Umat Nasrani Senang Ditipu Panggung Sandiwara Mukzijat Kesembuhan

Ada Beda antara Ditipu dan Menipu Diri Sendiri

Question: Sepertinya mayoritas umat nasrani menyadari, bahwa mukzijat sentuhan roh kudus yang lewat pastor menyembuhkan orang sakit, membuat orang lumpuh dan pengidab polio bisa berjalan, sebenarnya hanyalah sugesti “setting panggung” belaka, bila bukan sandiwara yang dipaksakan sifatnya. Namun mengapa mereka masih mau juga meng-iman-i apa yang telah mereka sadari sebagai manipulasi serta “setting panggung” belaka? Buktinya, tidak pernah ada verifikasi medis, sebelum dan sesudah panggung pertunjukkan itu dilaksanakan untuk meng-konfirmasi kebenaran kondisi pasien dan kesembuhan penyakitnya.

Cacat Logika Kaum Muslim, menyerupai Nurani Mereka yang BUTA : Menumpahkan Darah dan Merampas Nyawa Makhluk Hidup lain disebut Cinta Kasih

Kata Muslim (Islam), Menyembelih (Merampas Hidup / Nyawa) Hewan-Ternak adalah Cinta Kasih, Sepanjang Menyebut Nama Allah saat Menjagal Leher Makhluk Malang tersebut

Demi Bisa Bersetubuh dengan Bidadari dan Bersenang-Senang di Surga, Ibrahim / Abraham Tega Menyembelih Leher Anak Kandungnya Sendiri, Ismail / Ishaq (SELFISH MOTIVE, EGO)

Menurut Anda, manakah yang lebih jahat, merampas hak hidup seekor hewan untuk dimakan manusia, ataukah penyiksaan / eksploitasi terhadap hewan demi menghibur manusia di pertunjukan? Apapun itu, bila “standar moral” Anda belum rusak akibat dogma agama samawi (hewan diciptakan Tuhan untuk dimakan oleh manusia, kata agama nasrani, dan nonkristen adalah “domba yang hilang”, yang ketika ditemukan maka akan dimakan oleh yesus), merampas hidup maupun eksploitasi adalah tercela dan dapat dicela oleh para bijaksana.

Kiat menjadi Tidak Takut pada Allah yang Mengancam Dimasukkan ke Neraka karena Tidak Bersedia Menggadaikan Jiwa & Dijadikan Budak Sembah-Sujud Allah

Allah Takut pada Orang Suci dan Neraka Jauh dari Orang Baik

Allah Senang kepada Orang Jahat dan Neraka Dekat kepada Pendosawan

Question: Saya merasa, hanya ada satu buah motif dan satu buah motivasi dibalik keputusan seseorang untuk memeluk agama samawi-abrahamik. Motifnya ialah ketakutan atas ancaman Allah akan dimasukkan ke neraka bila tidak menyembah Allah. Adapun motivasinya, ialah mabuk dan mencandu pengampunan dosa sehingga bisa “business as usual” berbuat dosa-dosa untuk kemudian memohon dihapuskan. Harga mahal yang harus mereka bayarkan, ialah terdemotivasi untuk menjadi orang baik, karena “orang jahat saja dimasukkan ke surga” lewat ritual sembah-sujud. Lalu, bagaimana dengan jenis-jenis orang seperti mereka yang berhati baik yang suka berbuat kebaikan, orang berjiwa ksatria yang berani untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri dan berani membayar serta menerima konsekuensi dari perbuatan buruknya sendiri, terlebih orang suci yang terlatih dalam disiplin diri yang ketat yang bernama “self-control”, apakah Allah bisa menyetir dan membuat mereka tunduk pada keinginan Allah yang minta untuk disembah?

Bahagia dalam Kedunguan Vs. Kebahagiaan Terbebas dari Kedunguan

Air, Alamiahnya Bergerak ke Arah Bawah, Bukan ke Arah Atas. Sama seperti Kesenangan Orang Dungu

Orang Mabuk manakah, yang Mengakui atau Menyadari bahwa Dirinya sedang Mabuk dan Mencandu?

Question: Disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia di dunia ini. Itu survei dari mana ya? Mengapa berita yang muncul di pemberitaan media, seperti ada anak sekolah dasar mengakhiri hidupnya akibat tidak mampu membeli buku tulis dan alat tulis, anak yang tewas akibat terpapar cacing parasit, bencana alam bertubi-tubi, korupsi merajalela mulai dari pejabat hingga ketua rukun tentangga maupun ketua rukun warga, angka stunting yang tinggi pada balita, bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, penjara yang selalu penuh sesak oleh penghuni narapidana, polisi yang justru menjadi pelaku premanisme terhadap warga, pungutan liar oleh pejabat yang digaji dari rakyat yang dibayarkan oleh rakyat, kesenjangan sosial dan ekonomi yang lebar, pejabat bertindak bak raja dan rakyat jelata bak bangsa jajahan, pengangguran membludak, kemacetan parah, banjir dan bencana sepanjang tahun, daerah-daerah kumuh yang bertebaran dengan sanitasi yang buruk, hingga data dari Badan Pusat Statistik bahwa anak yang tewas bunuh diri di Indonesia tergolong paling tertinggi se-Asia Tenggara. Ini “bahagia” semacam apa yang dimaksud dan apakah patut dibanggakan dan dirayakan?

Umat Agama Samawi menjadikan DOSA dan MAKSIAT sebagai OTORITAS TERTINGGI Atas Diri dan Pikirannya, Akal Sehat pun Digadaikan demi Iman Setebal Tembok Beton yang Tidak Tembus Cahaya

Babi dibilang “haram”. “PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”, Dasar “KORUPTOR DOSA”!

Question: Ada orang yang berpura-pura terhadap orang lain juga terhadap dirinya sendiri. Ada juga orang yang bukan hanya pandai menipu orang lain, namun juga sering menipu, ingkar janji, dan berbohong kepada dirinya sendiri. Dia pikir jika orang lain tidak tahu perbuatannya, maka artinya ia tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan jahat itu. Memangnya kita benar-benar bisa mencurangi kehidupan ini, orang lain, maupun mencurangi diri sendiri?

SELFISH GENE Dibalik Kelahiran Agama Samawi

SELFISH GENE Allah dan Nabi yang Termanifestasi ke dalam Kitab DOSA Sumber Agama DOSA bernama Agama SAMAWI

Question: Setelah memelajari kitab-kitab agama samawi-abrahamik, telah ternyata Allah begitu pro terhadap penjahat dan pendosa, dengan memasukkan mereka ke neraka, semata karena Allah digambarkan menyerupai personifikasi “raja yang lalim” yang akan senang ketika disembah dan akan marah atau murka ketika tidak dipuja-puji. Bisa dikatakan, tidak ada satupun ajaran di dalam kitab-kitab agama samawi yang memihak kepada kalangan korban dari para pendosa yang justru diberi imbalan berupa dimasukkan ke sorga alih-alih ke neraka. Berangkat dari fakta tersebut, saya mulai memiliki kecurigaan yang kian solid bahwa Allah maupun nabi utusannya tunduk dan dikuasai oleh semacam “selfish gene” sehingga terbit kitab-kitab penuh EGO semacam alkitab maupun al-quran. Pertanyaan saya, jika hipotesis dan konklusi saya keliru, maka apa bentuk keberpihakan Allah terhadap kalangan korban?

Ahli dalam DISIPLIN Vs. Ahli dalam PENGHAPUSAN DOSA, bagai KSATRIA Vs. PENGECUT

Berkat Memakan dan Termakan Iming-Iming PENGHAPUSAN DOSA, Apapun Ditabrak dan Disikat, agar Tidak “Merugi”

Question: Saya secara pribadi merasa heran, buat apa itu umat agama samawi sibuk-sibuk dan buang waktu berbicara mana yang “haram” dan “halal” dan yang “najis” serta “tidak najis”, mana yang “aurat” dan yang “bukan aurat”. Tapi, ujung-ujungnya, yang mereka doa dan mohon-harapkan ialah ritual pengampunan atau penghapusan dosa. Orang suci ataupun ksatria manakah, yang butuh lari dari tanggung-jawab? Bukankah itu “contradictio in terminis”, dua proposisi yang sejatinya saling menegasikan satu sama lainnya?

Karenanya, apa salah, bila kemudian menyebut bahwa umat agama samawi yang baik, adalah “oknum”. Sebaliknya, umat agama samawi yang jahat karena sibuk berbuat kejahatan seperti korupsi, begal, menipu, berbohong, mencuri, merampok, berzina, sebagai umat agama samawi yang “sejati”, karena bukankah itu memang sudah sejalan dengan dogma ajaran agama samawi yang mengajarkan pengampunan dosa bagi para umat penjilat bokong allah?

Bila Segala Ciptaan Tuhan, Pasti Ada Gunanya, namun Bukankah Neraka dan Penjara merupakan MONUMEN KEGAGALAN TUHAN?

TRUTH ALWAYS BITTER, Hati-Hati dan Waspada terhadap Segala Hal yang Bersifat TOO GOOD TO BE TRUE

Question: Agama samawi bilang, yang diciptakan oleh Allah pasti ada gunanya. Tapi anehnya, yang paling tidak dapat saya pahami terlebih mengerti, kata mereka juga ada ciptaan Allah yang justru di-haram-najis-kan begitu. Anehnya lagi, iming-iming korup semacam ideologi penghapus atau pengampunan dosa bagi pendosa, justru dihalalkan oleh mereka, bahkan dipromosikan dan dikampanyekan lewat speaker pengeras suara ke masyarakat luas tanpa rasa malu atau pun tabu. Bukankah itu sama artinya, mengharamkan atau menajiskan sang Pencipta juga, yang telah menciptakan ciptaan yang di-haram-najis-kan.

Begitupula istilah yang meremendahkan martabat warga lain seperti “kafir”, memangnya pencipta para manusia yang disebut sebagai “kafir” itu, siapa lagi kalau bukan Allah “sang Pencipta” yang ditunjuk hidungnya? Itu sama artinya mereka mau mengatakan bahwa “ada loh, pencipta lain selain Tuhan”. Menjadi lebih konyol lagi, ketika Allah masih butuh mencoba-cobai umat manusia, sekalipun usia umat manusia sudah setua usia planet bernama Bumi, yakni telah ratusan atau jutaan tahun, bukan baru enam ribu tahun yang lampau seprti kata kitab-kitab dongeng untuk anak kecil yang dungu maupun kitab jorok yang membuat para penjahat berdelusi masuk surga. Manusia diciptakan apa adanya, “salahkan Allah yang menciptakan”, jangan “salahkan bunda yang mengandung”.

Perenungan Sederhana agar Bahagia Meski Makan Makanan WHOLE FOOD dan Terbebas dari ULTRA PROCESS FOOD (UPF)

Praktek Makan Secukupnya dalam Perspektif Buddhisme Vs. Makan Secukupnya dalam Dogma Agama Samawi

Question: Kita tahu betapa kuatnya sensasi dari bahan kimia seperti pemanis buatan, micin atau MSG, pewarna artifisial yang membuat hormon otak rusak sehingga emosi menjadi labil, perisa sintetik yang bahkan “lebih buah daripada buah” cita-rasanya, disamping kandungan tinggi gula, lemak, dan garam yang adiktif dalam setiap kemasan Ultra Process Food (UPF) atau produk-produk food industry yang demi profit, tega memanipulasi reseptor lidah dan otak konsumennya agar menjadi “budak”. Untuk bisa bahagia beralih ke pangan-pangan alami yang baik dan sehat bagi tubuh seperti “Whole Food”, apakah ada bahan perenungan agar bagi kami yang baru memulai untuk beralih secara perlahan atau sepenuhnya ke “Whole Food”, bisa tetap konsisten dan berkesinambungan “STOP produk-produk UPF”?

Lawan Kata dari Taubat / Tobat, ialah MABUK & KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA

Agama Samawi Tidak Memotivasi Umatnya untuk Bertobat, namun untuk Menjelma KORUPTOR DOSA yang KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA untuk Seumur Hidup dan Sepanjang Hidup Mereka

Umat Agama Samawi Divonis Hidup dan Matinya sebagai PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA

Question: Heran saya terhadap agama samawi, bikin citra ke publik atau klaim seolah-olah membuat orang jahat menjadi tobat lewat “kitab suci” mereka. Tapi, jika kita bedah dan lihat ke dalam sumber otentik agama samawi seperti al-quran, hadist, alkitab, yang katanya “agama paling superior” itu yang karena menjadi agama mayoritas penduduk dunia, yang ada justru iming-iming pengampunan maupun penebusan dosa. Gimana mau bertobat dan jera, jika tidak ada sistem merit seperti “reward” dan “punishment”?

Alih-alih bertobat, umat agama samawi justru mabuk dan kecanduan penghapusan dosa untuk seumur hidup mereka, alias menjadi pasien untuk seumur hidup yang ketergantungan obat-obatan, alih-alih sembuh dari penyakitnya. Itu bukankah, lebih tepat bila disebut “tobat sambel”, yang hari ini bilangnya tobat, tapi besoknya begitu lagi dan mengulanginya lagi?