Cacat Logika Kaum Muslim, menyerupai Nurani Mereka yang BUTA : Menumpahkan Darah dan Merampas Nyawa Makhluk Hidup lain disebut Cinta Kasih

Kata Muslim (Islam), Menyembelih (Merampas Hidup / Nyawa) Hewan-Ternak adalah Cinta Kasih, Sepanjang Menyebut Nama Allah saat Menjagal Leher Makhluk Malang tersebut

Demi Bisa Bersetubuh dengan Bidadari dan Bersenang-Senang di Surga, Ibrahim / Abraham Tega Menyembelih Leher Anak Kandungnya Sendiri, Ismail / Ishaq (SELFISH MOTIVE, EGO)

Menurut Anda, manakah yang lebih jahat, merampas hak hidup seekor hewan untuk dimakan manusia, ataukah penyiksaan / eksploitasi terhadap hewan demi menghibur manusia di pertunjukan? Apapun itu, bila “standar moral” Anda belum rusak akibat dogma agama samawi (hewan diciptakan Tuhan untuk dimakan oleh manusia, kata agama nasrani, dan nonkristen adalah “domba yang hilang”, yang ketika ditemukan maka akan dimakan oleh yesus), merampas hidup maupun eksploitasi adalah tercela dan dapat dicela oleh para bijaksana.

Kiat menjadi Tidak Takut pada Allah yang Mengancam Dimasukkan ke Neraka karena Tidak Bersedia Menggadaikan Jiwa & Dijadikan Budak Sembah-Sujud Allah

Allah Takut pada Orang Suci dan Neraka Jauh dari Orang Baik

Allah Senang kepada Orang Jahat dan Neraka Dekat kepada Pendosawan

Question: Saya merasa, hanya ada satu buah motif dan satu buah motivasi dibalik keputusan seseorang untuk memeluk agama samawi-abrahamik. Motifnya ialah ketakutan atas ancaman Allah akan dimasukkan ke neraka bila tidak menyembah Allah. Adapun motivasinya, ialah mabuk dan mencandu pengampunan dosa sehingga bisa “business as usual” berbuat dosa-dosa untuk kemudian memohon dihapuskan. Harga mahal yang harus mereka bayarkan, ialah terdemotivasi untuk menjadi orang baik, karena “orang jahat saja dimasukkan ke surga” lewat ritual sembah-sujud. Lalu, bagaimana dengan jenis-jenis orang seperti mereka yang berhati baik yang suka berbuat kebaikan, orang berjiwa ksatria yang berani untuk bertanggung-jawab atas perbuatannya sendiri dan berani membayar serta menerima konsekuensi dari perbuatan buruknya sendiri, terlebih orang suci yang terlatih dalam disiplin diri yang ketat yang bernama “self-control”, apakah Allah bisa menyetir dan membuat mereka tunduk pada keinginan Allah yang minta untuk disembah?

Bahagia dalam Kedunguan Vs. Kebahagiaan Terbebas dari Kedunguan

Air, Alamiahnya Bergerak ke Arah Bawah, Bukan ke Arah Atas. Sama seperti Kesenangan Orang Dungu

Orang Mabuk manakah, yang Mengakui atau Menyadari bahwa Dirinya sedang Mabuk dan Mencandu?

Question: Disebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang penduduknya paling bahagia di dunia ini. Itu survei dari mana ya? Mengapa berita yang muncul di pemberitaan media, seperti ada anak sekolah dasar mengakhiri hidupnya akibat tidak mampu membeli buku tulis dan alat tulis, anak yang tewas akibat terpapar cacing parasit, bencana alam bertubi-tubi, korupsi merajalela mulai dari pejabat hingga ketua rukun tentangga maupun ketua rukun warga, angka stunting yang tinggi pada balita, bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, penjara yang selalu penuh sesak oleh penghuni narapidana, polisi yang justru menjadi pelaku premanisme terhadap warga, pungutan liar oleh pejabat yang digaji dari rakyat yang dibayarkan oleh rakyat, kesenjangan sosial dan ekonomi yang lebar, pejabat bertindak bak raja dan rakyat jelata bak bangsa jajahan, pengangguran membludak, kemacetan parah, banjir dan bencana sepanjang tahun, daerah-daerah kumuh yang bertebaran dengan sanitasi yang buruk, hingga data dari Badan Pusat Statistik bahwa anak yang tewas bunuh diri di Indonesia tergolong paling tertinggi se-Asia Tenggara. Ini “bahagia” semacam apa yang dimaksud dan apakah patut dibanggakan dan dirayakan?

Umat Agama Samawi menjadikan DOSA dan MAKSIAT sebagai OTORITAS TERTINGGI Atas Diri dan Pikirannya, Akal Sehat pun Digadaikan demi Iman Setebal Tembok Beton yang Tidak Tembus Cahaya

Babi dibilang “haram”. “PENGHAPUSAN DOSA” justru diklaim sebagai “halal lifestyle”, Dasar “KORUPTOR DOSA”!

Question: Ada orang yang berpura-pura terhadap orang lain juga terhadap dirinya sendiri. Ada juga orang yang bukan hanya pandai menipu orang lain, namun juga sering menipu, ingkar janji, dan berbohong kepada dirinya sendiri. Dia pikir jika orang lain tidak tahu perbuatannya, maka artinya ia tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan jahat itu. Memangnya kita benar-benar bisa mencurangi kehidupan ini, orang lain, maupun mencurangi diri sendiri?