Tidak Ada Orang Suci dalam Agama Samawi, yang Ada ialah PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA (KORUPTOR DOSA)

Ibrahim adalah JURU SEMBELIH HARAM

Manusia adalah Kekusutan, sedangkan Binatang Lebih Terbuka. Betapa Ditengah-Tengah Kekusutan, Kecurangan, dan Muslihat Manusia, mengapa Binatang yang justru Dijadikan Kurban Allah?

Yesus Menyiksa Diri dan Mencampakkan Nyawa-Hidupnya seperti Sampah Tidak Berharga [Menyerahkan Nyawa untuk Dibunuh, artinya BUNUH-DIRI]

Ibrahim Menyiksa dan Merampas Nyawa-Hidup Anaknya, Ismail, demi Bisa Bersenang-Senang Bersetubuh dengan Puluhan Bidadari di Sorga Allah [EGO, SELFISH MOTIVE]

Apakah Tidak ada Orang yang Lebih Waras untuk Dijadikan “Nabi”? Betapa Allah Memiliki Selera dan Pilihan yang Buruk untuk Dijadikan “Standar Moral” Junjungan Umat Manusia

Question: Yang namanya umat muslim, itu buta, bodoh, ataukah dungu? Mereka mengatakan bahwa niat Ibrahim untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, yakni Ismail, disebut sebagai “pengorbanan”. Mereka bahkan tidak bisa membedakan antara “mengorbankan orang lain” dan “pengorbanan diri sendiri”. Para muslim beralibi, bahwa yang dikorbankan oleh Ibrahim ialah “anak MILIK Ibrahim”, karenanya Ibrahim disebut sebagai sedang “berkorban”. Frasa “MILIK”, sudah menandakan sifat “EGO” atau “center-centris”, tidak lain ialah wujud paling kasar dari “SELFISH MOTIVE” itu sendiri, yakni berupa niat-batin membarter hidup atau nyawa sang anak “MILIK” sang bapak dengan iming-iming “bersenang-senang di surga”.

Para dunguwan bernama muslim tersebut, bahkan tidak bisa membedakan antara “perintah JAHAT-TERCELA” dan “perintah mulia-agung”, antara “bisikan SATAN HAUS-DARAH” dan “bisikan Tuhan yang mencintai dan merawat kehidupan”. Apa bedanya antara kisah ibrahim hendak menyembelih anak kandungnya sendiri dengan mengorbankan anak dalam rangka praktek ilmu-hitam-jahat semacam “pesugihan” untuk ditumbalkan demi memuaskan “EGO” sang bapak?

Apakah yang menjadi motif ataupun motivasi sang bapak, menumbalkan sang anak dalam praktek jahat-tercela-kejam-hitam-hina bernama “pesugihian”? Karena sang ayah ingin bersenang-senang hidup kaya-raya, berkuasa, dan sebagainya. Lantas, apa bedanya dengan Ibrahim, yang tergila-gila untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, demi bisa bersenang-senang dengan puluhan bidadari di surga sehingga patuh dan taat-membuta pada perintah Allah yang jelas-jelas kejam dan keji juga jahat serta tercela demikian?

Brief Answer: Dari suatu perbuatan, dapat ditarik petunjuk mengenai “niat batin” sang pelaku, alias motif atau motivasi dibalik perbuatan sang pelakunya. Itu terjadi karena sang bapak, yakni Ibrahim, hendak masuk surga untuk bisa bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada-montok yang selaput-daranya bisa didaur-ulang. Itulah ketika Ibrahim telah dirasuki SATAN pikirannya sehingga “KESETANAN”. Kontras dengan agama samawi-abrahamik, Sang Buddha dalam Sutta Pitaka pernah bersabda dengan kutipan sebagai berikut:

“Demikianlah, Pessa, demikianlah! [341] Manusia adalah kekusutan sedangkan binatang lebih terbuka. Pessa, terdapat empat jenis orang di dunia ini. Apakah empat ini? Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya. Di sini jenis orang tertentu menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Karena ia tidak menyiksa dirinya dan makhluk lain, maka ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Yang manakah dari empat jenis orang ini yang memuaskan pikiranmu, Pessa?”

Seorang ayah yang betul-betul mengasihi putra-puterinya, akan memilih untuk masuk neraka atau menggunakan nyawanya sendiri untuk menebus hidup / nyawa sang anak, rela menukar nyawa sang anak dengan nyawa sang ayah sendiri alih-alih merampas hidup sang anak, itu barulah lulus “uji moral”. Seorang ayah yang baik, ingin agar anaknya bahagia, alih-alih membahagiakan sang ayah sendiri dengan merampas kebahagiaan dan hak-hak sang anak. At that time, Ibrahim was not a father, but an EXECUTOR! Menghadapi kaum “haus pertumpahan darah” demikian, cukuplah kita berkata:

“Jenis manusia yang tidak menyiksa dan melukai dirinya maupun makhluk lain, yang mana keduanya (diri sendiri maupun kaum hewan) menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan. Itulah sebabnya jenis orang ini memuaskan pikiranku.”

Dalam terminologi islam, ada yang diberi istilah “juru sembelih halal”, yakni sebelum menyembelih maka yang disembelih tidak boleh diperlihatkan alat sembelih ataupun disiksa batinnya dengan membuat yang akan disembelih mengetahui bahwa ia akan disembelih. Telah ternyata Ibrahim merupakan “juru sembelih HARAM”, karena membuat kurban-nya, yakni sang anak kandung sendiri yang bernama Ismail, tersiksa jiwa-batinnya mengetahui akan disembelih oleh sang ayah yang tergila-gila pada bidadari di surga, sehingga “gelap mata” dan tega untuk menyembelih anak kandung sendiri. Perhatikan apa yang tertuang dalam Surah Ash Shaffat ayat 100 – 111 berikut:

(100) Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.

(101) Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. [“KAMI”? Katanya wahyu dari Tuhan. “Kami”, tidak lain tidak bukan ialah persekutuan antara allah dan SATAN.]

(102) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:  Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar. [Ibrahim sedang “bermimpi-basah”, sibuk bersetubuh dengan puluhan bidadari di surga.]

(103) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).

(104) Dan Kami panggillah dia: Hai Ibrahim,

(105) susungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang berbuat baik. [Sang Buddha bersabda : “Berbuat baik artinya, tidak merugikan orang lain juga tidak merugikan diri sendiri.”]

(106) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.

(107) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

(108) Kami abadikan Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang yang datang kemudian.

(109) (yaitu)  Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. [Namun tidak dilimpahkan atas Ismail yang memandang nyawanya tidak lebih berharga daripada “sampah”.]

(111) Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. [“KAMI “, bukankah katanya tiada Tuhan lain selain Allah? Adapun frasa “ia” pada ayat ini, merujuk pada Ibrahim, sebagaimana ayat ke-109. Adapun Ismail, tidak termasuk hamba yang beriman, karena ternak saja akan meronta sekuat tenaga mempertahankan nyawa-hidupnya saat akan disembelih. Ismail telah memberhalakan sang ayah, Ibrahim, mengingat Ismail nyata-nyata tidak diberikan “mimpi” oleh Allah, namun oleh SATAN.]

PEMBAHASAN:

Adalah fakta yang paling menarik dari kisah “ayah EGOIS” bernama Ibrahim yang tergila-gila bermimpi masuk surga demi bisa bersenang-senang dan bersetubuh dengan puluhan bidadari untuk ia gauli, para muslim benar-benar menyembelih hewan-hewan ternak alih-alih membebaskan mereka agar bisa tetap hidup di alam liar dan meninggal secara alami akibat usia tua, yang mengartikan Ibrahim memang benar-benar bemaksud (tekad-bulat) untuk menyembelih anak kandungnya sendiri, Ismail, dan karenanya sudah ada “niat jahat” disertai “permulaan perbuatan”, suatu “percobaan pembunuhan” yang tidak selesai bukan karena faktor internal diri sang pelaku, namun anaknya tertukar dengan ternak, sehingga bila sang anak tidak ditukar dengan ternak diwaktu yang tepat, dapat dipastikan leher Ismail telah putus akibat disembelih dan bersimbah darah yang tumpah menggenangi tubuhnya juga tangan sang bapak.

Betapa di tengah-tengah kekusutan, kecurangan, dan muslihat manusia—yang dalam satu cara melalui jasmaninya, dalam cara lain melalui ucapannya, sementara pikirannya bekerja dalam cara lain lagi (hipokrit)—Allah yang katanya “Maha Tahu”, telah ternyata tidak mengetahui motif ataupun motivasi sebenarnya dibalik sikap Ibrahim yang tunduk dan takluk pada godaan untuk bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada-montok di surga dan tergila-gila karenanya hingga “terbutakan”. Celaan terhadap Ibrahim, ternyata telah disebutkan oleh Sang Buddha dalam sabdanya dengan kutipan sebagai berikut:

“Orang-orang jenis apakah, para bhikkhu, yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lainseorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci? ... dengan meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang banyak atau sedikit, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

“Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya hidup kebhikkhuan, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, berhati-hati, penuh belas kasih, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup.”

Kini, menjadi jelas bahwa bukanlah dengan meng-kurban-kan nyawa anak, yang dilakukan oleh Pangeran Siddhatta Gotama, namun dengan menjadi seorang bhikkhu. Selengkapnya, dapat kita simak dalam “Khotbah-Khotbah Menengah Sang Buddha (Majjhima Nikāya)”, Judul Asli : “The Middle Length Discourses of the Buddha, A Translation of the Majjhima Nikāya”, translated from the Pāli to English by Bhikkhu Ñāamoli and Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications (1995); diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Edi Wijaya & Indra Anggara, penerbit DhammaCitta Press (2013):

SUTTA 51

Kandaraka Sutta: Kepada Kandaraka

[339] 1. DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di Campā di tepi Danau Gaggarā bersama sejumlah besar Sangha para bhikkhu. Kemudian Pessa, putera penunggang gajah, dan Kandaraka si pengembara mendatangi Sang Bhagavā.

Pessa, setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, duduk di satu sisi, sementara Kandaraka saling bertukar sapa dengan Sang Bhagavā, dan setelah ramah-tamah ini berakhir, ia berdiri di satu sisi. Sambil berdiri di sana, ia mengamati Sangha para bhikkhu yang sedang duduk dalam keheningan sepenuhnya, dan kemudian ia berkata kepada Sang Bhagavā:

[Kitab Komentar : Dari perbedaan cara mereka dalam menyapa Sang Buddha, terlihat bahwa Pessa adalah seorang pengikut Sang Buddha. Sementara itu Kandaraka, setelah ramah-tamah ini berakhir, ia berdiri di satu sisi. Kandaraka – terlepas dari penghormatan dan kekagumannya – adalah pengikut dari komunitas kepercayaan lain.

Sangha para bhikkhu yang duduk dalam keheningan sepenuhnya, adalah dalam rangka menghormati Sang Buddha dan karena latihan mereka, para bhikkhu tidak saling berdebat satu sama lain, mereka bahkan juga tidak berdehem. Dengan tidak menggerakkan badan, dengan tidak kacau dalam pikiran, mereka duduk mengelilingi Sang Bhagavā bagaikan awan kemerahan mengelilingi puncak Gunung Sineru. Kandaraka pasti secara diam-diam membandingkan kumpulan para bhikkhu itu dengan kumpulan para pengembara seperti digambarkan pada Majjhima Nikāya 76.4.]

2. “Sungguh menakjubkan, Guru Gotama, sungguh mengagumkan bagaimana Sangha para bhikkhu telah diarahkan untuk mempraktikkan jalan yang benar oleh Guru Gotama. Mereka yang terberkahi, yang sempurna dan tercerahkan sempurna di masa lampau, paling jauh hanya mengarahkan Sangha para bhikkhu untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang telah dilakukan oleh Guru Gotama sekarang. Dan Mereka yang akan terberkahi, yang sempurna dan tercerahkan sempurna di masa depan, paling jauh akan hanya mengarahkan Sangha para bhikkhu untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang telah dilakukan oleh Guru Gotama sekarang.”

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa Kandaraka tidak memiliki pengetahuan langsung atas para Buddha di masa lampau dan masa depan. Ia mengucapkan pernyataan ini sebagai suatu cara mengungkapkan kekagumannya terhadap Sangha para bhikkhu yang terlatih baik, disiplin, dan tenang. Akan tetapi, Sang Buddha mengonfirmasi ini atas dasar pengetahuan langsung.]

3. “Demikianlah, Kandaraka, demikianlah! Mereka yang terberkahi, yang sempurna dan tercerahkan sempurna di masa lampau, paling jauh hanya mengarahkan Sangha para bhikkhu untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang telah dilakukan olehKu sekarang. Dan Mereka yang akan terberkahi, yang sempurna dan tercerahkan sempurna di masa depan, paling jauh akan hanya mengarahkan Sangha para bhikkhu untuk mempraktikkan jalan yang benar seperti yang telah dilakukan olehKu sekarang.

“Karena, Kandaraka, dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang adalah para Arahant dengan noda-noda telah dihancurkan, yang telah menjalani kehidupan suci, telah melakukan apa yang harus dilakukan, telah menurunkan beban, telah mencapai tujuan sejati, telah menghancurkan belenggu penjelmaan, dan yang terbebaskan sepenuhnya melalui pengetahuan akhir. Dan dalam Sangha para bhikkhu ini terdapat para bhikkhu yang dalam tingkat latihan yang lebih tinggi, dengan moralitas yang konstan, bijaksana, menjalani kehidupan dengan kebijaksanaan konstan. Mereka berdiam dengan pikiran kokoh dalam empat landasan perhatian. Apakah empat ini? Di sini, Kandaraka, [340] seorang bhikkhu berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan perasaan sebagai perasaan, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan pikiran sebagai pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Ia berdiam dengan merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia.”

[Kitab Komentar : “Empat landasan perhatian” disebutkan untuk menunjukkan penyebab pembawaan Sangha yang tenang. Tentang empat landasan perhatian, baca Majjhima Nikāya 10.]

4. Ketika hal ini dikatakan, Pessa, putera penunggang gajah, berkata: “Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkan betapa baiknya empat landasan perhatian telah dibabarkan oleh Sang Bhagavā: untuk pemurnian makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan ratapan, untuk lenyapnya kesakitan dan kesedihan, untuk pencapaian jalan sejati, untuk penembusan Nibbāna. Karena, Yang Mulia, kami para umat awam berbaju-putih dari waktu ke waktu juga berdiam dengan pikiran kami kokoh dalam empat landasan perhatian ini. Di sini, Yang Mulia, kami berdiam dengan merenungkan jasmani sebagai jasmani … perasaan sebagai perasaan … pikiran sebagai pikiran … objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, penuh kewaspadaan, dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan ketamakan dan kesedihan akan dunia. Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, sungguh mengagumkan betapa di tengah-tengah kekusutan, kecurangan, dan muslihat manusia, Sang Bhagavā mengetahui kesejahteraan dan bahaya pada makhluk-makhluk. Karena manusia adalah kekusutan sedangkan binatang lebih terbuka. Yang Mulia, aku dapat menunggang seekor gajah yang harus dijinakkan, dan dalam waktu selama yang diperlukan untuk berjalan bolak-balik di Campā, gajah itu akan memperlihatkan segala jenis tipu daya, muslihat, ketidak-jujuran, dan kecurangan [yang mampu ia lakukan]. Tetapi mereka yang disebut budak, kurir, dan pelayan kami berperilaku dalam satu cara melalui jasmaninya, dalam cara lain melalui ucapannya, sementara pikirannya bekerja dalam cara lain lagi. Sungguh menakjubkan, Yang Mulia, Sungguh mengagumkan betapa di tengah-tengah kekusutan, kecurangan, dan muslihat manusia, Sang Bhagavā mengetahui kesejahteraan dan bahaya pada makhluk-makhluk. Karena manusia adalah kekusutan sedangkan binatang lebih terbuka.”

[Kitab Komentar : Pernyataan Pessa, “Karena, Yang Mulia, kami para umat awam berbaju-putih dari waktu ke waktu juga berdiam dengan pikiran kami kokoh dalam empat landasan perhatian ini”, dapat dimaknai sebagai : “Kami juga, ketika kami memiliki kesempatan, dari waktu ke waktu memperhatikan ini; kami juga adalah para praktisi, kami tidak sama sekali mengabaikan meditasi.”

Saripati dari pernyataan “binatang akan memperlihatkan [secara terbuka] segala jenis tipu daya, muslihat, ketidak-jujuran, dan kecurangan [yang mampu ia lakukan]”, adalah bahwa muslihat dan tipu daya binatang adalah sangat terbatas, sedangkan muslihat manusia tidak habis-habisnya dan penuh “persona” (topeng-artifisial).]

5. “Demikianlah, Pessa, demikianlah! [341] Manusia adalah kekusutan sedangkan binatang lebih terbuka. Pessa, terdapat empat jenis orang di dunia ini. Apakah empat ini? Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya. Di sini jenis orang tertentu menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Di sini jenis orang tertentu tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain. Karena ia tidak menyiksa dirinya dan makhluk lain, maka ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Yang manakah dari empat jenis orang ini yang memuaskan pikiranmu, Pessa?”

[Kitab Komentar menjelaskan bahwa “terdapat empat jenis orang di dunia ini” dimaksudkan sebagai lanjutan dari pernyataan Pessa bahwa Sang Bhagavā mengetahui kesejahteraan dan bahaya dari makhluk-makhluk; karena Sang Buddha menunjukkan bahwa tiga jenis orang pertama mempraktikkan jalan yang mencelakai, sedangkan jenis ke empat mempraktikkan jalan yang bermanfaat.

Paragraf tersebut juga dapat dihubungkan dengan pujian Kandaraka kepada Sangha; karena Sang Buddha akan menunjukkan tiga jalan (tiga jenis orang yang disebutkan diawal) yang tidak Beliau ajarkan kepada Sangha dan satu jalan (jenis orang yang disebutkan diakhir) yang diajarkan oleh semua Buddha di masa lampau, masa sekarang, dan masa depan kepada Sangha mereka.

Sukhapaisavedi brahmabhūtena attanā, setelah dirinya sendiri menjadi suci. Kitab Komentar menjelaskan bahwa ia mengalami kebahagiaan jhāna, jalan, buah, dan Nibbāna. “Brahma” di sini harus dipahami dalam makna suci atau mulia (seṭṭha). Mungkin ada suatu sindiran di sini pada tema utama Upanishad, identitas ātman sebagai Brahman.]

Tiga yang pertama tidak memuaskan pikiranku, Yang Mulia, tetapi yang ke empat memuaskan pikiranku.”

6. “Tetapi, Pessa, mengapakah tiga yang pertama tidak memuaskan pikiranmu?”

“Yang Mulia, jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, menyiksa dan melukai dirinya walaupun ia menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai makhluk lain yang menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. Dan jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain, menyiksa dan melukai dirinya dan makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan; itulah sebabnya jenis orang ini tidak memuaskan pikiranku. [342] Tetapi jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain; yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci – ia tidak menyiksa dan melukai dirinya maupun makhluk lain, yang mana keduanya menginginkan kesenangan dan menjauhi kesakitan. Itulah sebabnya jenis orang ini memuaskan pikiranku. Dan sekarang, Yang Mulia, kami pergi. Kami sibuk dan banyak urusan yang harus dilakukan.”

“Silahkan engkau pergi, Pessa.”

Kemudian Pessa, putera seorang penunggang gajah, setelah merasa senang dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā, bangkit dari duduknya, dan setelah bersujud kepada Sang Bhagavā, dengan Beliau tetap di sisi kanannya, ia pergi.

7. Segera setelah ia pergi, Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu sebagai berikut: “Para bhikkhu, Pessa, putera penunggang gajah, adalah seorang bijaksana, ia memiliki kebijaksanaan luas. Jika ia duduk sedikit lebih lama hingga Aku membabarkan kepadanya secara terperinci tentang keempat jenis orang ini, ia akan sangat beruntung. Namun ia tetap sudah memperoleh manfaat besar bahkan sebanyak ini.”

[Kitab Komentar : Pessa mungkin akan mencapai buah “memasuki-arus”, namun ia bangkit dari duduknya dan pergi sebelum Sang Buddha menyelesaikan khotbahNya. Manfaat yang diterimanya ada dua: ia memperoleh keyakinan yang lebih mendalam pada Sangha, dan ia memunculkan metode baru untuk memahami landasan-landasan perhatian.]

“Ini adalah saatnya, Bhagavā, ini adalah waktunya, Yang Mulia, bagi Sang Bhagavā untuk membabarkan secara terperinci tentang keempat jenis orang ini. Setelah mendengarnya dari Sang Bhagavā, para bhikkhu akan mengingatnya.”

“Maka, para bhikkhu, dengarkan dan perhatikanlah pada apa yang akan Kukatakan.”

“Baik, Yang Mulia,” para bhikkhu menjawab. Sang Bhagavā berkata sebagai berikut:

8. “Para bhikkhu, orang-orang jenis apakah yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri? Di sini seseorang tertentu bepergian dengan telanjang, melanggar kebiasaan, menjilat tangannya, tidak datang ketika diminta, tidak berhenti ketika diminta; ia tidak menerima makanan yang diserahkan dan tidak menerima makanan yang secara khusus dipersiapkan dan tidak menerima undangan makan; ia tidak menerima dari kendi, dari mangkuk, melintasi ambang pintu, melintasi tongkat kayu, melintasi alat penumbuk, dari dua orang yang sedang makan bersama, dari perempuan hamil, dari perempuan yang sedang menyusui, dari perempuan yang sedang berada di tengah-tengah para laki-laki, dari mana terdapat pengumuman pembagian makanan, dari mana seekor anjing sedang menunggu, dari mana lalat beterbangan; ia tidak menerima ikan atau daging, ia tidak meminum minuman keras, anggur, atau minuman fermentasi. Ia mendatangi satu rumah, satu suap; ia mendatangi dua rumah, dua suap; … ia mendatangi tujuh rumah, tujuh suap. Ia makan satu mangkuk sehari, dua mangkuk sehari … tujuh mangkuk sehari. Ia makan sekali dalam sehari, [343] sekali dalam dua hari … sekali dalam tujuh hari, dan seterusnya hingga sekali setiap dua minggu; ia berdiam dengan menjalani praktik makan pada interval waktu yang telah ditentukan. Ia adalah pemakan sayur-sayuran atau jawawut atau beras liar atau kupasan kulit atau lumut atau kulit padi atau sekam atau tepung wijen atau rumput atau kotoran sapi. Ia hidup dari akar-akaran dan buah-buahan di hutan; ia memakan buah-buahan yang jatuh. Ia mengenakan pakaian terbuat dari rami, dari rami bercampur kain, dari kain pembungkus mayat, dari kain yang dibuang, dari kulit pohon, dari kulit rusa, dari cabikan kulit rusa, dari kain rumput kusa, dari kain kulit kayu, dari kain serutan kayu, dari kain rambut, dari kain bulu binatang, dari bulu sayap burung hantu. Ia adalah seorang yang mencabut rambut dan janggut, menjalani praktik mencabut rambut dan janggut. Ia adalah seorang yang berdiri terus-menerus, menolak tempat duduk. Ia adalah seorang yang berjongkok terus-menerus, senantiasa mempertahankan posisi jongkok. Ia adalah seorang yang menggunakan alas tidur paku; ia menjadikan alas tidur paku sebagai tempat tidurnya. Ia berdiam dengan menjalani praktek mandi tiga kali sehari termasuk malam hari. Demikianlah dalam berbagai cara ia berdiam dengan menjalankan praktik menyiksa dan menyakiti tubuhnya. Ini disebut jenis orang yang menyiksa dirinya dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri.

[Kitab Komentar : Jenis orang yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri, menjelaskan praktik keras yang dijalankan oleh banyak pertapaan pada masa Sang Buddha, juga oleh Sang Bodhisatta sendiri selama masa berjuang untuk mencapai pencerahan. Baca Majjhima Nikāya 12.45.]

9. “Orang-orang jenis apakah, para bhikkhu, yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain? Di sini seseorang tertentu adalah seorang penyembelih domba, penyembelih babi, penyembelih unggas, penangkap binatang-binatang liar, pemburu, nelayan, pencuri, algojo, sipir penjara, atau seorang yang menekuni pekerjaan berdarah itu. Ini disebut jenis orang yang menyiksa makhluk lain dan melakukan praktek menyiksa makhluk lain.

[Komentar : Adalah merupakan kelaziman dalam praktek di penjara, narapidana yang berlatar-belakang para kriminal tidak dapat ditertibkan bila sipir tidak bersikap keras secara konsisten.]

10. “Orang-orang jenis apakah, para bhikkhu, yang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain? Di sini seseorang yang adalah raja mulia yang sah atau seorang brahmana kaya. Setelah membangun sebuah kuil pengorbanan baru di sebelah timur kota, dan setelah mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah dari kulit kasar, dan melumuri tubuhnya dengan ghee dan minyak, menggaruk punggungnya dengan tanduk rusa, ia memasuki kuil pengorbanan bersama dengan ratunya dan brahmana pendeta tertinggi. Di sana ia berbaring di atas tanah yang ditebari rumput. Raja bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu pertama seekor sapi yang memiliki anak dengan warna yang sama [344] sedangkan ratu bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu ke dua dan brahmana pendeta tertinggi bertahan hidup dengan meminum susu yang berasal dari puting susu ke tiga; susu dari puting susu ke empat dituangkan ke dalam api, dan anak sapi itu hidup dari apa yang tersisa. Ia berkata sebagai berikut: ‘Mari menyembelih sapi-sapi sebagai pengorbanan, mari menyembelih sapi-sapi muda sebagai pengorbanan, mari menyembelih anak-anak sapi sebagai pengorbanan, mari menyembelih domba-domba sebagai pengorbanan, mari menebang banyak pepohonan sebagai tiang pengorbanan, mari memotong banyak rumput sebagai rumput pengorbanan.’ Dan kemudian para budak, kurir, dan pelayannya membuat persiapan, menangis dengan wajah basah oleh air mata, karena didorong oleh ancaman hukuman dan oleh ketakutan. Ini disebut jenis orang menyiksa dirinya sendiri dan melakukan praktik menyiksa dirinya sendiri dan juga menyiksa makhluk lain dan melakukan praktik menyiksa makhluk lain.

[Kitab Komentar : Paragraf di atas menunjukkan praktik dari seseorang yang menyiksa dirinya dengan berharap memperoleh jasa dan kemudian memberikan pengorbanan yang melibatkan pembantaian banyak binatang dan penindasan pada para pekerjanya.]

11. “Orang-orang jenis apakah, para bhikkhu, yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktik menyiksa makhluk lain – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah dirinya sendiri menjadi suci?

[Kitab Komentar : Itu adalah Arahant. Untuk menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak menyiksa dirinya sendiri dan juga makhluk lain, berikutnya Sang Buddha menjelaskan jalan praktik yang dengannya Beliau sampai pada Kearahantaan.]

12. “Di sini, para bhikkhu, seorang Tathāgata muncul di dunia ini, sempurna, tercerahkan sempurna, sempurna dalam pengetahuan sejati dan perilaku, mulia, pengenal seluruh alam, pemimpin yang tanpa bandingan bagi orang-orang yang harus dijinakkan. Beliau menyatakan dunia ini bersama para dewa, Māra, dan Brahmā, generasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para pangeran dan rakyatnya, yang telah Beliau tembus oleh dirinya sendiri dengan pengetahuan langsung. Beliau mengajarkan Dhamma yang indah di awal, indah di pertengahan, dan indah di akhir, dengan makna dan kata-kata yang benar, dan Beliau mengungkapkan kehidupan suci yang murni dan sempurna sepenuhnya.

13. “Seorang perumah-tangga atau putera perumah-tangga atau seorang yang terlahir dari beberapa suku lainnya mendengarkan Dhamma itu. Ketika mendengarkan Dhamma itu ia memperoleh keyakinan dalam Sang Tathāgata. Dengan memiliki keyakinan itu, ia mempertimbangkan sebagai berikut: ‘Kehidupan rumah tangga ramai dan berdebu; kehidupan lepas dari keduniawian terbuka lebar. Tidaklah mudah, selagi hidup dalam sebuah keluarga, juga menjalani kehidupan suci yang murni dan sempurna bagaikan kulit kerang yang digosok. Bagaimana jika aku mencukur rambut dan janggutku, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.’ Kemudian pada kesempatan lain, dengan meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, [345] meninggalkan sanak saudara yang banyak atau sedikit, ia mencukur rambut dan janggutnya, mengenakan jubah kuning, dan meninggalkan keduniawian dari kehidupan rumah tangga menuju kehidupan tanpa rumah.

[Komentar : Bila kita perhatikan baik-baik kalimat “dengan meninggalkan harta yang banyak atau sedikit, meninggalkan sanak saudara yang banyak atau sedikit”, menjadi tahulah kita betapa “pengorbanan” sesungguhnya terjadi ketika Pangeran Siddhatta Gotama meninggalkan takhta kerajaan, serta meninggalkan istri, anak, maupun orangtuanya. Memilih menjadi seorang bhikkhu (meninggalkan keduniawian), adalah pengorbanan sejati, kontras yang kisah Ibrahim / Abraham dalam agama samawi-abrahamik yang justru merampas nyawa-hidup puteranya sendiri.]

14. “Setelah meninggalkan keduniawian demikian dan memiliki latihan dan gaya hidup kebhikkhuan, dengan meninggalkan pembunuhan makhluk-makhluk hidup, ia menghindari pembunuhan makhluk-makhluk hidup; dengan tongkat pemukul dan senjata disingkirkan, berhati-hati, penuh belas kasih, ia berdiam dengan berbelas kasih kepada semua makhluk hidup. Dengan meninggalkan perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan, ia menghindari perbuatan mengambil apa yang tidak diberikan; hanya mengambil apa yang diberikan, mengharapkan hanya apa yang diberikan, dengan tidak mencuri ia berdiam dalam kemurnian. Dengan meninggalkan kehidupan tidak selibat, ia menjalani hidup selibat, hidup terpisah, menghindari praktek vulgar hubungan seksual.

Dengan meninggalkan ucapan salah, ia menghindari ucapan salah; ia mengatakan kebenaran, terikat pada kebenaran, terpercaya dan dapat diandalkan, seorang yang bukan penipu dunia. Dengan menghindari ucapan fitnah, ia menghindari ucapan fitnah; ia tidak mengulangi di tempat lain apa yang telah ia dengar di sini dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang itu] dari orang-orang ini, juga tidak mengulangi pada orang-orang ini apa yang telah ia dengar di tempat lain dengan tujuan untuk memecah-belah [orang-orang ini] dari orang-orang itu; demikianlah ia menjadi seorang yang merukunkan mereka yang terpecah-belah, seorang penganjur persahabatan, yang menikmati kerukunan, bergembira dalam kerukunan, senang dalam kerukunan, pengucap kata-kata yang menganjurkan kerukunan. Dengan meninggalkan ucapan kasar, ia menghindari ucapan kasar; ia mengucapkan kata-kata yang lembut, menyenangkan di telinga, dan indah, ketika masuk dalam batin, sopan, disukai banyak orang dan menyenangkan banyak orang. Dengan meninggalkan gosip, ia menghindari gosip; ia berbicara pada saat yang tepat, mengatakan apa yang sebenarnya, mengatakan apa yang baik, membicarakan Dhamma dan Disiplin; pada saat yang tepat ia mengucapkan kata-kata yang layak dicatat, yang logis, selayaknya, dan bermanfaat.

“Ia menghindari merusak benih dan tanaman. Ia berlatih makan hanya dalam satu kali sehari, menghindari makan di malam hari dan di luar waktu yang selayaknya. Ia menghindari menari, menyanyi, musik, dan pertunjukan hiburan. Ia menghindari mengenakan kalung bunga, mengharumkan dirinya dengan wewangian, dan menghias dirinya dengan salep. Ia menghindari dipan yang tinggi dan besar. Ia menghindari menerima emas dan perak. Ia menghindari menerima beras mentah. Ia menghindari menerima daging mentah. Ia menghindari menerima perempuan-perempuan dan gadis-gadis. Ia menghindari menerima budak laki-laki dan perempuan. Ia menghindari menerima kambing dan domba. Ia menghindari menerima unggas dan babi. Ia menghindari menerima gajah, sapi, kuda jantan, dan kuda betina. Ia menghindari menerima ladang dan tanah. Ia menghindari menjadi pesuruh dan penyampai pesan. Ia menghindari membeli dan menjual. Ia menghindari timbangan salah, logam palsu, dan ukuran salah. [346] Ia menghindari menerima suap, penipuan, kecurangan, dan muslihat. Ia menghindari melukai, membunuh, mengikat, merampok, menjarah, dan kekerasan.

[Komentar : Dalam Buddhisme, para siswa Sang Buddha terbagai menjadi dua kelompok yang sifatnya ialah pilihan, yakni sebagai umat awam dan para bhikkhu dalam disiplin monastik yang hidup selibat. Disiplin seperti menghindari menerima ladang dan tanah, menghindari menjadi pesuruh dan penyampai pesan, menghindari membeli dan menjual, diperuntukkan bagi para bhikkhu, sebagaimana tercatat dalam Vinaya Pitaka, satu dari tiga Pitaka (Tipitaka). Kehidupan monastik, merupakan sebuah pengkondisian berupa “terasing dari kenikmatan indriawi”, yang sifatnya mendukung pencapaian meditatif, juga dalam rangka terlepas dari “beban-beban” duniawi, dengan buahnya ialah “suatu kebahagiaan yang tanpa noda”.]

15. “Ia menjadi puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan ke manapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Seperti halnya seekor burung, ke manapun ia pergi, ia terbang hanya dengan sayap-sayapnya sebagai beban satu-satunya, demikian pula, bhikkhu itu menjadi puas dengan jubah untuk melindungi tubuhnya dan makanan persembahan untuk memelihara perutnya, dan ke manapun ia pergi ia hanya membawa ini bersamanya. Dengan memiliki kelompok moralitas mulia ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa noda.

16. “Ketika melihat suatu bentuk dengan mata, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria mata tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria mata, ia menjalankan pengendalian indria mata. Ketika mendengar suatu suara dengan telinga ... Ketika mencium suatu bau-bauan dengan hidung ... Ketika mengecap suatu rasa kecapan dengan lidah ... Ketika menyentuh suatu objek sentuhan dengan badan ... Ketika mengenali suatu objek-pikiran dengan pikiran, ia tidak menggenggam gambaran dan ciri-cirinya. Karena, jika ia membiarkan indria pikiran tanpa terkendali, kondisi jahat yang tidak bermanfaat berupa ketamakan dan kesedihan akan dapat menyerangnya, ia berlatih cara pengendaliannya, ia menjaga indria pikiran, ia menjalankan pengendalian indria pikiran. Dengan memiliki pengendalian mulia akan indria-indria ini, ia mengalami dalam dirinya suatu kebahagiaan yang tanpa noda.

17. “Ia menjadi seorang yang bertindak dengan penuh kewaspadaan ketika berjalan maju maupun mundur; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika melihat ke depan maupun ke belakang; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika menunduk maupun menegakkan badan; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika mengenakan jubahnya dan membawa jubah luar dan mangkuknya; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika makan, minum, mengunyah makanan, dan mengecap; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika buang air besar maupun buang air kecil; yang bertindak dalam kewaspadaan penuh ketika berjalan, berdiri, duduk, jatuh tertidur, terjaga, berjalan, berbicara, dan berdiam diri.

18. “Dengan memiliki kelompok moralitas mulia ini, dan pengendalian mulia atas indria-indria ini, dan memiliki perhatian mulia dan kewaspadaan mulia ini, ia mencari tempat tinggal yang terasing: hutan, bawah pohon, gunung, jurang, gua di lereng gunung, tanah pekuburan, hutan belantara, ruang terbuka, tumpukan jerami.

19. “Setelah kembali dari menerima dana makanan, setelah makan ia duduk bersila, menegakkan badannya, dan menegakkan perhatian di depannya. [347] Dengan meninggalkan ketamakan akan dunia, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari ketamakan; ia memurnikan pikirannya dari ketamakan. Dengan meninggalkan permusuhan dan kebencian, ia berdiam dengan pikiran yang bebas dari permusuhan, berbelas kasih bagi kesejahteraan semua makhluk hidup; ia memurnikan pikirannya dari permusuhan dan kebencian. Dengan meninggalkan kelambanan dan ketumpulan, ia berdiam dengan terbebas dari kelambanan dan ketumpulan, seorang yang mempersepsikan cahaya, penuh perhatian dan penuh kewaspadaan; ia memurnikan pikirannya dari kelambanan dan ketumpulan. Dengan meninggalkan kegelisahan dan penyesalan, ia berdiam dengan tanpa kegelisahan dengan batin yang damai; ia memurnikan pikirannya dari kegelisahan dan penyesalan. Dengan meninggalkan keragu-raguan, ia berdiam setelah melampaui keragu-raguan, tanpa kebingungan akan kondisi-kondisi bermanfaat; ia memurnikan pikirannya dari keragu-raguan.

20. “Setelah meninggalkan kelima rintangan ini, ketidak-murnian pikiran yang melemahkan kebijaksanaan, dengan cukup terasing dari kenikmatan indria, terasing dari kondisi-kondisi tidak bermanfaat, ia masuk dan berdiam dalam jhāna pertama, yang disertai dengan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari keterasingan.

21. “Kemudian, dengan menenangkan awal pikiran dan kelangsungan pikiran, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke dua, yang memiliki keyakinan-diri dan keterpusatan pikiran tanpa awal pikiran dan kelangsungan pikiran, dengan sukacita dan kenikmatan yang muncul dari konsentrasi.

22. “Kemudian, dengan meluruhnya sukacita, seorang bhikkhu berdiam dalam keseimbangan, dan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan, masih merasakan kenikmatan pada jasmani, ia masuk dan berdiam dalam jhāna ke tiga, yang dikatakan oleh para mulia: ‘Ia memiliki kediaman yang menyenangkan yang memiliki keseimbangan dan penuh perhatian.’

23. “Kemudian, dengan meninggalkan kenikmatan dan kesakitan, dan dengan pelenyapan sebelumnya kegembiraan dan kesedihan, seorang bhikkhu masuk dan berdiam dalam jhāna ke empat, yang tanpa-kesakitan-juga-tanpa-kenikmatan dan memiliki kemurnian perhatian karena keseimbangan.

24. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan mengingat kehidupan lampau. Ia mengingat banyak kehidupan lampau, yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, banyak kappa penyusutan-dunia, banyak kappa pengembangan-dunia, banyak kappa penyusutan-dan-pengembangan-dunia: ‘Di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana aku bernama itu, dari suku itu, dengan penampilan seperti itu, makananku seperti itu, pengalaman kesenangan dan kesakitanku seperti itu, [348] umur kehidupanku selama itu; dan meninggal dunia dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan segala aspek dan ciri-cirinya ia mengingat banyak kehidupan lampau.

25. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan kematian dan kelahiran kembali makhluk-makhluk. Dengan mata-dewa, yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin. Ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka sebagai berikut: ‘Makhluk-makhluk ini yang berperilaku buruk dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, pencela para mulia, keliru dalam pandangan, memberikan dampak pandangan salah dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali dalam kondisi buruk, di alam rendah, dalam kesengsaraan, bahkan di dalam neraka; tetapi makhluk-makhluk ini, yang berperilaku baik dalam jasmani, ucapan, dan pikiran, bukan pencela para mulia, berpandangan benar, memberikan dampak pandangan benar dalam perbuatan mereka, ketika hancurnya jasmani, setelah kematian, telah muncul kembali di alam yang bahagia, bahkan di alam surga.’ Demikianlah dengan mata-dewa yang murni dan melampaui manusia, ia melihat makhluk-makhluk meninggal dunia dan muncul kembali, hina dan mulia, cantik dan buruk rupa, kaya dan miskin, dan ia memahami bagaimana makhluk-makhluk berlanjut sesuai dengan perbuatan mereka.

26. “Ketika pikirannya yang terkonsentrasi sedemikian murni, cerah, tanpa noda, bebas dari ketidak-sempurnaan, lunak, lentur, kokoh, dan mencapai kondisi tanpa-gangguan, ia mengarahkannya pada pengetahuan hancurnya noda-noda. Ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah asal-mula noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah lenyapnya noda-noda’; ia memahami sebagaimana adanya: ‘Ini adalah jalan menuju lenyapnya noda-noda.’

27. “Ketika ia mengetahui dan melihat demikian, pikirannya terbebaskan dari noda keinginan indria, dari noda penjelmaan, dan dari noda ketidak-tahuan. Ketika terbebaskan muncullah pengetahuan: ‘Terbebaskan.’ Ia memahami: ‘Kelahiran telah dihancurkan, kehidupan suci telah dijalani, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, tidak akan ada lagi penjelmaan menjadi kondisi makhluk apapun.’

28. “Ini, para bhikkhu, disebut jenis orang yang tidak menyiksa dirinya dan tidak melakukan praktik menyiksa dirinya, dan ia juga tidak menyiksa makhluk lain dan tidak melakukan praktek menyiksa makhluk lain [349] – seorang yang, karena tidak menyiksa dirinya dan orang lain, ia di sini dan saat ini tidak merasa lapar, padam, dan sejuk, dan ia berdiam dengan mengalami kebahagiaan, setelah ia sendiri menjadi suci.”

Itu adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā. Para bhikkhu merasa puas dan gembira mendengar kata-kata Sang Bhagavā.

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, kini tengoklah bagaimana para muslim MENGORBANKAN para korban-korbannya yang telah mereka sakiti, lukai, dan rugikan, lalu masih juga belum puas dan kian kesetanan dengan serakah hendak merampas hak-hak kalangan korban atas keadilan—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Kini, tengoklah juga bagaimana sang “nabi rasul allah” lebih sibuk merampas hak-hak korbannya atas keadilan, dijadikan kurban untuk kali-keduanya setelah sebelumnya dikorbankan dengan cara disakiti, dilukai, maupun dirugikan, alih-alih “berkurban diri” dengan cara bertanggung-jawab—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]