah air, yang mana gelar kesarjanaan bermakna yakni mereka yang telah (semestinya dan seharusnya) tergolong intelek—cendekiawan (kalangan cerdik dan pandai) sebagai bagian dari lingkaran kaum intelektual, yang mana seyogianya juga bersikap ilmiah nan empirik, telah ternyata fakta berikut ini memperlihatkan realita yang sebaliknya sekaligus membuktikan betapa bahayanya “hoax”, yang dalam banyak kasus bahkan menyerupai ideologi itu sendiri—meyakini secara membuta, apapun faktanya, meyakini apa yang ia yakini ataupun meyakini apa yang ingin mereka yakini atau meyakini apa yang diyakini oleh mayoritas publik (keyakinan pada umumnya, tidak selalu benar adanya).
KONSISTENSI artinya, Sebagaimana Apa yang Dikatakan maka Demikianlah yang Dilakukan; Sebagaimana yang Dilakukan maka Demikianlah Dikatakan. Melakukan Apa yang Dikatakan dan Mengatakan Apa yang Benar-Benar Dilakukan—Tiada yang Lebih Indah dari Komitmen Tanpa Cela antara Perbuatan dan Ucapan
Question: Bagaimana cara menilai suatu ideologi berbau keagamaan, apakah agama tersebut memang benar lurus, suci, dan mulia, ataukah seperti tingkah kelakuan para penipu, di mulut dan di wajah tampak baik dan mulia namun kotor dan busuk di hati ataupun didalamnya? Jangan-jangan iblis berwajah dan berbulu malaikat, sangat mengecoh dan menjebak, sungguh berbahaya.
AGAMA DOSA, Agama yang Mempromosikan Penghapusan Dosa bagi para Pendosa alih-alih Mengkampanyekan Hidup Bersih Bebas dari Perbuatan Dosa
Hanya PENDOSA yang Butuh Penghapusan / Pengampunan /
Penebusan Dosa
Question: Bagaimanakah ciri-ciri atau kiat untuk secara mudahnya bagi kita untuk mampu membedakan mana yang merupakan “agama dosa” dan mana yang merupakan “agama suci”? Sebagaimana kita ketahui, semua marketing pasti akan mengemas produk mereka sebagai “kecap Nomor 1”, sekalipun produk mereka sebenarnya berbahaya bagi kesehatan konsumennya, menutup-nutupi bahaya penggunaan produk yang mereka jajakan kepada masyarakat, menjual iming-iming dan harapan atau khasiat semu semata demi self-interest, tidak terkecuali marketing berbagai “agama dosa” yang diberi kemasan label merek “agama suci” dalam rangka menjaring umat sebanyak-banyaknya sehingga pada akhirnya benar-benar menjadi mayoritas seperti dewasa ini.
Jangan Bersikap Seolah-Olah Tidak dapat Melangsungkan
Hidup Tanpa Bersikap Jujur dan Beretika dalam Berusaha / Berbisnis
Kita akan Hidup Sejahtera, bila Moralitas Kita Terjaga, itulah Ketenteram Hidup, Kebahagiaan dalam Moralitas.
Pernah ada seorang pelaku usaha bernama Eddy Santoso Tjahja yang secara tidak etis menyatakan, bahwa bila pelaku usaha berhasil “mengakali” dan “mengadali” pemerintah, semisal Kantor Pajak, maka kelicikan maupun kelihaian pelaku usaha tersebut patut diganjar “reward” alias diberi apresiasi berupa lepas dari jeratan beban pajak, seolah hidup ini ialah persoalan “adu kelihaian” dan “adu kelicikan”. Namun yang menggelikan ialah, pelaku usaha bernama Eddy Santoso Tjahja ini tidak lama sebelumnya telah menjadi korban modus “transfer pricing” (profit shifting) oleh korporasi “penanam modal asing” bernama JobsDB yang bermarkas-pusat di Hongkong, sehingga tidak pernah mendapatkan hak deviden selaku pemegang saham minoritas sebelum kemudian Eddy Santoso Tjahja dipecat secara tidak hormat oleh PT. JobsDB Indonesia dari jabatan Direksi karena kedapatan melakukan praktik eksploitasi tenaga kerja manusia yakni para pegawai JobsDB, yang menyerupai perbudakan demi kepentingan usaha pribadi Eddy Santoso Tjahja yang memiliki benturan kepentingan sehingga menyalahgunakan kedudukannya selaku direktur pada JobsDB Indonesia.
Beribadah Semestinya Melihat ke Dalam Diri, Bukan Justru Lebih Sibuk Menghakimi Kaum Lainnya
Pendosa adalah Busuk, Kotor, Tercela, dan Ternoda,
namun Memandang Dirinya sebagai Umat dari “Agama SUCI”? Jika yang Sekotor itu Disebut
sebagai Umat dari ”Agama SUCI”, Lantas yang Disebut sebagai “Agama DOSA”
seperti apakah?
Yang Kotor dan Tercela Penuh Noda Dosa hendak Bersatu
dengan Tuhan? Bagai Minyak hendak Bersatu dengan Air, Api hendak Bersatu dengan
Es, Niscaya ataukah Mustahil?
Question: Umat dari agama apakah, yang paling berbagia di Muka Bumi ini?
Regulator Idealnya Mengatur secara Inovatif serta Pelayanan Berbasis Pengalaman Pengguna (Users Experience), agar Pelayanan Publik dapat Terselenggara secara Optimal
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Question: Memangnya mengapa dan untuk tujuan apakah, pemerintah dalam hal ini lewat otoritas semacam KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) maupun seperti Kementerian Perdagangan harus atur dan intervensi pasar, harga komoditas, distribusi niaga, dan sebagainya?
Agama SUCI Vs. Agama KSATRIA, Vs. Agama DOSA
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Question: Bukankah berbuat keliru, adalah manusiawi sifatnya dan semua orang bisa serta telah pernah berbuat keliru?
Penyebab PT. POS Indonesia menjadi Duri dalam Daging bagi Rakyat Indonesia
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Question: Sejak era maraknya jual-beli “online” (daring)
via marketplace, dimana pembeli cukup
berada di rumah dan paket berisi barang belanjaan dikirim oleh kurir sampai ke
rumah pembeli, menjadi titik dimulainya fenomena tumbuh subur berbagai pilihan perusahaan
ekspedisi yang bertumbuhan, sehingga kini tersedia beragam pilihan kurir
ataupun jasa ekspedisi, bahkan dengan ongkos kirim yang kian terjangkau (karena
kompetitif) dan semakin memanjakan masyarakat selaku pembeli. Ada pilihan bebas
bagi konsumen untuk memilih kurir sesuai minat, sehingga masyarakat kita dewasa
ini kian gemar membeli barang secara “online”.
Pertanyaannya, dimana rasanya tidak masuk akal, mengapa PT. POS Indonesia tidak menjadi pilihan warga sebagai perusahaan kurir dalam mengirim paket ataupun dokumen surat serta turut menikmati “kue” peningkatan serta pertumbuhan pemakaian jasa kurir dan pengiriman barang di Indonesia yang konon tertinggi konsumen pemakai jasa pembelian “online”? Apa yang sebetulnya melatar-belakangi fenomena “lain sendiri” ini, sehingga PT. POS Indonesia selalu tertinggal di belakang sebagai “pemain” dalam industri ekspedisi, bahkan lebih banyak menjadi “penonton”, sementara itu perusahaan ekspedisi swasta serupa kian menjamur kantor cabangnya ataupun merek-nya?
Lebih Dilematis menjadi seorang Anak daripada Orangtua
Question: Mengapa anak yang selalu diposisikan sebagai pihak yang salah, tersudutkan, dan terpojokkan, sekalipun selama ini orangtua memperlakukan anak secara tidak layak dan tidak patut? Mengapa ada aturan (norma sosial) “tidak tertulis” yang berbunyi : Aturan pertama, orangtua selalu benar. Aturan kedua, jika orangtua keliru, lihat Aturan Pertama.
Seri Artikel Sosiologi bersama Hery Shietra
Tidak Melakukan Dosa ataupun Kejahatan Apapun, adalah Pengorbanan Tertinggi, Tidak Semua Orang Sanggup Berkorban Diri dengan Tidak Melakukan Dosa ataupun Kejahatan Apapun
Question: Kalau dalam agama Islam ada Idul Adha, hari raya para Muslim yang menyembelih hewan kurban. Bagaimana dengan di Agama Buddha, apakah ada hari raya semacam itu bagi para umatnya?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi
Nabi Pedofil, Buruk Wajah Jangan Cermin Dibelah
Keyakinan yang Berdiri Diatas Fondasi Rapuh Bernama Hoax
dan Fantasi yang Menyimpang dari Fakta, Memungkiri Kitab Agamanya Sendiri dan
Berbangga Diri dalam Fiksi Rekaan
Question: Apakah akan disebut sebagai menista Agama Islam, jika mengatakan bahwa nabi yang disembah umat Muslim adalah seorang nabi yang pedofil?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi : Menzolimi Teriak Dizolimi
BELA DIRI dan MELAKUKAN PERLAWANAN ketika Diancam
akan Dibunuh, merupakan Hak Asasi Manusia
Salahkan yang Terlebih Dahulu Mengancam dan
Menyerang, Bukan yang Sekadar Bela Diri dan Melawan
Question: Disebutkan bahwa umat Muslim dan nabi mereka hanya sekadar membalas penzoliman yang mereka terima dari kaum nonMuslim. Jika memang betul Muslim telah dizolimi pada saat itu, maka mengapa membalas dengan pembunuhan? Apa iya, para nonMuslim begitu menzolimi kaum Muslim tanpa sebab yang mendahului atau melatar-belakanginya? JIka merujuk sejarah agama-agama di daratan Arab ribuan tahun lampau sebelum Islam lahir, sudah banyak agama-agama di sana sebelum Islam lahir, dan satu sama lain rukun hidup berdampingan antar umat beragama yang majemuk. Pastilah ada sebabnya sehingga para nonMuslim kemudian melakukan perlawanan terhadap kaum Muslim, sehingga siapa yang paling patut dipersalahkan jika sudah seperti itu?
SENI
SOSIAL
Seri Artikel Sosiologi
Question: Semua aksi radikalisme dan ekstremis, terjadi akibat pelaku radikal tersebut yang salah menafsirkan isi kitab agama. Jadi, bukankah mereka sendiri juga merupakan “korban”?