Berkat Memakan dan Termakan Iming-Iming PENGHAPUSAN DOSA, Apapun Ditabrak dan Disikat, agar Tidak “Merugi”
Question: Saya secara pribadi merasa heran, buat apa itu umat
agama samawi sibuk-sibuk dan buang waktu berbicara mana yang “haram” dan “halal”
dan yang “najis” serta “tidak najis”, mana yang “aurat” dan yang “bukan aurat”.
Tapi, ujung-ujungnya, yang mereka doa dan mohon-harapkan ialah ritual
pengampunan atau penghapusan dosa. Orang suci ataupun ksatria manakah, yang butuh
lari dari tanggung-jawab? Bukankah itu “contradictio in terminis”, dua
proposisi yang sejatinya saling menegasikan satu sama lainnya?
Karenanya, apa salah, bila kemudian menyebut bahwa umat agama samawi yang baik, adalah “oknum”. Sebaliknya, umat agama samawi yang jahat karena sibuk berbuat kejahatan seperti korupsi, begal, menipu, berbohong, mencuri, merampok, berzina, sebagai umat agama samawi yang “sejati”, karena bukankah itu memang sudah sejalan dengan dogma ajaran agama samawi yang mengajarkan pengampunan dosa bagi para umat penjilat bokong allah?

