Tampilkan postingan dengan label SENI PIKIR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENI PIKIR. Tampilkan semua postingan

NARCISTIC GOD, Tuhan yang NARSISTIK, bagi para Manusia Pecandu PENGHAPUSAN DOSA yang NARSIS

NARCISTIC GOD Menciptakan “SELFISH GENE” para Umat Agama Samawi

Question: Tuhannya agama samawi bersikap seolah-olah dunia ini hanya ada planet bernama bumi saja, tidak ada alam semesta bernama galaksi lain, tiada bumi lain yang juga berpenghuni manusia selain bumi ini, karenanya menjadi sempit dan kerdil juga dangkal gaya berpikirnya. Mengapa manusia punya “SELFISH GENE”, apakah karena diciptakan oleh “NARCISTIC GOD” (Tuhan yang narsistik)?

Ahli dalam DISIPLIN Vs. Ahli dalam PENGHAPUSAN DOSA, bagai KSATRIA Vs. PENGECUT

Berkat Memakan dan Termakan Iming-Iming PENGHAPUSAN DOSA, Apapun Ditabrak dan Disikat, agar Tidak “Merugi”

Question: Saya secara pribadi merasa heran, buat apa itu umat agama samawi sibuk-sibuk dan buang waktu berbicara mana yang “haram” dan “halal” dan yang “najis” serta “tidak najis”, mana yang “aurat” dan yang “bukan aurat”. Tapi, ujung-ujungnya, yang mereka doa dan mohon-harapkan ialah ritual pengampunan atau penghapusan dosa. Orang suci ataupun ksatria manakah, yang butuh lari dari tanggung-jawab? Bukankah itu “contradictio in terminis”, dua proposisi yang sejatinya saling menegasikan satu sama lainnya?

Karenanya, apa salah, bila kemudian menyebut bahwa umat agama samawi yang baik, adalah “oknum”. Sebaliknya, umat agama samawi yang jahat karena sibuk berbuat kejahatan seperti korupsi, begal, menipu, berbohong, mencuri, merampok, berzina, sebagai umat agama samawi yang “sejati”, karena bukankah itu memang sudah sejalan dengan dogma ajaran agama samawi yang mengajarkan pengampunan dosa bagi para umat penjilat bokong allah?

Makna “NIKMAT” dalam Pandangan Agama Samawi : Tidak Perlu Menanam Karma Baik, cukup MENGEMIS dan MEMOHON. Tidak Perlu Bertanggung-Jawab, cukup Mencandu “PENGHAPUSAN DOSA”

Kaum yang Paling Pemalas dan Paling Pengecut, namun Berdelusi sebagai Kaum yang Paling Superior dan Merasa Berhak Menghakimi Kaum Lain seolah sebagai “Polisi Moral”, Itulah Pola Watak Umat Agama Samawi

Question: Umat agama samawi sering bilang, “Pemberian nikmat dari allah”. Itu maksudnya apa? Bukankah kalau kita memakai perspektif hukum alam seperti hukum karma atau hukum sebab dan akibat, ketika kita memetik buah manis, itu adalah hasil atau akibat dari perbuatan kita sendiri di masa lampau yang menjadi sebabnya, sehingga semestinya kita berterimakasih kepada diri kita sendiri di kehidupan lampau yang telah berbuat atau menanam benih-benih kebajikan sehingga dapat kita petik buah manisnya di kehidupan sekarang ini.

Demotivasi Umat Agama Samawi untuk Berbuat Kebaikan, yang Ada ialah Motivasi untuk Berlomba-Lomba Berbuat Dosa agar dapat Mencandu PENGHAPUSAN DOSA

“Merugi” bagi Umat Agama Samawi, artinya Rugi Tidak Menikmati serta Mencandu Ideologi KORUP semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA”

Ideologi Komun!sme saja Tidak Mengajarkan Iming-Iming KORUP semacam “PENGHAPUSAN DOSA” bagi Pengikutnya, mengapa Agama Samawi justru Tidak Dilarang dan Ditetapkan sebagai Ideologi Terlarang?

Question: Mengapa penulis di website ini, mengatakan bahwa umat agama samawi tidak merasa perlu berbuat kebaikan dalam hidupnya. Bukankah tokoh-tokoh di agama samawi tidak jarang mengatakan bahwa jika perbuatan baiknya lebih banyak daripada dosa-dosanya, maka otomatis akan masuk sorga?

Kembali ke Fitrah (Kembali Fitri) artinya Kembali Kepada Kehidupan Rendah

Lebaran / Idul Fitri maupun Hari Raya Kemenangan bagi Para KORUPTOR DOSA

Question: Para muslim selama ini bilang, sehabis berpuasa selama sebulan penuh di bulan ramadhan, maka para muslim “kembali fitri”, karena seluruh dosa-dosanya selama setahun dihapuskan. Bukankah itu artinya bukan “kembali ke kesucian”, namun “kembali berkubang dalam dosa” dan “kembali menimbun diri dengan segunung dosa” serta “kembali mengoleksi segudang dosa” selama setahun ke depan sampai kembali bertemu bulan ramadhan untuk melakukan ritual “hapus dosa-dosa setahun”? Bukankah hanya seorang pendosa, yang memakan dan termakan dogma “pengampunan atau penghapusan dosa” maupun “penebusan dosa”?

Sungguh Kasihan, Tuhan yang Butuh Dibela oleh Manusia

Yang Selama Ini Menista Tuhan, adalah Umat Agama Samawi Itu Sendiri

Dengan menjadi seorang Kristen, artinya Anda menjadi seorang NONmuslim.

Dengan menjadi seorang Muslim, artinya Anda menjadi seorang NONkristen.

Dengan menjadi seorang Sunni, artinya Anda menjadi seorang NONsyiah.

Dengan menjadi seorang Syiah, artinya Anda menjadi seorang NONsunni.

Artinya, tidak ada seorang pun, di dunia ini, yang bukan merupakan seorang NON.

Apabila ada diantara Anda yang mengklaim bukan sebagai seorang NON, maka apa agama yang Anda anut dan peluk, dan Tuhan versi manakah yang Anda sembah?

Agama Koor Paduan Suara, AGAMA MUSIK & LAGU

Bahaya Melafalkan Paritta dengan Intonasi Dilagukan

Buddhisme memiliki filosofi, keheningan dan senyap adalah musik terindah. Ketika bermeditasi, kita tidak perlu bernyanyi ataupun mendengarkan nyanyian / lagu apapun. Pada umat kristiani kerap mengejek para umat Buddhist sebagai “agama patung”, karena mereka anggap sebagai penyembah yang menyembah patung dan beribadah dengan cara yang sehening “patung” (tidak norak). Namun tahukah Anda, lebih baik menjadi “agama patung” daripada “agama penjilat bokong (kue sus)”. Lihat, betapa noraknya umat kristiani, kemana-mana memakai liontin bergambar kue sus disalib—lahirnya di kandang ternak, matinya berdarah-darah disalib, dengan hanya mengenakan celana dalam, sungguh hina-dina. Jangan lupa, salib adalah tempat atau simbol dimana para penjahat pada masanya itu disalib dan dihukum mati. Tragis, lahir kotor di kandang ternak dan mati diatas salib, dengan hanya memakai “kolor”, AGAMA KOLOR.

Hidup adalah Nikmat ataukah Dukkha?

Bertanggung Jawab dan Penuh Tanggung Jawab dan menjadi Suciwan yang Melawan Arus Keduniawian, Jelas merupakan Dukkha

Menjadi Pendosa Penjilat Penuh Dosa yang Setiap Harinya Mengharap dan Memohon Penghapusan Dosa, Jelas merupakan “Nikmat”

Meminta dan Diberi adalah Nikmat (ala Pemalas). Menanam Karma Baik untuk Dipetik dan Dipanen adalah Meletihkan. Bertanggung-Jawab ala Ksatria adalah Menakutkan di Mata para Pengecut dan Pecundang Kehidupan

Question: Apa latar belakangnya, agama samawi mengajarkan dan mengklaim bahwa hidup pemberian Tuhan adalah nikmat, sementara itu Agama Buddha justru menyatakan bahwa hidup adalah duka?

Puluhan Nabi GAGAL TOTAL Musnahkan Maksiat Paling Primitif yang Dkenal Umat Manusia dari Muka Bumi

Ketika Puluhan Nabi Utusan / Rasul Tuhan GAGAL TOTAL Memusnahkan Satu pun Maksiat / Dosa Paling Primitif dari Muka Bumi, Tuhan pun Meradang

Ketika Nabi Utusan Tuhan justru Mempromosikan dan Mengkampanyekan Maksiat Lengkap dengan Iming-Iming Penghapusan Dosa = Kabar Baik bagi PENDOSA

Messenger yang Mewartakan Kabar Baik bagi PENDOSA = Kabar Buruk bagi para KORBAN

Alam Neraka merupakan Simbol / Monumen Kegagalan Tuhan yang Tidak Benar-Benar Berkuasa atas Pilihan HIdup maupun Pikiran Umat Manusia

Question: Konon menurut satu dogma agama tertentu, puluhan orang nabi telah Tuhan (versi mereka) turunkan ke dunia ini untuk memerangi maksiat dari muka bumi. Namun, mengapa sampai detik ini masih juga ada begitu banyaknya maksiat-maksiat paling primitif yang sudah dikenal umat manusia sejak era pra sejarah maupun maksiat-maksiat zaman purbakala seperti praktik pemerkosaan, menyembah batu, merampok, mencuri, membunuh, menganiaya, pemerasan, mabuk kawin, dan dosa-dosa ataupun maksiat-maksiat lainnya? Singkatnya, mengapa tidak ada satu pun maksiat yang berhasil diberantas oleh puluhan nabi utusan atau rasul dari Tuhan tersebut? Mengapa juga Tuhan bergantung atau mengandalkan sosok semacam nabi untuk menjadi “messenger” seolah-olah Tuhan kalah canggih dengan teknologi broadcast semacam radio ataupun televisi?

Manusia dilahirkan lengkap dengan seperangkat “software” dalam otak dan genetik mereka dari sejak lahir, tidak terkecuali watak atau sifat-sifat buruk sang manusia, tentu itu bukan salah bunda mengandung, juga bukan salah si manusia yang tidak pernah memilih ataupun meminta untuk dilahirkan, tapi adalah hasil penciptaan Tuhan itu sendiri. Sehingga, jika mau disalahkan, Tuhan semestinya menunjuk hidung Tuhan sendiri sebagai pelaku “aktor intelektual” segala aksi kejahatan dan maksiat demikian untuk dituntut pertanggung-jawaban. Bukankah katanya konon tiada apapun yang dapat terjadi tanpa seizin, kuasa, maupun rencana Tuhan, tidak terkecuali terjadinya segala tindak kejahatan maupun maksiat dan dosa-dosa lainnya?

Ajaran yang Saling Menegasikan, Mengajarkan Berbuat Baik dan Disaat Bersamaan Mengkampanyekan Penghapusan Dosa

Satu Tangan Berbuat Baik, Tangan Lainnya Memohon “Penghapusan / Pengampunan Dosa”, Dua Preposisi yang Tidak Pernah Sejalan, Bertolak-Belakang

Terdapat sebuah tempat ibadah “norakisme” ala “narsistik” di dekat kediaman penulis, pada suatu Jum’at tengah hari seorang pemuka agama mereka lewat pengeras suara eksternal yang luar biasa membahana, berceramah perihal berbuat kebajikan, pentingnya amal kebaikan, dan segala perbuatan baik lainnya dalam rangka agar sang umat dapat diterima di kerajaan Tuhan yang mereka sembah. Tampaknya tidak ada yang salah dengan ceramah tersebut, namun pemuka agama yang sama pada malam harinya kembali berceramah pada tempat ibadah yang sama, dengan toa pengeras suara yang sama membahananya, akan tetapi dengan topik yang berbeda, yakni mengenai “pengampunan / penghapusan dosa”—yang mana notabene kedua topik tersebut sejatinya saling menegasikan alias saling menihilkan serta bertolak-belakang satu sama lainnya antar dogma, inkonsisten.

Bahaya Distorsi Dibalik HOAX, Kelirutahu (Tahu namun Keliru) & Keliruyakin (Yakin namun Keliru)

Ketika Masih Minoritas, Menuntut dan Menikmati Toleransi. Ketika telah menjadi Mayoritas, para Muslim justru Ingin Meniadakan Toleransi yang Dahulu Mereka Tuntut dan Nikmati, Menggantikannya dengan Intoleransi, Represi, serta Teror (Kitab Jawa DHARMO GHANDUL). Pola yang Sama Selalu Berulang dan Terulang di Setiap Negara

Memakan dan Termakan HOAX, Sebelum Kemudian Turut Reproduksi HOAX tersebut, adalah DOSA—Fitnah Itu Sendiri

Fenomena Sarjana HOAX, Bergelar Sarjana namun Menu Makanannya ialah HOAX

Belum lama ini, penulis berkomunikasi dengan seorang teman satu almamater yang bergelar sarjana bahkan memperoleh Strata-2 dari Fakultas Hukum di Tanah air, yang mana gelar kesarjanaan bermakna yakni mereka yang telah (semestinya dan seharusnya) tergolong intelek—cendekiawan (kalangan cerdik dan pandai) sebagai bagian dari lingkaran kaum intelektual, yang mana seyogianya juga bersikap ilmiah nan empirik, telah ternyata fakta berikut ini memperlihatkan realita yang sebaliknya sekaligus membuktikan betapa bahayanya “hoax”, yang dalam banyak kasus bahkan menyerupai ideologi itu sendiri—meyakini secara membuta, apapun faktanya, meyakini apa yang ia yakini ataupun meyakini apa yang ingin mereka yakini atau meyakini apa yang diyakini oleh mayoritas publik (keyakinan pada umumnya, tidak selalu benar adanya).

Manusia Terlahir (dalam Kondisi) IRASIONAL dan NAIF, bukan Putih Bersih Polos

SENI PIKIR & TULIS

Belajar dan Evaluasi Diri, Introspeksi Diri dalam Rangka Tidak Menjadi seorang “IGNORANT”

Proses Belajar, Evaluasi, dan Perbaikan Diri menjadi Penting dalam Rangka Menjaga Kemanusiaan Diri

Dalam banyak kesempatan, penulis tidak bosan menyampaikan bahwa kita semua, tanpa terkecuali diri penulis secara pribadi, merupakan para makhluk yang terlahir dalam kondisi tidak rasional—sehingga anekdot anak manusia ibarat kertas yang putih bersih, hanyalah mitos belaka. Singkatnya, penulis hendak mewartakan kabar buruk bahwasannya “manusia merupakan makhluk irasional”, dimana kabar baiknya ialah kita dapat mendidik diri kita sendiri dalam rangka perbaikan diri, terutama terhadap sifat-sifat irasional yang bersemayam dalam benak kita, dengan terlebih dahulu mengidentifikasikannya sebelum kemudian meng-kondisikan kebiasaan berpikir baru yang lebih rasional.

Makna & Contoh MANUSIA ADALAH MAKHLUK IRASIONAL

SENI PIKIR & TULIS

Manusia Tidak Terlahir dalam Kondisi Putih Bersih seperti Asumsi pada Umumnya

Question: Seperti apa maksudnya, ketika disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang irasional?