LATAR BELAKANG BERDIRINYA WEBSITE
SENITULIS
Allah adalah Hakim dan Eksekutor yang
BURUK
Kabar Gembira bagi PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA, artinya Kabar Buruk / Duka bagi Kalangan KORBAN
Allah Lebih PRO terhadap
PENDOSA-PENGECUT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, sehingga Percuma Korban Melapor / Mengadu
kepada Allah
Question: Agama samawi mengajarkan kita
untuk berpasrah diri pada Allah. Bagaimana pandangan buddhisme?
Brief Answer: Sang Buddha mengajarkan para siswa Beliau untuk “melawan
arus”, termasuk untuk melawan kuasa maupun rencana penciptaan Allah berupa siklus
tumimbal-lahir yang tidak berkesudahan, dengan cara “break the chain / shackle
of karmic law” (memetus belenggu rantai karma), yakni tidak terlahirkan
kembali dalam alam manapun. Alam surgawi, merujuk deskripsi yang digambarkan
dalam agama-agama samawi, isi penghuninya justru dijejali oleh kalangan PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma
Baik untuk mereka petik sendiri buah manisnya dan disaat bersamaan merupakan
kaum pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan
buruk mereka yang telah pernah atau masih sedang sibuk menyakiti, merugikan,
maupun melukai pihak lainnya. Artinya, Allah telah merampas hak keadilan kalangan
korban, korban mana hanya bisa “gigit jari”—mengingat percuma saja melapor / mengadu
kepada Allah, karena Allah justru lebih PRO terhadap kalangan PENDOSA-PENGECUT
tersebut, alias “hakim yang buta dan buruk”.
PEMBAHASAN:
Banyak umat agama samawi
berkata, akibat perbuatan korporasi yang merusak dan mengeksploitasi alam,
lewat tambang maupun kebun sawit, akhirnya Allah murka dan menciptakan bencana
alam hebat yang meluluh-lantakkan pemukiman penduduk suatu wilayah secara dahsyat
dan dramatis, selain menimbulkan kerugian ekonomi juga melahirkan korban jiwa. Bagai
orang dungu, banyak pengikut agama samawi yang membenarkan pandangan keliru
demikian, seolah otak mereka telah digadaikan demi iman setebal tembok beton
yang tidak tembus oleh cahaya ilahi manapun, dan seolah otak untuk berpikir kritis
adalah hal tabu yang bukan ciptaan Tuhan.
Apa tidak salah? Betapa tidak kreatif
dan tidak tepat sasarannya penghukuman oleh Allah—yang dipersonifikasikan
selayaknya sifat manusia yang bisa marah, senang, suka, benci—yang begitu mudah
disetir emosinya dan dijengkal atau diukur sifat serta gaya berpikirnya yang dangkal.
Sekalipun, hukuman bisa semudah dengan memutus rezeki para korporasi perusak
alam tersebut, maka secara sendirinya proses produksi (eksploitasi) yang
merusak alam akan terhenti dan berhenti, tidak ada pembeli sekalipun proses
produksi terus dilanjutkan akan menjadi percuma karena menumpuk busuk di gudang.
Mengapa harus menjadikan warga
tidak berdosa, yang sudah menjadi korban dari ekosistem hidupnya yang rusak
oleh korporasi, lalu dijadikan pula korban dari bencana alam, sementara “beneficial
owner” alias pemilik korporasi-korporasi perusak alam tersebut seringkali
berada di kota lain kantor utamanya. Semisal, perusahaan menggerus alam lewat tambang
atau membabat hutan untuk dijadikan kebun sawit di Pulau Sumatera atau di Pulau
Kalimantan, sementara itu pemilik korporasi yang selama ini menikmati hasil
eksploitasi alam, justru berada di Kota Jakarta di Pulau Jawa. Alhasil, bencana
alam oleh Allah justru menimpa dan diderita warga yang “sudah jatuh, tertimpa
tangga pula”, kena getah karena tidak tepat sasaran. Lihatlah betapa
kesenjangan ekonomi kian lebar, mencerminkan betapa dungu-nya distribusi
kekayaan oleh Allah.
Tren atau fenomena dan
kecenderungan saat kini, dunia dikuasai oleh hegemoni agama-agama samawi,
dimana para pendosawan berharap dan yakin akan masuk alam surgawi, sekalipun
dalam kesehariannya memproduksi segunung dosa, mengoleksi segudang dosa, dan
berkubang dalam samudera (business as usual, alias mencetak dosa-dosa seperti
biasanya). Berikut inilah, “halal lifestyle” yang sedang mewabah di
berbagai penjuru negeri : Babi, disebut “haram”. Namun, ideologi KORUP bagi “KORUPTOR
DOSA” semacam “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition of
sins), justru disebut sebagai “HALAL”.
Mereka mempromosikan ideologi
KORUP demikian tanpa rasa malu ataupun tabu, bahkan lewat pengeras suara ke
publik umum, sekalipun “AURAT TERBESAR” ialah berbuat kejahatan—dimana antara “DOSA-DOSA
UNTUK DIHAPUSKAN” dan “PENGHAPUSAN DOSA” sejatinya saling bundling dan
komplomenter ibarat pasta gigi dan sikat gigi yang tidak terpisahkan—namun tetap
saja tubuh yang ditutupi busana dari ujung rambut hingga ujung kaki, alih-alih mengkampanyekan
gaya hidup higienis dari dosa maupun maksiat.
Itulah, yang disebut “arus
kebodohan”, dimana sifat dungu dan picik justru dipamerkan tanpa rasa malu
ataupun takut. Dulu, sebelum agama samawi-abrahamik dilahirkan, tidak ada
penjahat yang yakin akan masuk surga setelah ajal menjemputnya. Kini, para
pendosa berlomba-lomba melakukan kejahatan, dan disaat bersamaan berdelusi
sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Berangkat dari fakta
demikian, maka dapatlah Anda mulai berpikir kritis : Yesus kristus adalah “juru
selamat” ataukah “juru petaka”, karena orang baik disingkirkan dari alam
surgawi yang selanjutnya hanya bisa dihuni oleh budak sembah-sujud sang “nabi”?
Sang Buddha pernah berpesan, dikutip dari Dhammapada dan Angguttara Nikaya, Sutta
Pitaka, pada Tipitaka:
Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di
dunia. Apakah empat ini? Orang yang mengikuti arus; orang yang melawan arus;
orang yang kokoh dalam pikiran; dan orang yang telah menyeberang dan sampai di
seberang, sang brahmana yang berdiri di atas daratan yang tinggi.
(1) Dan apakah orang yang mengikuti
arus? Di sini, seseorang menikmati kenikmatan indria dan melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Ini disebut orang yang mengikuti arus.
(2) Dan apakah orang yang melawan
arus? Di sini, seseorang tidak menikmati kenikmatan indria atau melakukan
perbuatan-perbuatan buruk. Bahkan dengan kesakitan dan kesedihan, menangis
dengan wajah basah oleh air mata, ia menjalani kehidupan spiritual yang lengkap
dan murni. Ini disebut orang yang melawan arus.
~0~
Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang
bhikkhu tuan rumah ditempatkan di neraka seolah-olah dibawa ke sana.
Apakah lima ini?
(1) Tanpa
menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia memuji seorang yang layak dicela.
(2) Tanpa
menyelidiki dan tanpa memeriksa, ia mencela seorang yang layak dipuji.
~0~
Para bhikkhu, dengan memiliki lima kualitas, seorang
bhikkhu tuan rumah ditempatkan di surga seolah-olah dibawa ke sana.
Apakah lima ini?
(1) Setelah
menyelidiki dan setelah memeriksa, ia mencela seorang yang layak dicela.
(2) Setelah
menyelidiki dan setelah memeriksa, ia memuji seorang yang layak dipuji.
~0~
316. Barangsiapa malu terhadap
hal tak memalukan, tidak malu terhadap hal memalukan; mereka yang memegang
pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
317. Juga, barangsiapa takut
terhadap hal tak menakutkan, tidak takut terhadap hal menakutkan; mereka yang
memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
318. Barangsiapa menganggap
tercela terhadap hal tak tercela, menganggap tak tercela terhadap hal tercela;
mereka yang memegang pandangan keliru itu akan menuju ke alam sengsara.
319. Sebaliknya, barangsiapa
menyadari hal tercela sebagai yang tercela, menyadari hal tak tercela sebagai
yang tak tercela; mereka yang memegang pandangan benar itu akan menuju ke alam
bahagia.
Bila dalam Buddhisme, yang
disebut ibadah ialah “menghindari perbuatan buruk, berbuat kebajikan, dan
memurnikan pikiran” (ovada patimokkha), tetap saja orang-orang baik dan
berhati mulia dalam kesehariannya tidak dijuluki sebagai kaum “agamais”. Sebaliknya,
“PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” yang dalam kesehariannya tergila-gila kecanduan
dan mabuk ritual “PENGHAPUSAN DOSA”, disebut “agamais”. Bukankah itu ironis? Yang
merugi, ialah yang tidak takut menanam Karma Buruk. Sang Buddha pernah berpesan, apa yang oleh
orang kebanyakan yang masih penuh kekotoran batin dipandang sebagai “kenikmatan”,
adalah “duka” di mata seorang Buddha.
Kodratnya, pendosa masuk
neraka, dan orang baik masuk surga, karena memuliakan Tuhan adalah dengan cara
menjadi seorang manusia yang mulia, bukan dengan menjadi seorang “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA” alias menjelma “KORUPTOR DOSA”. Pada prinsipnya, ketika
kita disakiti orang jahat, maka kita akan cenderung mengutuk Pencipta yang
telah menciptakan makhluk biadab demikian. Begitupula sebaliknya, ketika kita
berjumpa, berhadapan, atau berurusan dengan orang baik, kita akan memuji Sang Pencipta
yang telah menciptakan orang baik dan bertanggung-jawab tersebut.
Pada kodratnya pula, alam neraka merupakan “monumen
kegagalan penciptaan Allah”, namun kemudiam oleh agama samawi justru dipelintir
dimana orang-orang jahat (pendosawan) justru dijejali ke alam sorga. Hakim di
pengadilan alam manusia, tidak sepatutnya menjadikan Allah sebagai “role model”,
karena justru mengadili secara tidak adil dan tidak proporsional, dimana Allah justru
memiliki personalisasi seorang sosok raja yang lalim, yang akan senang ketika
dipuja-puji dan akan murka ketika tidak disembah-sujud—kesemuanya dikutip dari
Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji
bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
Pendosa, namun hendak mengadili manusia lainnya dan merasa
sebagai “polisi moral” yang berhak mengatur maupun menghakimi kaum lainnya? “PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”, sejatinya merupakan kasta paling rendah dan kotor,
namun berdelusi sebagai kaum paling superior yang memonopoli alam surgawi. Tidak
ada hal “putih murni” yang sebegitu bodohnya bersedia disatukan dengan “noda
kotor busuk” bernama pendosawan, namun Allah memiliki “selera” yang nyata-nyata
buruk karena berpihak pada makhluk yang buruk berupa “manusia-hewan” alih-alih “manusia-dewa”.
Orang BUTA, namun hendak menuntun para BUTAWAN lainnya, itulah ketika “standar
moral” umat agama samawi berceramah perihal hidup jujur, adil, baik, bersih,
mulia, luhur, unggul, berbudi, dan bertanggung-jawab, namun disaat bersamaan
MABUK serta “KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA”—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku
bertanya kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu
'alaihi wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]