Kata Allah, “Wahai Umat Muslim, mengapa Engkau Mengharamkan Kenikmatan
Duniawi dan Inderawi yang mana PENGHAPUSAN DOSA Saja Halal Hukumnya?”
Jika Semua Dosa dapat Dihapus / Diampuni, maka Semuanya Halal di Mata Agama DOSA—Allah “Maha Zolim”, Menzolimi Kalangan Korban dengan Merampas Hak Korban Atas Keadilan
Question: Dalam pengamatan saya sejauh ini, umat agama samawi terjebak dalam mental “aji mumpung”, yakni “kenikmatan duniawi dan inderawi adalah ciptaan dan pemberian Allah, sehingga mengapa ditolak ataupun diharamkan?” Bukankah itu bertolak-belakang dengan ajaran Buddha bahwa ada bahaya dibalik kenikmatan inderawi sehingga demi kebaikan kita sendiri untuk terasing dari kenikmatan duniawi?
Brief
Answer: Orang dungu, akan memandang
dan meyakini bahwa iming-iming KORUP yang membuat mereka menjelma menjadi “KORUPTOR
DOSA”, yakni dogma PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”, merupakan “kenikmatan”,
alias “hidup adalah nikmat”, “nikmat pemberian Allah”, sehingga dosa-dosa pun mereka
korupsi. Dengan demikian, menjadi omong-kosong segala dogma mereka mengenai
dosa, larangan, haram, bila kesemua pelanggaran terhadapnya dapat dihapus /
diampuni lewat ritual “abolition of sins”—kesemua jargon mengenai “ini dan
itu dosa”, “ini dan itu haram”, atau “ini dan itu dilarang”, hanya menciptakan
ilusi seolah mereka kaum paling superior yang berhak menghakimi kaum lainnya,
sekalipun sejatinya mereka merupakan kasta paling hina, paling rendah, paling
kotor, paling jorok, paling tercela, paling berdosa, paling pemalas, paling
pengecut, serta paling korup.
PEMBAHASAN:
Banyak hal penting, yang tidak akan dimiliki oleh umat “Agama DOSA” (umat
agama samawi yang mencandu “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”),
sebagaimana khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang
Buddha, JILID V”, Judul Asli
: “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012,
terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan
sebagai berikut:
I. Kebergantungan
1 (1) Tujuan Apakah?
Demikianlah yang kudengar. Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap
di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika. Kemudian Yang Mulia Ānanda mendatangi Sang
Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan berkata kepada Beliau:
(1) “Bhante, apakah
tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral yang bermanfaat?”
(2) “Ānanda, tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral yang bermanfaat
adalah ketidak-menyesalan.”
(3) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari ketidak-menyesalan?”
“Tujuan dan manfaat dari ketidak-menyesalan adalah kegembiraan.”
(4) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari kegembiraan?”
“Tujuan dan manfaat dari kegembiraan adalah sukacita.”
(5) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari sukacita?”
“Tujuan dan manfaat dari sukacita adalah ketenangan.”
(6) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari ketenangan?”
“Tujuan dan manfaat dari ketenangan adalah kenikmatan.”
(7) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari kenikmatan.”
“Tujuan dan manfaat dari kenikmatan adalah konsentrasi.”
(8) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari konsentrasi?”
“Tujuan
dan manfaat dari konsentrasi adalah pengetahuan dan penglihatan pada segala
sesuatu sebagaimana adanya.”
(9) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari pengetahuan dan
penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya?”
“Tujuan
dan manfaat dari pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana
adanya adalah kekecewaan.”
(10) “Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari kekecewaan?”
“Tujuan
dan manfaat dari kekecewaan adalah kebosanan.” [312]
(11) Dan apakah, Bhante, tujuan dan manfaat dari kebosanan?”
“Tujuan
dan manfaat dari kebosanan adalah pengetahuan dan penglihatan pada kebebasan.”
“Demikianlah, Ānanda, (1)-(2) tujuan dan manfaat dari perilaku bermoral
yang bermanfaat adalah ketidak-menyesalan; (3) tujuan dan manfaat dari
ketidak-menyesalan adalah kegembiraan; (4) tujuan dan manfaat dari kegembiraan
adalah sukacita; (5) tujuan dan manfaat dari sukacita adalah ketenangan; (6)
tujuan dan manfaat dari ketenangan adalah kenikmatan; (7) tujuan dan manfaat
dari kenikmatan adalah konsentrasi; (8) tujuan dan manfaat dari konsentrasi
adalah pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu sebagaimana adanya; (9)
tujuan dan manfaat dari pengetahuan dan penglihatan pada segala sesuatu
sebagaimana adanya adalah kekecewaan; (10) tujuan dan manfaat dari kekecewaan
adalah kebosanan; dan (11) tujuan dan manfaat dari kebosanan adalah pengetahuan
dan penglihatan pada kebebasan. Demikianlah, Ānanda, perilaku bermoral yang
bermanfaat secara bertahap mengarah pada yang terunggul.”
Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi,
disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam
“PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”.
Dosa-dosa
pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang
begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri
buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut
yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik
perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit
jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip
dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- No. 1266 : “Barangsiapa
yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh
keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah
berlalu akan diampuni.”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
-
Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata :
Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah
ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap
kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi.
Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai
setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi
ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan
sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan
sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No.
3540]
Pendosa,
namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang
berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN
DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun
hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga.
Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur,
adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun
disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.
Terhadap
dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda
keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik
menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan
membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA”
alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat
kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih
dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]