Apakah menjadi Dewa di Alam Surgawi, adalah Tujuan Hidup dan Akhir dari Segalanya?

Kabar Buruk bagi Kalangan Dewa, Mereka Tetap Tunduk pada Penuaan, Sakit, Meninggal, dan Kembali Terlahir

Question: Dalam agama-agama samawi, surga adalah tujuan utama dan sekaligus tujuan akhir. Apakah memang menjadi penghuni alam surga, merupakan akhir dari segala derita, ataukah hanya berupa pengulangan siklus yang tidak mengenal awal maupun akhir, siklus yang terus berputar-putar dan mengulang-ulang tanpa berkesudahan?

Brief Answer: Makhluk dewata di alam dewata sekalipun, tidak luput alias masih tunduk pada dukkha yang bermakna : kembali terlahir, kembali menua, dan kembali meninggal dunia. Tumimbal lahir, menyerupai “never ending stories” yang menjemukan. Hanya dengan “BREAK THE CHAIN / SHACLE OF KARMIC LAW” berupa “sang jalan” (Dhamma) yang bergerak “melawan arus penciptaan”, seseorang dapat “memutus belanggu rantai karma” karenanya tidak lagi tunduk pada kematian maupun kelahiran kembali. Surga, karenanya, hanyalah persimpangan jalan, sebelum kemudian kembali terlahir di alam-alam yang lebih rendah ketika tabungan “Karma Baik” yang sang dewa telah habis.

PEMBAHASAN:

Terdapat pembabaran dalam sutta pitaka, para dewa menggigil ketakutan ketika diberi tahu oleh Sang Buddha bahwa dewa pun akan meninggal pada akhirnya. Bagi yang berdelusi bahwa masuk surga adalah akhir dari segala derita kehidupan, menjadi penting untuk menyimak khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID III”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan:

48 (8) Situasi

“Para bhikkhu, ada lima situasi ini yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau siapa pun di dunia. Apakah lima ini?

(1) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada penuaan tidak menjadi tua!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau siapa pun di dunia.

(2) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada penyakit tidak jatuh sakit!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa … atau siapa pun di dunia.

(3) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada kematian tidak mati!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh oleh seorang petapa … atau siapa pun di dunia.

(4) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada kehancuran tidak menjadi hancur!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa … atau siapa pun di dunia.

(5) ‘Semoga apa pun yang tunduk pada kehilangan tidak menjadi hilang!’: ini adalah sebuah situasi yang tidak dapat diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau Brahmā, atau siapa pun di dunia.

(1) “Para bhikkhu, bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Ketika hal ini terjadi, ia tidak merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, ia berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan. Ini disebut seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar yang tertusuk oleh anak panah dukacita yang beracun yang hanya menyiksa dirinya sendiri.

(2) “Kemudian, bagi kaum duniawi yang tidak terpelajar, [55] apa yang tunduk pada penyakit jatuh sakit … (3) … apa yang tunduk pada kematian menjadi mati … (4) … apa yang tunduk pada kehancuran menjadi hancur … (5) … apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Ketika hal ini terjadi, ia tidak merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, ia berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan. Ini disebut seorang kaum duniawi yang tidak terpelajar yang tertusuk oleh anak panah dukacita yang beracun yang hanya menyiksa dirinya sendiri.

(1) “Para bhikkhu, bagi siswa mulia yang terpelajar, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Ketika hal ini terjadi, ia merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada penuaan menjadi tua, ia tidak berdukacita, tidak merana, tidak meratap, tidak menangis dengan memukul dada, dan tidak menjadi kebingungan. Ini disebut seorang siswa mulia yang terpelajar yang telah mencabut anak panah dukacita yang beracun yang karena tertusuk oleh anak panah ini kaum duniawi yang tidak terpelajar hanya menyiksa dirinya sendiri. Dengan tidak berdukacita, tanpa anak panah, siswa mulia itu merealisasi nibbāna.

[Kitab Komentar : Teks Pali menggunakan bentuk kausatif refleksif: attānayeva parinibbāpeti. Ini juga dapat diterjemahkan: “Ia memadamkan dirinya sendiri.” Apa yang dipadamkan secara literal adalah perasaan sedih dukacita, tetapi kata kerja parinibbāpeti, berhubungan dengan kata benda nibbāna, yang menyiratkan bahwa ia mencapai kebebasan tertinggi.]

(2) “Kemudian, bagi siswa mulia yang terpelajar, apa yang tunduk pada penyakit jatuh sakit … (3) … apa yang tunduk pada kematian menjadi mati … (4) … apa yang tunduk pada kehancuran menjadi hancur … (5) … apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Ketika hal ini terjadi, ia merefleksikan: ‘Aku bukan satu-satunya yang padanya apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang. Karena semua makhluk yang datang dan pergi, yang meninggal dunia dan mengalami kelahiran kembali, apa yang tunduk pada kehilangan [56] menjadi hilang. Jika aku berdukacita, merana, meratap, menangis dengan memukul dada, dan menjadi kebingungan ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, maka aku akan kehilangan selera makanku dan penampilanku akan menjadi buruk. Aku tidak akan mampu melakukan pekerjaanku, musuh-musuhku akan menjadi gembira, dan teman-temanku akan menjadi sedih.’ Demikianlah, ketika apa yang tunduk pada kehilangan menjadi hilang, ia tidak berdukacita, tidak merana, tidak meratap, tidak menangis dengan memukul dada, dan tidak menjadi kebingungan. Ini disebut seorang siswa mulia yang terpelajar yang telah mencabut anak panah dukacita yang beracun yang karena tertusuk oleh anak panah ini kaum duniawi yang tidak terpelajar hanya menyiksa dirinya sendiri. Dengan tidak berdukacita, tanpa anak panah, siswa mulia itu merealisasi nibbāna.

“Ini, para bhikkhu, adalah kelima situasi itu ini yang tidak dapat

diperoleh seorang petapa atau brahmana, deva, Māra, atau

Brahmā, atau oleh siapa pun di dunia.

“Bukanlah dengan berdukacita dan meratap

maka bahkan kebaikan terkecil pun di sini dapat diperoleh.

Karena mengetahui bahwa seseorang berdukacita dan bersedih,

maka musuh-musuhnya bergembira.

“Ketika orang bijaksana tidak terguncang dalam kesusahan,

mengetahui bagaimana menentukan apa yang baik,

musuh-musuhnya menjadi sedih, setelah melihat

bahwa raut wajahnya tidak berubah.

“Di mana pun seseorang dapat memperoleh kebaikannya,

dalam cara apa pun – dengan merapal, mantra-mantra,

peribahasa-peribahasa, pemberian, atau tradisi - di sana

[Kitab Komentar : Tradisi, paveiyā. Melalui kebiasaan keluarga (kulavasena). Maknanya adalah, “Kami telah secara tradisi mempraktikkan ini, dan kami tidak mempraktikkan itu.”]

ia harus mengerahkan usaha dengan cara itu.

Tetapi jika ia memahami: ‘Kebaikan ini

tidak dapat kuperoleh atau siapa pun juga,’

ia harus menerima situasi tersebut tanpa berdukacita,

dengan berpikir: ‘Kamma adalah kuat; apakah yang dapat

kulakukan sekarang?’” [57]