Cacat Dogma Agama Samawi yang Berhubungan dengan Kehidupan Mendatang. Tidak Takut pada Cacat dan Tidak Melihat Bahaya dalam Cacat, maka Tidak akan Terbebas dari Segala Cacat

Tuhan saja Patuh dan Hormat terhadap Hukum Alam seperti Hukum Fisika, Tidak Terkecuali Hukum Karma

Tidak Ada Alasan Valid bagi Tuhan untuk Mengesampingkan maupun Mengintervensi Hukum Alam Ciptaannya Sendiri

Ketika Allah Mengesampingkan Hukum Alam Ciptaannya Sendiri, artinya Allah Mengakui Cacat atau Tidak Sempurnanya Allah maupun Hukum Alam yang Ia Ciptakan Sendiri

Question: Sering saya bertanya-tanya, jika Tuhan saja patuh dan hormat terhadap hukum fisika sebagai otoritas yang ia ciptakan sendiri, semisal ada gedung tempat ibadah yang berlantai tiga namun lantai dua dan lantai tiga-nya justru menjorok ke arah jalan sehingga dapat dipastikan akan roboh berdasarkan hukum gravitasi, mengakibatkan banyak umat meninggal dunia tertimpa reruntuhan, maka bukankah artinya Tuhan juga akan patuh dan hormat terhadap otoritas hukum alam lainnya semisal hukum sebab-akibat yang lebih sering kita kenal dengan sebutan “hukum karma”? Bagaimana mungkin, Tuhan menyimpangi hukumnya sendiri dengan menghapus dosa-dosa penjahat, mengesampingkan hukum sebab-akibat dengan memasukkan penjahat-penjahat yang dikodratkan masuk neraka, justru dimasukkan ke surga.

Hanya Orang Dungu, yang Menyia-Nyiakan Kesempatan untuk Berbuat Kebaikan dalam Keseharian

Jangan menjadi Si TUA DUNGU Berambut Putih

Perbuatan-Perbuatan Baik, Meski Kecil, bila Dikumpulkan Setiap Harinya akan Menjelma Segunung Karma Baik

Sungguh Beruntung, Mereka yang Memanfaatkan Setiap Kesempatan untuk Berbuat Baik; dan Sungguh Merugi Pihak yang Meremehkan Perbuatan Baik Sekecil Apapun dalam Keseharian

Cobalah amati fenomena sosial, dimana ada pelayan suatu toko yang melayani “apa adanya” atau bahkan “judes” terhadap konsumen, namun juga ada pelayan toko yang ramah dan “murah senyum” serta bersabar mau menjelaskan kepada pembeli. Keduanya, sama-sama menerima gaji / upah yang bisa jadi sama. Orang yang disebut pertama, sekalipun melayani “apa adanya”, tetap saja dipekerjakan dan menerima gaji setiap bulannya. Apakah artinya, tipe orang yang disebut kedua, adalah pribadi yang “merugi” karena bekerja dengan pelayanan “plus” sekalipun skala upah / gajinya sama saja dengan tipikal orang yang disebut pertama?

Apakah Dunia ini, Betul-Betul Butuh Agama Samawi, Sekalipun Telah Terdapat Hukum Alam Bernama HUKUM KARMA (HUKUM SEBAB-AKIBAT)?

Agama Samawi hanya dapat Membuat Umat Pemeluknya Mengalami Kemunduran Moralitas : BUAT DOSA, SIAPA TAKUT? ADA PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA!

Question: Sebelum agama samawi-abrahamik dilahirkan atau diperkenalkan ke dunia ini, orang-orang baik otomatis masuk surga dan orang jahat dikodratkan masuk neraka. Namun, setelah agama samawi lahir, orang-orang baik justru dilempar ke neraka oleh sang nabi atau oleh tuhannya mereka, dimana kemudian surga dimonopoli oleh penjahat-penjahat berdosa yang pandai menjilat bokong tuhan beserta nabinya. Jadilah itu kabar gembira bagi penjahat, dan merupakan kabar buruk bagi kalangan orang baik ataupun korban dari para penjahat tersebut. Juru selamat bagi penjahat, merupakan juru petaka bagi kalangan korban maupun bagi orang-orang baik.

Anehnya, hari atau tanggal dilahirkannya agama-agama bagi penjahat seperti itu justru dirayakan setiap tahunnya dengan semarak serta gegap-gempita, alih-alih dijadikan “hari berkabung global” dan diperingati sebagai hari “hari raya duka” dimana surga dirampas dari semula hak orang baik untuk dimonopoli oleh menusia-jahat yang menggadaikan jiwanya kepada sosok yang mereka sebut dan klaim sebagai “tuhan”? Sering saya bertanya, apakah dunia ini betul-betul butuh agama samawi, meski telah ada hukum alam semacam hukum karma (hukum sebab dan akibat) dimana bahkan tuhan tidak butuh terlibat ataupun mengintervensi kehidupan manusia?

Mengapa juga agama yang dibawa oleh penjajah, justru kemudian dipeluk dan dianut oleh bangsa yang dijajah olehnya, tanpa mau bertanya “Mengapa agama tersebut tidak menasehati atau menceramahi para penjajah tersebut agar tidak menjajah bangsa kami?” Agama yang betul-betul cinta damai, tidak mungkin dibawa oleh penjajah. Semakin agama yang memanipulasi manusia tersebut mencari pembenaran diri, justru kian menyerupai “benang-kusut” yang saling bertentangan antar dogma internal agama bersangkutan itu sendiri.

Moralitas Umat Agama Samawi Tidaklah Lengkap dan Tidak Murni—namun Rusak, Penuh Cacat, Ternoda, serta Dipenuhi Bercak

Muslim, Belum Mati saja Pikirannya Sudah Selingkuh dengan Puluhan Bidadari Berdada Montok yang Keperawanannya Bekas Daur-Ulang (Mirip Galon Isi Ulang, BEKAS)

Muslimah, Ditakdirkan dan Divonis Menjelma menjadi Lesb! setelah Ajal Menjemput Mereka (Allah Tidak Memelihara Bidadara)

Semua Muslim Ditakdirkan akan K.O. (Bertekuk-Lutut) Menghadapi Belenggu Seksualitas, bahkan Sejak Ronde Pertama sebelum Pertempuran Benar-Benar Dimulai : Pikirannya Tidak Terkendali karena Diperbudak oleh para Bidadari Berdada Montok

Mabuk serta kecanduan dogma adiktif semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN”, artinya dicengkeram oleh keserakahan berupa ketidak-puasan terhadap gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat, ketidak-puasan terhadap sedikit dosa, ketidak-puasan terhadap gaya hidup ksatria yang berani untuk tampil mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruknya sendiri, serta obsesi untuk “CUCI TANGAN” serta “CUCI DOSA”. Mereka, para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut berdelusi dapat tetap “business as usual” berupa memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa namun terjamin masuk alam surgawi setelah ajal menjemput mereka.

Apakah menjadi Dewa di Alam Surgawi, adalah Tujuan Hidup dan Akhir dari Segalanya?

Kabar Buruk bagi Kalangan Dewa, Mereka Tetap Tunduk pada Penuaan, Sakit, Meninggal, dan Kembali Terlahir

Question: Dalam agama-agama samawi, surga adalah tujuan utama dan sekaligus tujuan akhir. Apakah memang menjadi penghuni alam surga, merupakan akhir dari segala derita, ataukah hanya berupa pengulangan siklus yang tidak mengenal awal maupun akhir, siklus yang terus berputar-putar dan mengulang-ulang tanpa berkesudahan?

Pria yang Kerap Lapar Mata dan Indera Tidak Terkendali, Mudah Terjatuh dalam Pikatan seorang Wanita

Jangan Pernah Remehkan Kekotoran Batin yang Bersarang dalam Diri, Terlebih Menantangnya, Pasti Kalah bila Belum Terlatih dalam “SELF-CONTROL

Question: Apakah Sang Buddha pernah memberikan wejangan perihal daya pikat seorang perempuan, agar pria tidak mudah tunduk dibawah daya pikat tersebut?

Lebih Hebat yang TIDAK BERPUASA RAMADHAN daripada yang Berpuasa Ramadhan

Puasa Ramadhan Katanya Puasa Makan, Tapi Konsumsi para Muslim justru Meningkat, Mengharap Pahala dan Masih juga Berdelusi DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN. Pendosa Manakah yang Tidak Senang?

Kabar Gembira bagi PENDOSA, Sama artinya Kabar Duka bagi KORBAN

Tidak Ada Orang yang Lebih Dungu daripada Mabuk dan Kecanduan IMING-IMING yang “too Good to be True

Question: Iming-imingnya selalu saja “dosa-dosa selama setahun dihapuskan” bila berpuasa ramadhan. Bukankah itu artinya, lebih hebat orang yang tidak berpuasa ramadhan, karena memiliki jiwa ksatria dengan berani mengambil tanggung-jawab dan menghadapi konsekuensi atas perbuatannya sendiri yang pernah menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak lainnya? Semua orang sanggup berpuasa ramadhan, dimana konsumsinya (justru) meningkat, menjadikan itu alasan untuk bekerja secara bermalas-malasan, menuntut THR, meminta dihormati, mempersekusi orang lain yang makan maupun yang membuka tempat makan, serta tentunya adiksi terhadap iming-iming “dosa-dosa setahun dihapuskan”.

Allah, the KING of PRANK

Hanya Orang Dungu, yang Memakan dan Termakan Iming-Iming PRANK-nya Allah

Question: Dalam kisah-kisah yang tertuang di hadist, telah ternyata banyak muslim yang tidak dimasukkan ke surga oleh Allah. Bukankah Allah sudah memberi janji, muslim akan diampuni dosa-dosanya, sekalipun dosanya sebesar isi bumi, sehingga terjamin masuk surga?

Berlindung kepada Allah yang Menolerir KEKOTORAN BATIN namun Intoleran terhadap Kaum NON, Sama Artinya Menjerumuskan Diri ke Lembah Nista

Berlindunglah pada yang Lebih Tinggi daripada Derajat Manusia, Bukan kepada Makhluk dari Alam Rendahan yang Lebih Rendah Derajatnya daripada Manusia

Question: Bukankah aneh dan konyol, ada manusia yang justru berlindung pada makhluk yang lebih rendah deratnya daripada manusia, yakni kepada setan (arwah penasaran) maupun makhluk asura (jin raksasa yang sakti)? Hanya orang dengan ciri-ciri watak dungu, yang ingin bersekutu dengan mahluk alam “apaya” (alam “tanpa kebahagiaan”), alam yang bahkan lebih rendah derajatnya daripada alam manusia. Orang berakal sehat tentunya lebih memilih untuk berlindung pada makhluk yang derajat dan alamnya lebih tinggi daripada manusia, bukan sebaliknya merendahkan derajat mereka sendiri sebagai manusia dengan memiliki kecenderungan atau niat ke alam-alam rendahan demikian.

Umat Nasrani Senang Ditipu Panggung Sandiwara Mukzijat Kesembuhan

Ada Beda antara Ditipu dan Menipu Diri Sendiri

Question: Sepertinya mayoritas umat nasrani menyadari, bahwa mukzijat sentuhan roh kudus yang lewat pastor menyembuhkan orang sakit, membuat orang lumpuh dan pengidab polio bisa berjalan, sebenarnya hanyalah sugesti “setting panggung” belaka, bila bukan sandiwara yang dipaksakan sifatnya. Namun mengapa mereka masih mau juga meng-iman-i apa yang telah mereka sadari sebagai manipulasi serta “setting panggung” belaka? Buktinya, tidak pernah ada verifikasi medis, sebelum dan sesudah panggung pertunjukkan itu dilaksanakan untuk meng-konfirmasi kebenaran kondisi pasien dan kesembuhan penyakitnya.