Siapa Juga yang Butuh Nyawa Yesus, juga Tidak Ada yang Meminta Nyawa Yesus, Yesus Sendiri yang Justru Mencampakkan Nyawa-Hidupnya Ibarat Sampah Tidak Berharga, dengan Menyerahkan Nyawanya Agar Dibunuh dan Terbunuh di Kayu Salib alias “BUNUH DIRI”—Yesus Mati Konyol dan Sia-Sia
Question : Hidup adalah duka, karenanya melanjutkan hidup dan tetap hidup, adalah perjuangan sejati itu sendiri. Perspektifnya menjadi bertolak-belakang dengan ajaran agama samawi seperti nasrani, yang mengajarkan bahwa hidup adalah nikmat, karenanya yesus yang mati bunuh diri karena menyerahkan nyawanya bak sampah tidak berharga untuk dibunuh, sehingga mati muda, lalu mengundang keprihatinan para umat nasrani, seolah-olah yesus telah mengorbankan “tidak menikmati kenikmatan hidup hingga tua”. Padahal bila yesus memilih untuk tidak mencampakkan nyawanya dan hidup hingga tua, belum tentu ia tahan menanggung duka seperti kelaparan, kesedihan, penyakit, kekecewaan, wabah, bencana alam, bencana kemanusiaan, maupun penderitaan lainnya.
Karenanya, bila memakai perspektif Buddhisme, orang yang memilih untuk
bunuh diri adalah orang yang “egois”, sementara orang lain merasakan duka yang
ditanggung dan dipikul oleh diri mereka untuk sepanjang hidupnya, sementara
orang-orang yang mengakhiri hidupnya seolah hendak melewati atau melompati serangkaian
proses duka demikian. Sebaliknya, orang yang bunuh diri menurut agama nasrani,
adalah orang yang “merugi”, rugi karena tidak menikmati kehidupan. Bukankah itu
adalah bukti betapa tidak konvergennya antara Buddhisme dan ajaran agama
nasrani?
Brief
Answer : Cobalah tanyakan
pertanyaan sederhana berikut kepada diri Anda sendiri. Apakah layak, demi
memuaskan sifat pengecut para umat nasrani yang tidak bersedia
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri (dosa) seperti
tidak mau bayar hutang, “lempar batu sembunyi tangan”, tabrak-lari, menipu,
membunuh, memerkosa, merampok, lalu bersikap pengecut dengan tidak mau membayar
“harga” atau konsekuensinya, lantas yesus yang harus “membayar” / “menebus” / “menanggung”-nya,
membayar dengan nyawanya? Siapa juga yang butuh nyawa yesus, juga tidak ada
yang meminta nyawa yesus, yesus sendiri yang justru mencampakkan nyawa-hidupnya
ibarat sampah tidak berharga, dengan menyerahkan nyawanya agar dibunuh dan
terbunuh di kayu salib.
Yang
dibutuhkan oleh korban-korban para umat nasrani, ialah dibayar piutangnya,
kerugiannya dipulihkan, lukanya disembuhkan, traumanya diobati, dan yang
melakukan kejahatan harus dihukum agar tiada lagi korban baru berjatuhan atas
kejahatan serupa oleh pelaku yang sama maupun oleh calon pelaku lainnya (efek
jera). Demi melayani para pendosa-pengecut yang “berani berbuat namun tidak
berani bertanggung-jawab”, lantas yesus menumbalkan nyawa-hidupnya sendiri, itu
nyata-nyata bertentangan dengan sabda Sang Buddha dengan kutipan sebagai
berikut:
“Jika mereka bertanya kepada seorang mulia sebagai berikut: ‘Siapakah di
antara orang-orang ini yang seharusnya engkau layani – seorang yang karena
pelayanan itu engkau menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika
melayaninya, atau seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih baik
dan tidak lebih buruk ketika melayaninya: jika menjawab dengan benar, seorang
mulia akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku
tidak seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih
buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena
pelayanan itu aku menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’”
PEMBAHASAN:
Perihal
siapa yang patut dilayani dan siapa juga yang tidak sepatutnya dilayani,
selengkapnya dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha
(Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of
the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli
to English by Bhikkhu Ñāṇamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya
& Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):
SUTTA
96
Esukārī
Sutta : Kepada Esukārī
1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang
menetap di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
2. Kemudian Brahmana Esukārī mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar
sapa dengan Beliau. Ketika ramah-tamah ini berakhir, ia duduk di satu sisi dan
berkata:
3. “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat tingkat pelayanan. Mereka
menetapkan tingkat pelayanan kepada seorang brahmana, tingkat pelayanan kepada
seorang mulia, tingkat pelayanan kepada seorang pedagang, tingkat pelayanan kepada
seorang pekerja. Di dalamnya, Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai
tingkat
pelayanan kepada seorang brahmana: seorang brahmana boleh melayani seorang brahmana, seorang mulia boleh
melayani seorang brahmana, seorang pedagang boleh melayani seorang brahmana,
dan seorang pekerja boleh melayani seorang brahmana. Ini adalah tingkat
pelayanan kepada seorang brahmana [178] yang ditetapkan oleh para brahmana.
Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat pelayanan
kepada seorang mulia: seorang
mulia boleh melayani seorang mulia, seorang pedagang boleh melayani seorang
mulia, dan seorang pekerja boleh melayani seorang mulia. Ini adalah tingkat
pelayanan kepada seorang mulia yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama,
para brahmana menetapkan ini sebagai tingkat
pelayanan kepada seorang pedagang: seorang pedagang boleh melayani seorang pedagang, dan seorang pekerja
boleh melayani seorang pedagang. Ini adalah tingkat pelayanan kepada seorang pedagang
yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana
menetapkan ini sebagai tingkat
pelayanan kepada seorang pekerja: hanya seorang pekerja yang boleh melayani seorang pekerja; karena
siapakah orang lainnya yang akan melayani seorang pekerja? Ini adalah tingkat
pelayanan kepada seorang pekerja yang ditetapkan oleh para brahmana.
Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan dengan hal ini?”
4. “Baiklah, Brahmana, apakah
seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat tingkat
pelayanan ini?” – “Tidak, Guru Gotama.” – “Misalkan,
Brahmana, mereka memaksakan sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya
uang, melarat dan memberitahunya: ‘Tuan, engkau harus memakan daging ini dan
membayarnya’; demikian pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana [lainnya],
namun para brahmana menetapkan keempat tingkat pelayanan itu.
5. “Aku
tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga Aku tidak
mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani
seseorang, ia menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik karena pelayanan itu,
maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya tidak dilayani. Dan jika, ketika
melayani seseorang, ia menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk karena
pelayanan itu, maka Aku katakan bahwa orang itu seharusnya dilayani.
6. “Jika
mereka bertanya kepada seorang mulia sebagai berikut: ‘Siapakah di antara
orang-orang ini yang seharusnya engkau layani – seorang yang karena pelayanan
itu engkau menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya, atau
seorang yang karena pelayanan itu engkau menjadi lebih baik dan tidak lebih
buruk ketika melayaninya: [179] jika menjawab dengan benar, seorang mulia akan
menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seseorang yang karena
pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika melayaninya;
aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku menjadi lebih
baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’
“Jika
mereka bertanya kepada seorang brahmana … bertanya kepada seorang pedagang …
bertanya kepada seorang pekerja … jika menjawab dengan benar, seorang pekerja
akan menjawab sebagai berikut: ‘Aku tidak seharusnya melayani seorang yang
karena pelayanan itu aku menjadi lebih buruk dan tidak lebih baik ketika
melayaninya; aku seharusnya melayani seseorang yang karena pelayanan itu aku
menjadi lebih baik dan tidak lebih buruk ketika melayaninya.’
7. “Aku
tidak mengatakan, Brahmana, bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia berasal
dari keluarga bangsawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih
buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan, juga Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan. Aku tidak mengatakan bahwa seseorang
adalah lebih baik karena ia kaya-raya, juga Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih buruk karena ia kaya-raya.
8. “Karena
di sini, Brahmana, seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan mungkin
membunuh makhluk-makhluk hidup, mengambil apa yang tidak diberikan, berperilaku
salah dalam kenikmatan indria, mengucapkan ucapan salah, mengucapkan ucapan
fitnah, bergosip, tamak, memiliki pikiran permusuhan, dan menganut pandangan
salah. Oleh karena itu Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik
karena ia berasal dari keluarga bangsawan. Tetapi juga, Brahmana, seseorang
dari keluarga bangsawan mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup,
menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari perilaku salah
dalam kenikmatan indria, menghindari mengucapkan ucapan salah, menghindari
mengucapkan ucapan fitnah, menghindari gosip, tidak tamak, memiliki pikiran
tanpa niat-buruk, dan menganut pandangan benar. Oleh karena itu Aku tidak
mengatakan bahwa seseorang adalah lebih buruk karena ia berasal dari keluarga bangsawan.
“Di
sini, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang yang kaya-raya mungkin
membunuh makhluk-makhluk hidup … dan menganut pandangan salah. Oleh karena itu
Aku tidak mengatakan bahwa seseorang adalah lebih baik karena ia rupawan …
karena ia kaya-raya. Tetapi juga, Brahmana, seseorang yang rupawan … seseorang
yang kaya-raya … mungkin menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan
menganut pandangan benar. Oleh karena itu [180] Aku tidak mengatakan bahwa
seseorang adalah lebih buruk karena ia rupawan … karena ia kaya-raya.
9. “Aku
tidak mengatakan, Brahmana, bahwa semuanya harus dilayani, juga Aku tidak
mengatakan bahwa tidak ada yang harus dilayani. Karena jika, ketika melayani
seseorang, keyakinan, moralitas, pembelajaran, kedermawanan, dan
kebijaksanaannya bertambah dalam pelayanannya, maka Aku katakan bahwa orang itu
seharusnya dilayani.”
10. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang
Bhagavā: “Guru Gotama, para brahmana menetapkan empat jenis kekayaan. Mereka
menetapkan kekayaan seorang brahmana, kekayaan seorang mulia, kekayaan seorang pedagang,
dan kekayaan seorang pekerja.
“Di dalamnya, Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang
brahmana – mengembara mengumpulkan
dana makanan; seorang brahmana yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu
mengembara mengumpulkan dana makanan, berarti menyalahi tugasnya bagaikan
seorang penjaga yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan
seorang brahmana yang ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para
brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan
seorang mulia – busur dan
tempat anak panah; seorang mulia yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu busur dan
tempat anak panah, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang
mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang mulia yang
ditetapkan oleh para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini
sebagai kekayaan
seorang pedagang –
bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak; seorang pedagang yang menolak
kekayaannya sendiri, yaitu bercocok-tanam dan mengembang-biakkan ternak,
berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga yang mengambil apa yang
tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang pedagang yang ditetapkan oleh
para brahmana. Guru Gotama, para brahmana menetapkan ini sebagai kekayaan seorang
pekerja – sabit dan galah
pengangkut beban; seorang pekerja yang menolak kekayaannya sendiri, yaitu sabit
dan galah pengangkut beban, berarti menyalahi tugasnya bagaikan seorang penjaga
yang mengambil apa yang tidak diberikan. Itu adalah kekayaan seorang pekerja yang
ditetapkan oleh para brahmana. Apakah yang Guru Gotama katakan sehubungan
dengan hal ini?”
[Kitab Komentar : Adalah praktik sejak masa lampau
di antara para brahmana untuk mengembara mengumpulkan dana makanan bahkan
walaupun mereka memiliki kekayaan berlimpah.
Walaupun pertanian sepertinya adalah pekerjaan yang
tidak seharusnya bagi seseorang yang digambarkan sebagai pedagang, harus
dipahami bahwa para vessa tidak hanya menjalankan usaha perkotaan, tetapi juga
memiliki dan mengawasi pekerjaan pertanian.]
11. “Baiklah, Brahmana, apakah
seluruh dunia memberikan kuasa kepada para brahmana untuk menentukan keempat
jenis kekayaan ini?” – [181]
“Tidak, Guru Gotama.” – “Misalkan,
Brahmana, mereka memaksakan sepotong daging kepada seorang miskin, tidak punya
uang, melarat dan memberitahunya: ‘Tuan, engkau harus memakan daging ini dan
membayarnya’; demikian pula, tanpa persetujuan dari para petapa dan brahmana [lainnya],
namun para brahmana menetapkan keempat jenis kekayaan itu.
12. “Aku, Brahmana, menyatakan Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan
seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan ayahnya di masa
lampau, ia diakui menurut darimana ia terlahir kembali. Jika ia terlahir
kembali dalam kasta mulia, maka ia diakui sebagai seorang mulia; jika ia
terlahir kembali dalam kasta brahmana, maka ia diakui sebagai seorang brahmana;
jika ia terlahir kembali dalam kasta pedagang, maka ia diakui sebagai seorang
pedagang; jika ia terlahir kembali dalam kasta pekerja, maka ia diakui sebagai
seorang pekerja.
Seperti halnya api diakui melalui kondisi tertentu yang bergantung pada apa api
itu membakar – jika api
membakar dengan bergantung pada kayu batang, maka api itu dikenal sebagai api
kayu batang; jika api membakar dengan bergantung pada kayu ranting, maka api
itu dikenal sebagai api kayu ranting; jika api membakar dengan bergantung pada
rumput, maka api itu dikenal sebagai api rumput; jika api membakar dengan
bergantung pada kotoran-sapi, maka api itu dikenal sebagai api kotoran-sapi – demikian pula,
Brahmana, Aku menyatakan Dhamma lokuttara mulia sebagai kekayaan seseorang. Tetapi dengan mengingat silsilah keluarga ibu dan
ayahnya di masa lampau, ia diakui menurut darimana ia terlahir kembali. Jika ia
terlahir kembali … dalam kasta pekerja, maka ia diakui sebagai seorang pekerja.
[Kitab Komentar : Ariyaṁ kho ahaṁ brāhmaṇa lokuttaraṁ dhammaṁ purissa sandhanaṁ paññāpemi, “Dhamma
lokuttara mulia sebagai kekayaan seseorang”.
Parihal “ia diakui menurut darimana ia terlahir
kembali”, attabhāvassa abhinibbatti: secara literal, “di manapun
pembuahan kembali individunya terjadi.”]
13. “Jika, Brahmana, seseorang dari kasta mulia meninggalkan keduniawian
dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah, dan setelah menemukan
Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang Tathāgata, ia menghindari
membunuh makhluk-makhluk hidup, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan,
menghindari perilaku salah dalam kenikmatan indria, menghindari ucapan salah,
menghindari ucapan fitnah, menghindari ucapan kasar, dan menghindari gosip, dan
tidak tamak, memiliki pikiran tanpa permusuhan, dan menganut pandangan benar, maka ia adalah seorang
yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat. [182] Jika, Brahmana, seseorang dari kasta
brahmana meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pedagang
meninggalkan keduniawian … Jika seseorang dari kasta pekerja
meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa
rumah, dan setelah menemukan Dhamma dan Disiplin yang dinyatakan oleh Sang
Tathāgata, ia menghindari membunuh mangkuk-makhluk hidup … dan menganut
pandangan benar, maka
ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma yang bermanfaat.
14. “Bagaimana
menurutmu, Brahmana? Apakah hanya seorang brahmana yang mampu mengembangkan
pikiran cinta kasih terhadap suatu wilayah tertentu, tanpa pertentangan dan tanpa
permusuhan, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang, atau seorang
pekerja?”
“Tidak,
Guru Gotama. Apakah seorang mulia, atau seorang brahmana, atau seorang
pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat kasta itu mampu
mengembangkan pikiran cinta kasih terhadap suatu wilayah tertentu, tanpa
pertentangan dan tanpa permusuhan.”
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan
keduniawian … (ulangi paragraf
nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang benar, Dhamma
yang bermanfaat.
15. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Apakah hanya seorang brahmana yang
mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai, dan
membersihkan diri dari debu dan kotoran, dan bukan seorang mulia, atau seorang pedagang,
atau seorang pekerja?”
“Tidak, Guru Gotama. Apakah ia adalah seorang mulia, atau seorang
brahmana, atau seorang pedagang, atau seorang pekerja – mereka dari keempat
kasta itu mampu membawa perlengkapan mandi dan bubuk mandi, pergi ke sungai,
dan membersihkan diri dari debu dan kotoran.”
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan
keduniawian … (sama seperti
paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang
benar, Dhamma yang bermanfaat.
16. “Bagaimana menurutmu, Brahmana? Misalkan seorang raja mulia yang sah
mengumpulkan di sini seratus orang yang berasal dari kelahiran berbeda dan
berkata kepada mereka: ‘Tuan-tuan, silakan siapapun juga di sini yang terlahir
dalam keluarga mulia atau keluarga brahmana atau keluarga bangsawan mengambil
sebatang kayu api kayu sāla, kayu salala, kayu cendana, atau kayu padumaka dan menyalakan api dan
menghasilkan panas. Dan
juga silahkan siapapun juga di sini yang terlahir dalam keluarga buangan,
keluarga pemburu, keluarga pembuat keranjang, keluarga pembuat kereta, atau
keluarga pemungut sampah, mengambil kayu dari tempat minum anjing, dari tempat
makan babi, dari tempat sampah, atau dari kayu jarak dan menyalakan api dan
menghasilkan panas.’
“Bagaimana
menurutmu, Assalāyana? Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh
seseorang dalam kelompok pertama, apakah api itu memiliki kobaran, warna, dan
cahaya, dan apakah mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api, sementara
ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dari kelompok ke dua,
api itu tidak memiliki kobaran, tanpa warna, dan tanpa cahaya, dan tidak
mungkin menggunakannya sebagai fungsi api?”
“Tidak,
Guru Gotama. Ketika api dinyalakan dan panas dihasilkan oleh seseorang dalam
kelompok pertama, api itu memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah
mungkin untuk menggunakannya sebagai fungsi api. Dan api yang dinyalakan dan
panas dihasilkan oleh seseorang dalam kelompok ke dua, api itu juga memiliki
kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk menggunakannya sebagai
fungsi api.” [184]
“Karena
semua api memiliki kobaran, warna, dan cahaya, dan adalah mungkin untuk
menggunakannya sebagai fungsi api.”
“Demikian pula, Brahmana, jika seseorang dari kasta mulia meninggalkan
keduniawian … (sama seperti
paragraf nomor ke-13) … ia adalah seorang yang menyelesaikan jalan yang
benar, Dhamma yang bermanfaat.”
17. Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Esukārī berkata kepada Sang
Bhagavā: “Mengagumkan, Guru Gotama! Mengagumkan, Guru Gotama! Guru Gotama telah
membabarkan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah
Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi,
menunjukkan jalan bagi yang tersesat, atau menyalakan pelita dalam kegelapan
agar mereka yang memiliki penglihatan dapat melihat bentuk-bentuk. Aku berlindung pada Guru Gotama dan pada Dhamma
dan pada Saṅgha para bhikkhu. Mulai hari ini sudilah Guru Gotama
mengingatku sebagai seorang umat awam yang telah menerima perlindungan seumur
hidup.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, apakah Tuhan akan bersedia
dilayani oleh manusia-busuk pendosa pecandu-berat “PENGHAPUSAN DOSA” seperti
berikut di bawah ini? Jangankan Tuhan, kita sebagai manusia pun akan merasa
jijik, alergik, serta muak terhadap manusia-manusia kotor-tercela bernama umat
agama samawi, dimana tentunya tiada yang bersedia memercayakan mereka untuk
urusan keuangan, pembukuan, penyimpanan aset di rumah ataupun perusahaan Anda—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Kini
silahkan Anda nilai dengan nurani serta pikiran jernih kita sendiri, apakah
patut ataukah tidaknya Anda menyembah ataupun melayani sang “nabi rasul Allah”
yang mabuk serta kecanduan-berat “PENGHAPUSAN DOSA” akibat dosa-dosanya yang SETINGGI
GUNUNG dan koleksi-maksiatnya yang SEDALAM SAMUDERA—juga masih dikutip dari
Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]