Aku Bersaksi, Tiada Tuhan yang Bernama Allah dan Allah
Bukanlah Tuhan
Semua Buddha Dimasa Lampau, Masa Kini, dan Dimasa Mendatang Beragama DHAMMA, dimana DHAMMA menjadi Otoritas Tertingginya
Question: Buddha Sidharta Gaotama beragama apa? Apakah Beliau
juga menyembah Tuhan semacam Allah di agama samawi-abrahamik?
Brief
Answer: Buddha pada
masa lampau, maka kini, dan dimasa yang akan datang, beragama satu, yakni “agama
DHAMMA”, dimana Dhamma menjadi “otoritas tertinggi”. Untuk apa juga menyembah
dan bergantung pada sosok semacam Allah yang justru PRO terhadap “KORUPTOR DOSA”
yang bernama “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”?
Hanya seorang PENDOSA, yang butuh iming-iming delusif-koruptif semacam itu.
Terlagipula siapakah Allah, jawabannya ada pada Surah Maryam ayat
83 : “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Kami telah mengutus setan-setan kepada orang-orang kafir untuk benar-benar menggoda
mereka (berbuat maksiat)?”—kini Anda menjadi tahu, siapakah BIG BOSS biang-kerok dibalik ulah para
saitan dan iblis yang dibiarkan bergentayangan dan berkeliaran mencari mangsa orang-orang
dungu yang mudah digoda, diperdaya, dimanipulasi, dan dieksploitasi kesekarahan
batinnya.
PEMBAHASAN:
Sang Buddha pernah bersabda, apa yang dipandang
sebagai kesenangan oleh orang-orang yang masih tebal kekotoran batin yang
menutupi pandangan mereka, adalah duka di mata seorang Buddha. Apa yang disebut
sebagai “Tuhan” di mata orang-orang dungu, adalah Iblis di mata seorang Buddha.
Simak juga khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID 1”, Judul
Asli : “The Numerical Discourses of the
Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi
Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:
406 (13) – 409 (16)
“… (406) membangkitkan
keinginan untuk tidak memunculkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang belum
muncul; berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikiran, dan berupaya …
(407) membangkitkan
keinginan untuk meninggalkan kualitas-kualitas tidak bermanfaat yang telah
muncul; berusaha,
membangkitkan kegigihan, mengarahkan pikiran, dan berupaya …
(408) membangkitkan
keinginan untuk memunculkan kualitas-kualitas bermanfaat yang belum muncul; berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan
pikiran, dan berupaya …
(409) membangkitkan
keinginan untuk mempertahankan kualitas-kualitas bermanfaat yang telah muncul,
demi ketidak-mundurannya, untuk meningkatkannya; untuk memperluasnya, dan
memenuhinya melalui pengembangan; berusaha, membangkitkan kegigihan, mengarahkan
pikiran, dan berupaya … “
~0~
26 (6)
“Para bhikkhu, bagi seorang
dengan perbuatan-perbuatan yang disembunyikan maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: neraka
atau alam binatang.
[Kitab Komentar : Penerjemah lain dari Bahasa Pali
menginterpretasikan “perbuatan yang disembunyikan” (paṭicchannakamma) hanya
sebagai perbuatan buruk, menjelaskan bahwa bahkan jika suatu perbuatan buruk
tidak disembunyikan, maka itu tetap disebut perbuatan yang disembunyikan. Akan
tetapi, tampaknya pengakuan atas perbuatan buruk seseorang dan memperbaikinya
dapat mengurangi kekuatan negatifnya.]
“Bagi seorang
dengan perbuatan-perbuatan yang tidak disembunyikan maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: alam
deva atau alam manusia.”
27 (7) 245
“Para bhikkhu, bagi seorang
yang menganut pandangan salah maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: neraka atau alam
binatang.”
28 (8)
“Para bhikkhu, bagi seorang
yang menganut pandangan benar maka salah satu dari kedua tujuan ini menanti: alam deva atau alam
manusia.”
29 (9)
“Para bhikkhu, bagi seorang
yang tidak bermoral maka ada dua penampung: neraka atau alam binatang. Bagi seorang yang bermoral, maka ada dua penampung: alam deva atau alam
manusia.”
Kini, kita masuk pada bahasan mengenai agama yang
dianut oleh Sang Buddha, merujuk langsung pada Khotbah Sang Buddha dalam
“Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press:
III. Uruvelā
21 (1) Uruvelā (1)
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap
di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai
berikut:
“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah
pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku
mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian, sewaktu Aku sedang sendirian dalam
keterasingan, suatu pemikiran muncul dalam pikiranku sebagai berikut: ‘Sungguh
menyakitkan berdiam tanpa penghormatan dan penghargaan. Sekarang petapa atau
brahmana manakah yang dapat Kuhormati, Kuhargai, dan berdiam dengan bergantung
padanya?’
“Kemudian Aku berpikir:
(1) ‘Jika kelompok perilaku bermoralKu belum sempurna, maka demi untuk
menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan
bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini
bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para
petapa dan brahmana, para deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang
lebih sempurna dalam hal perilaku bermoral daripada diriKu sendiri yang
kepadanya Aku dapat menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung
padanya.
(2) “‘Jika kelompok konsentrasiKu belum sempurna, maka demi untuk
menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan
bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana
lain yang lebih sempurna dalam hal konsentrasi daripada diriKu sendiri …
(3) “‘Jika kelompok kebijaksanaanKu belum sempurna, maka demi untuk
menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan
bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi … Aku tidak melihat petapa atau brahmana
lain yang lebih sempurna dalam hal kebijaksanaan daripada diriKu sendiri …
(4) “‘Jika kelompok kebebasanKu belum sempurna, maka demi untuk
menyempurnakannya Aku akan menghormati, menghargai, dan berdiam dengan
bergantung pada petapa atau brahmana lain. Akan tetapi, di dunia ini bersama dengan para deva,
Māra, dan Brahmā, di antara populasi ini dengan para petapa dan brahmana, para
deva dan manusia, Aku tidak melihat petapa atau brahmana lain yang lebih
sempurna dalam hal kebebasan daripada diriKu sendiri yang kepadanya Aku dapat
menghormat, menghargai, dan berdiam dengan bergantung padanya.
“Aku berpikir: ‘Biarlah
Aku menghormati, menghargai, dan berdiam dengan bergantung pada Dhamma ini yang
karenanya Aku telah menjadi tercerahkan sempurna.’
“Kemudian Brahmā Sahampati, [21] setelah dengan pikirannya mengetahui
refleksi dalam pikiranKu, lenyap dari alam Brahmā dan muncul kembali di
hadapanKu seperti halnya seorang kuat merentangkan lengannya yang tertekuk atau
menekuk lengannya yang terentang. Ia merapikan jubahnya di satu bahunya, membungkuk
dengan lutut kanannya di tanah, memberi hormat kepadaKu, dan berkata:
‘Begitulah, Bhagavā! Begitulah, Yang Sempurna Menempuh Sang Jalan! Bhante,
mereka yang telah menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa lampau –
para Bhagavā itu, juga, menghormati, menghargai, dan berdiam dengan
bergantung hanya pada Dhamma. Mereka yang akan menjadi Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna di masa
depan – para Bhagavā itu, juga, akan menghormati, menghargai, dan berdiam
dengan bergantung hanya pada Dhamma. Biarlah Sang Bhagavā, juga, yang
sekarang ini menjadi seorang Arahant, Yang Tercerahkan Sempurna, menghormati,
menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma.’
“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Setelah mengatakan
ini, ia berkata lebih lanjut sebagai berikut:
“‘Para Buddha yang sempurna di masa lampau, Para Buddha di masa depan dan
Sang Buddha di masa sekarang Yang melenyapkan dukacita banyak makhluk:
Mereka semua telah berdiam, sekarang berdiam,
dan [di masa depan] akan berdiam
dengan menghormati Dhamma sejati.
Ini adalah ciri
para Buddha.
“‘Oleh karena itu seseorang yang menginginkan kebaikan,
bercita-cita untuk mencapai kebesaran,
harus menghormati Dhamma sejati,
mengingat ajaran para Buddha.’
“Ini adalah apa yang dikatakan oleh Brahmā Sahampati. Kemudian ia memberi
hormat kepadaKu, dan dengan Aku tetap berada di sisi kanannya, ia lenyap
dari sana. Kemudian, setelah menerima
permohonan Brahmā dan apa yang sesuai bagi diriKu sendiri, maka Aku menghormati,
menghargai, dan berdiam dengan bergantung hanya pada Dhamma yang karenanya Aku
telah menjadi tercerahkan sempurna. Dan sekarang bahwa Saṅgha telah mencapai kebesaran, maka Aku juga menghormati Saṅgha.” [22]
~0~
22 (2) Uruvelā (2)
“Para bhikkhu, pada suatu ketika Aku sedang menetap di Uruvelā, di bawah
pohon banyan penggembala di tepi Sungai Neranjarā, tidak lama setelah Aku
mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian sejumlah para brahmana yang sepuh, tua,
terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai pada tahap akhir,
mendatangiKu dan saling bertukar sapa denganKu. Ketika mereka telah mengakhiri
ramah tamah itu, mereka duduk di satu sisi dan berkata kepadaKu:
“‘Kami telah mendengar, Guru Gotama: “Petapa Gotama tidak menghormat para
brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut, sampai
pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan tempat
duduk kepada mereka.” Hal ini memang benar, karena Guru Gotama tidak menghormat
para brahmana yang sepuh, tua, terbebani tahun demi tahun, berusia lanjut,
sampai pada tahap akhir; Beliau juga tidak bangkit untuk mereka dan menawarkan
tempat duduk kepada mereka. Hal ini tidak selayaknya, Guru Gotama.’
[Kitab Komentar : Penempatan sutta ini pada periode
persis setelah pencerahan Sang Buddha agak aneh. Kata-kata para brahmana yang
menyiratkan agar Sang Buddha, dari posisi otoritas, terlibat dalam diskusi
rutin dengan para brahmana; namun Beliau pasti tidak melakukannya sebelum
Beliau memulai karirnya sebagai seorang guru. Pada sutta yang terpisah, seorang
brahmana melakukan tuduhan yang sama terhadap Sang Buddha belakangan setelah
Beliau menjadi seorang guru yang berhasil.]
“Kemudian Aku berpikir: Para mulia ini tidak mengetahui apa itu sepuh dan
kualitas-kualitas apa yang membuat seseorang menjadi sepuh. Walaupun seseorang
berusia tua – delapan puluh, sembilan puluh, atau seratus tahun sejak lahir –
jika ia berbicara pada waktu yang tidak tepat, berbohong, mengatakan apa yang
tidak bermanfaat, mengatakan apa yang berlawanan dengan Dhamma dan disiplin,
jika pada waktu yang tidak tepat ia mengucapkan kata-kata yang tidak berguna,
tidak masuk akal, berbicara tanpa tujuan, dan tidak bermanfaat, maka ia
dianggap sebagai seorang
sepuh yang dungu [yang kekanak-kanakan].
“Tetapi walaupun seseorang berusia muda, seorang pemuda berambut
hitam, memiliki berkah kemudaan, pada masa utama kehidupannya, jika ia
berbicara pada waktu yang tepat, jujur, mengatakan apa yang bermanfaat,
mengatakan apa yang sesuai dengan Dhamma dan disiplin, dan jika pada waktu yang
tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak diingat, masuk akal, ringkas, dan
bermanfaat, maka ia dianggap sebagai sesepuh bijaksana.
“Ada, para bhikkhu, keempat kualitas ini yang membuat seseorang menjadi sesepuh. Apakah empat ini?
(1) “Di sini, seorang bhikkhu adalah bermoral; ia berdiam
terkendali oleh Pātimokkha, memiliki perilaku dan tempat kunjungan yang baik, melihat bahaya dalam
pelanggaran-pelanggaran kecil. Setelah menerima aturan-aturan latihan, ia berlatih di dalamnya.
(2) “Ia telah banyak belajar, [23] mengingat apa yang telah ia
pelajari, dan mengumpulkan apa yang telah ia pelajari. Ajaran-ajaran itu yang
baik di awal, baik di tengah, dan baik di akhir, dengan kata-kata dan makna yang benar, yang
mengungkapkan kehidupan spiritual yang lengkap dan murni sempurna –
ajaran-ajaran demikian telah banyak ia pelajari, diingat, diulangi secara
lisan, diselidiki dengan pikiran, dan ditembus dengan baik melalui pandangan.
(3) “Ia adalah seorang yang memperoleh sesuai kehendak, tanpa kesulitan
atau kesusahan, keempat jhāna yang merupakan pikiran yang lebih tinggi dan
merupakan keberdiaman yang nyaman dalam kehidupan ini.
(4) “Dengan
hancurnya noda-noda, ia telah mencapai untuk dirinya sendiri dengan pengetahuan
langsung, dalam kehidupan ini, kebebasan pikiran yang tanpa noda, kebebasan
melalui kebijaksanaan, dan setelah memasukinya, ia berdiam di dalamnya.
“Ini adalah keempat kualitas yang membuat seseorang menjadi sesepuh.”
Si
dungu dengan pikiran resah
yang
banyak membicarakan ucapan-ucapan tanpa tujuan,
pikirannya
kacau,
bersenang
dalam ajaran yang buruk,
menganut
pandangan sesat, tidak sopan,
adalah
jauh dari status seorang sesepuh.
Tetapi seorang yang sempurna dalam moralitas,
terpelajar dan melihat,
terkendali oleh diri sendiri dalam faktor-faktor kekokohan,
yang dengan jelas melihat makna dengan kebijaksanaan;
yang melampaui segala fenomena,
tidak mandul, melihat;
[Kitab Komentar : Penerjemah lain dari Bahasa Pali, saññato
thiradhammesu, menerjemahkannya sebagai “terkendali oleh diri sendiri dan
kokoh di antara fenomena-fenomena.” Klausa ini bersesuaian dengan jhāna-jhāna,
“faktor-faktor kekokohan” merujuk pada samādhi. Penerjemah lain mengemas
“yang dengan jelas melihat makna kebijaksanaan” (paññāyatthaṃ vipassati) sebagai
melihat makna keempat kebenaran mulia dengan kebijaksanaan sang jalan bersama
dengan pandangan terang. Penerjemah lain menjelaskan “telah melampaui segala
fenomena” (pāragū sabbadhammānaṃ) sebagai “telah melampaui semua fenomena seperti
kelima kelompok unsur kehidupan” dan “mendatangi kesempurnaan dari semua
kualitas [baik]” melalui enam melampaui (chabbidhena pāragamanena):
sehubungan dengan pengetahuan langsung, pemahaman penuh, meninggalkan,
mengembangkan, realisasi, dan pencapaian-pencapaian meditatif. Penerjemah
tersebut tidak menjelaskan pengulangan paṭibhānavā
(“melihat”) dalam syair, yang tampaknya khas.]
Yang
telah meninggalkan kelahiran dan kematian,
[Komentar Penyunting : Itulah yang membuat Sang
Buddha dapat disebut sebagai “melawan arus”, menolak kenikmatan duniawi, menolak
tawaran “pengampunan dosa”, dan “melawan Tuhan sang pencipta”.]
sempurna dalam kehidupan spiritual,
padanya tidak
ada noda-noda –
ia adalah seorang yang Kusebut sesepuh.
Dengan
hancurnya noda-noda
seorang
bhikkhu disebut sesepuh.
Bila Anda berpikir bahwa umat agama samawi menyembah
dan menghamba kepada Tuhan, maka Anda keliru besar, itu hanyalah asumsi tanpa
dasar. Yang sejatinya disembah oleh umat agama samawi, ialah KEKOTORAN BATIN
yang bersarang dalam diri sang umat agama samawi itu sendiri—yang begitu pemalas
untuk menanam benih-benih Karma Baik dan disaat bersamaan begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri. Karenanya, mereka
diperbudak oleh KEKOTORAN BATIN mereka sendiri, dan menggadaikan jiwa mereka demi
melayani KEKOTORAN BATIN.
Contohnya dapat kita tengok pada kisah Abraham /
Ibrahim yang memiliki niat bulat (niat jahat) untuk menyembelih anak kandungnya
sendiri, Ishaq / Ismail, bahkan telah melakukan persiapan serta permulaan perbuatan
dengan tujuan untuk merampas hidup sang anak. Kesadisan Abraham / Ibarahim,
dilakukan oleh sang bapak semata demi memuaskan EGO alias “SELFISH MOTIVE”
hendak bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada montok di kerajaan Allah dan
ingin bersenang-senang di alam sorgawi. Ayah yang baik, akan memilih untuk
masuk neraka demi menebus nyawa sang anak terkasih, bukan menjadikan anak
sebagai “alat pemuas nafsu” sang bapak. At that time, Ibrahim was not a father, but an
EXECUTOR!
Ilustrasi
lainnya ialah dogma agama samawi yang berbunyi, “Menikah ialah ibadah, dan banyak
anak (maka banyak) rezeki.” Sang bapak, melahirkan banyak anak bukan dalam
rangka memberikan kebahagiaan ke dalam hidup anak-anaknya, namun dalam rangka
mempertebal isi kantung saku sang bapak alias “SELFISH MOTIVE”. Begitupula
agama samawi, para pendosa berbondong-bondong memeluknya demi bisa berdelusi
masuk surga sekalipun sepanjang hidupnya produktif berbuat jahat dan menikmati perbuatan-perbuatan
jahat mereka, alias merampas hak korban atas keadilan, bukan demi menyembah Allah
karena bila Allah tidak memberikan iming-iming “PENGAMPUNAN DOSA” maka agama
samawi akan kering dari umat pemeluknya—kesemua ayat-ayat simbolik “SELFISH
GENE” (mengikuti arus) berikut dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar
gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan
Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk
surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi
menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga
berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak menceramahi maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah, hina, dan kotor, namun
berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Mereka
sejatinya merupakan kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih
Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang, dan
disaat bersamaan merupakan pengecut yang begitu pengecut untuk
bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri.
“Abolition
of sins” maupun “cuci dosa” dipromosikan tanpa tabu ataupun malu lewat
pengeras suara, alih-alih mengkampanyekan gaya hidup higienis dari dosa maupun
keberanian untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri. Busuknya jiwa
yang telah dikuasai sepenuhnya oleh “SELFISH GENE” sang “bocah tua
berambut putih” menjadikannya kasta paling rendah dan paling hina, pemeluk
“Agama DOSA dari Kitab DOSA”, dimana noda-noda dan kekotoran batin justru
dipelihara dan dilestarikan dengan rasa bangga, tanpa rasa malu ataupun takut. Agama
samawi paling efektif dalam memelihara sifat kekanak-kanakan (memberi makan dan
nutrisi bagi KEKOTORAN BATIN), dimana juga mengungkap wajah asli “Allah sang pengutus
setan”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa
suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni
dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah
menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
[HR Bukhari Muslim]