Moralitas Umat Agama Samawi Tidaklah Lengkap dan Tidak Murni—namun Rusak, Penuh Cacat, Ternoda, serta Dipenuhi Bercak

Muslim, Belum Mati saja Pikirannya Sudah Selingkuh dengan Puluhan Bidadari Berdada Montok yang Keperawanannya Bekas Daur-Ulang (Mirip Galon Isi Ulang, BEKAS)

Muslimah, Ditakdirkan dan Divonis Menjelma menjadi Lesb! setelah Ajal Menjemput Mereka (Allah Tidak Memelihara Bidadara)

Semua Muslim Ditakdirkan akan K.O. (Bertekuk-Lutut) Menghadapi Belenggu Seksualitas, bahkan Sejak Ronde Pertama sebelum Pertempuran Benar-Benar Dimulai : Pikirannya Tidak Terkendali karena Diperbudak oleh para Bidadari Berdada Montok

Mabuk serta kecanduan dogma adiktif semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN”, artinya dicengkeram oleh keserakahan berupa ketidak-puasan terhadap gaya hidup higienis dari dosa dan maksiat, ketidak-puasan terhadap sedikit dosa, ketidak-puasan terhadap gaya hidup ksatria yang berani untuk tampil mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruknya sendiri, serta obsesi untuk “CUCI TANGAN” serta “CUCI DOSA”. Mereka, para “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” tersebut berdelusi dapat tetap “business as usual” berupa memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, serta berkubang dalam samudera dosa namun terjamin masuk alam surgawi setelah ajal menjemput mereka.

Tengoklah motivasi para muslim yang setiap harinya melakukan ritual sembah-sujud semata digerakkan oleh motivasi untuk bisa bersetubuh dengan puluhan bidadari berdada montok yang selaput daranya dapat kembali utuh (didaur-ulang) sekalipun telah digauli—belum mati saja, pikirannya telah berselingkuh—alias tidak puas dengan satu atau empat orang istri manusianya.

Umat agama samawi, merupakan kasta paling dangkal dan rendahan, kesimpulan mana muncul setelah kita mencermati khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:

50 (7) Hubungan Seksual

Brahmana Jāussoī mendatangi Sang Bhagavā dan saling bertukar sapa dengan Beliau. Ketika mereka telah mengakhiri ramah-tamah itu, ia duduk di satu sisi dan dan berkata kepada Beliau:

“Apakah Guru Gotama mengaku sebagai seorang yang menjalani kehidupan selibat?”

[Kitab Komentar : Dikatakan bahwa ia berpikir: “Dalam sistem para brahmana, seseorang menjalani kehidupan selibat selama empat puluh delapan tahun mempelajari Veda. Tetapi Petapa Gotama, hidup di rumah, menikmati tiga jenis gadis-gadis penari dalam tiga istana. Apakah sekarang yang akan Beliau katakan?” Demikianlah ia bertanya dengan merujuk pada hal ini. Kemudian Sang Bhagavā, seolah-olah mengendalikan seekor ular hitam dengan mantra atau seolah-olah menginjak leher musuh dengan kakiNya, mengaumkan auman singaNya. Beliau menunjukkan bahwa bahkan selama enam tahun berjuang, ketika Beliau masih memiliki kekotoran-kekotoran, tidak sekali pun pemikiran muncul padanya sehubungan dengan kenikmatan kekuasaan atau gadis-gadis penari di istanaNya.”]

“Jika, Brahmana, seseorang dapat dengan benar mengatakan tentang orang lain: ‘Ia menjalani kehidupan selibat yang lengkap dan murni – tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bercak,’ adalah tentang Aku orang itu dapat mengatakan hal ini. Karena Aku menjalani kehidupan selibat yang lengkap dan murni - tidak rusak, tanpa cacat, tanpa noda, tanpa bercak.”

“Tetapi apakah, Guru Gotama, pelanggaran, cacat, noda, dan bercak dari kehidupan selibat?”

(1) “Di sini, Brahmana, seorang petapa atau brahmana, mengaku selibat dengan sempurna, tidak benar-benar melakukan hubungan seksual dengan para perempuan. Tetapi ia setuju digosok, dipijat, dimandikan, dan diremas oleh mereka. Ia menikmati hal ini, menginginkannya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Ini adalah pelanggaran, cacat, noda, dan bercak dari kehidupan selibat. Ia disebut seorang yang menjalani kehidupan selibat yang tidak murni, seorang yang terbelenggu oleh ikatan seksualitas. Ia tidak terbebaskan dari kelahiran, dari usia tua dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan; ia tidak terbebaskan dari penderitaan, Aku katakan. [55]

(2) “Kemudian, seorang petapa atau brahmana, mengaku selibat dengan sempurna, tidak benar-benar melakukan hubungan seksual dengan para perempuan; juga ia tidak setuju digosok, dipijat, dimandikan, dan diremas oleh mereka. Tetapi ia bersenda-gurau dengan para perempuan, bermain-main dengan mereka, dan menghibur diri dengan mereka. …

(3) “… ia tidak bersenda-gurau dengan para perempuan, tidak bermain-main dengan mereka, dan tidak menghibur diri dengan mereka … tetapi ia memandang dan menatap langsung ke mata mereka. …

(4) “… ia tidak memandang atau menatap langsung ke mata mereka … tetapi ia mendengarkan suara-suara mereka di balik tembok atau melalui dinding ketika mereka tertawa, berbicara, bernyanyi, atau menangis. …

(5) “… ia tidak mendengarkan suara-suara mereka di balik tembok atau melalui dinding ketika mereka tertawa, berbicara, bernyanyi, atau menangis … tetapi ia mengingat ketika tertawa, berbicara, dan bermain dengan mereka di masa lalu. ...

(6) “ ... ia tidak mengingat ketika tertawa, berbicara, dan bermain dengan mereka di masa lalu … tetapi ia melihat seorang perumah tangga atau seorang putra perumah tangga yang memiliki dan menikmati kelima utas kenikmatan indria. …

(7) “… ia tidak melihat seorang perumah tangga atau seorang putra perumah tangga yang memiliki dan menikmati kelima utas kenikmatan indria, tetapi ia menjalani kehidupan spiritual dengan cita-cita agar [terlahir kembali] dalam sekelompok deva tertentu, [dengan berpikir]: ‘Dengan perilaku bermoral ini, pelaksanaan ini, latihan keras ini, atau kehidupan spiritual ini aku akan menjadi deva atau salah satu [pengikut] para deva.’ Ia menikmati hal ini, menginginkannya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Ini juga adalah pelanggaran, cacat, noda, dan bercak dari kehidupan selibat. Ia disebut [56] seorang yang menjalani kehidupan selibat yang tidak murni, seorang yang terbelenggu oleh ikatan seksualitas. Ia tidak terbebaskan dari kelahiran, dari usia tua dan kematian, dari dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesengsaraan; ia tidak terbebaskan dari penderitaan, Aku katakan.

“Selama, Brahmana, Aku melihat bahwa Aku belum meninggalkan satu atau lainnya dari ketujuh belenggu seksualitas ini, Aku tidak mengaku telah tercerahkan sempurna hingga penerangan sempurna yang tiada bandingnya di dunia ini bersama dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dalam populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia. Tetapi ketika Aku tidak melihat bahkan satu pun dari ketujuh belenggu seksualitas ini yang belum Kutinggalkan, maka Aku mengaku telah tercerahkan sempurna hingga penerangan sempurna yang tiada bandingnya di dunia ini bersama dengan … para deva dan manusia.

“Pengetahuan dan penglihatan muncul padaKu: ‘Kebebasan pikiranKu tidak tergoyahkan; ini adalah kelahiranKu yang terakhir; sekarang tidak ada lagi penjelmaan baru.’”

Ketika hal ini dikatakan, Brahmana Jāussoī berkata kepada Sang Bhagavā:

“Bagus sekali, Guru Gotama! Bagus sekali, Guru Gotama! Guru Gotama telah menjelaskan Dhamma dalam berbagai cara, seolah-olah Beliau menegakkan apa yang terbalik, mengungkapkan apa yang tersembunyi, menunjukkan jalan kepada seseorang yang tersesat, atau memegang pelita di dalam kegelapan agar mereka yang berpenglihatan baik dapat melihat bentuk-bentuk. Sekarang aku berlindung pada Guru Gotama, pada Dhamma, dan pada Sagha para bhikkhu. Sudilah Guru Gotama menganggapku sebagai seorang umat awam yang telah berlindung mulai hari ini hingga seumur hidup.” [57]

Berkebalikan secara kontras dengan Buddhisme, dalam agama samawi : Babi, disebut “haram”. Namun, ironisnya, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR DOSA” semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”. Dosa-dosa pun dikorupsi, itulah tipikal khas dari umat agama samawi, kaum pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya di masa mendatang dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas konsekuensi dibalik perbuatan-perbuatan buruk mereka sendiri, dimana kaum korban hanya bisa “gigit jari” karena Allah merampas hak atas keadilan dari mereka—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:

- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.

- No. 4857 : “Barang siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.

- No. 4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku rizki).”

- No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”

- No. 1266 : “Barangsiapa yang menunaikan shalat pada malam bulan Ramadlan (shalat tarawih) dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah berlalu akan diampuni.”

- Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih Bukhari 6933]

- Dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]

Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor, akan tetapi berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, neraka pun dipandang sebagai surga. Itulah ketika “standar moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih, mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”.

Terhadap dosa dan maksiat, begitu kompromistik. Namun, terhadap kaum yang berbeda keyakinan, begitu intoleran. Mereka mendalilkan bahwa “perbuatan baik menghapuskan dosa-dosa”. Telah ternyata sang nabi memberi teladan membuang-buang waktunya dengan lebih sibuk ritual permohonan “PENGAMPUNAN DOSA” alih-alih menggunakan sumber daya waktu yang terbatas untuk sibuk berbuat kebaikan ataupun untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korbannya—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:

- No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’

- No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”

- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku,  serta ampunilah kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya daripada aku,”

- Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]