Agama DOSA yang Dibungkus dengan Merek “Agama SUCI”
Merugi bila Tidak Mencandu Ideologi
KORUP bagi KORUPTOR DOSA bernama PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA
Question: Mengapa agama samawi, bisa menjadi agama mayoritas penduduk dunia, meski umat pengikutnya banyak yang begitu jahat perilakunya di keseharian?
Brief Answer: Dunia ini, tidak pernah kekurangan kalangan
pendosa yang berdelusi dapat masuk surga. Berhubung antara ideologi KORUP (bagi
KORUPTOR DOSA, tentunya) semacam “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN / PENEBUSAN DOSA” (abolition
of sins) dan “DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” sifatnya saling bundling, komplomenter
ibarat odol dan sikat gigi yang tidak saling terpisahkan satu sama lainnya,
maka sebelum para umat agama samawi beribadah, maka mereka kudu berlomba-lomba menjadi
KORUPTOR sebelum kemudian mencandu serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”. Itulah sebabnya,
para umat agama samawi hanya dipeluk oleh kalangan “KORUPTOR DOSA”, dimana
vonis hidup dan matinya ialah hanya sekadar sebagai seorang “PENDOSA PECANDU
PENGHAPUSAN DOSA” semata.
PEMBAHASAN:
Sungguh ironi bercampur geli,
melihat sikap umat agama samawi yang sepatunya merasa malu berhadapan dengan para
siswa Sang Buddha, namun justru bertingkah seolah sebagai kaum paling superior,
meski senyatanya mereka merupakan makhluk dengan “kasta” paling rendah—yakni kaum
pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka
petik sendiri buah manisnya dan disaat bersamaan merupakan kaum pengecut yang
begitu pengecut untuk mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruk
mereka sendiri. Mereka adalah pecundang yang menjelma “KORUPTOR DOSA” pemeluk “Agama
DOSA”. Semua orang sanggup, menjadi seorang “PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA”,
namun tidak semua orang sanggup menjadi seseorang yang berjiwa mulia.
khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya :
Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha, JILID IV”, Judul Asli : “The
Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa
Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, dengan kutipan sebagai berikut:
21 (1) Ugga (1)
Pada suatu ketika Sang Bhagavā sedang menetap di
Vesālī di aula beratap lancip di Hutan Besar. Di sana Sang Bhagavā berkata kepada
para bhikkhu: “Para bhikkhu!”
“Yang Mulia!” para bhikkhu itu menjawab. Sang
Bhagavā berkata sebagai berikut:
“Para bhikkhu, kalian harus mengingat perumah tangga
Ugga dari Vesālī sebagai seorang yang memiliki delapan kualitas yang menakjubkan
dan mengagumkan.” [209] Ini adalah apa yang dikatakan oleh Sang Bhagavā.
Setelah mengatakan ini, Yang Berbahagia bangkit dari
dudukNya dan memasuki kediamanNya. Kemudian, pada pagi harinya, seorang bhikkhu
tertentu merapikan jubah, membawa mangkuk dan jubahnya, dan mendatangi kediaman
perumah tangga Ugga dari Vesālī.
Ketika ia tiba, ia duduk di tempat yang dipersiapkan
untuknya. Kemudian perumah tangga Ugga dari Vesālī mendatangi bhikkhu tersebut,
bersujud kepadanya, dan duduk di satu sisi. Kemudian bhikkhu itu berkata
kepadanya:
“Perumah tangga, Sang Bhagavā menyatakan bahwa
engkau memiliki delapan kualitas menakjubkan dan mengagumkan. Apakah itu?”
“Aku tidak tahu, Bhante, delapan kualitas
menakjubkan dan mengagumkan apa yang kumiliki yang dinyatakan oleh Sang Bhagavā.
Akan tetapi, ada padaku delapan kualitas menakjubkan dan mengagumkan. Dengarkan
dan perhatikanlah. Aku akan berbicara.”
“Baik, perumah tangga,” bhikkhu itu menjawab.
Perumah tangga Ugga dari Vesālī berkata sebagai berikut:
(1) “Ketika, Bhante, pertama kali aku melihat Sang
Bhagavā dari kejauhan, segera ketika aku melihat Beliau pikiranku memperoleh keyakinan
pada Beliau. Ini adalah kualitas menakjubkan dan mengagumkan pertama yang
terdapat dalam diriku.
(2) “Dengan pikiran penuh keyakinan, aku menantikan
Sang Bhagavā. Kemudian Sang Bhagavā membabarkan khotbah bertingkat kepadaku,
yaitu khotbah tentang berdana, perilaku bermoral, dan alam surga; Beliau
mengungkapkan bahaya, keburukan, dan kekotoran dari kenikmatan-kenikmatan
indria dan manfaat dari pelepasan keduniawian. Ketika Sang Bhagavā mengetahui
bahwa pikiranku telah lunak, lembut, bebas dari rintangan, terbangkitkan, dan
penuh keyakinan, Beliau [210] mengungkapkan ajaran Dhamma itu yang khas para
Buddha: penderitaan, asal-mulanya, lenyapnya, dan sang jalan. Kemudian, bagaikan sehelai
kain bersih yang bebas dari noda-noda gelap akan dapat menyerap warna celupan,
demikian pula, selagi aku duduk di tempat duduk yang sama itu, mata-Dhamma yang
tanpa noda, bebas dari debu, muncul dalam diriku: ‘Apa
pun yang tunduk pada kemunculan semuanya tunduk pada kelenyapan.’ Aku melihat Dhamma, mencapai
Dhamma, memahami Dhamma, mengukur Dhamma, menyeberangi keragu-raguan, bebas
dari kebingungan, mencapai kepercayaan-diri, dan menjadi tidak bergantung pada yang
lain dalam ajaran Sang Guru. Di sana juga aku menyatakan berlindung pada Sang
Buddha, Dhamma, dan Saṅgha, dan menerima aturan-aturan latihan dengan hidup selibat sebagai yang
ke lima. Ini adalah kualitas menakjubkan dan mengagumkan ke dua yang terdapat
dalam diriku.
[Kitab Komentar : Brahmacariyapañcamāni
sikkhāpadāni. Ini adalah lima aturan yang biasa, tetapi dengan “menghindari
aktivitas seksual” menggantikan “menghindari hubungan seksual yang salah”
sebagai aturan ke tiga.]
(3) “Aku memiliki empat istri yang masih muda. Aku
kemudian mendatangi mereka dan berkata: ‘Saudari-saudari, aku telah menerima
aturan-aturan latihan dengan hidup selibat sebagai yang ke lima. Jika kalian
mau, kalian dapat menikmati kekayaan di sini dan melakukan perbuatan berjasa,
atau kembali kepada lingkaran keluarga kalian, atau memberitahukan kepadaku
jika kalian ingin agar aku menyerahkan kalian kepada laki-laki lain.’ Kemudian
istriku yang tertua berkata kepadaku: ‘Tuan muda, serahkanlah aku kepada
laki-laki itu.’ Aku memanggil laki-laki itu, dan dengan tangan kiriku memegang
istriku, dengan tangan kananku memegang kendi upacara, aku menyerahkannya
kepada laki-laki itu. Tetapi bahkan selagi menyerahkan istriku yang masih muda,
aku tidak ingat ada terjadi perubahan dalam pikiranku. Ini adalah kualitas
menakjubkan dan mengagumkan ke tiga yang terdapat dalam diriku. [211]
(4) “Keluargaku kaya tetapi kekayaan itu dibagikan
secara tanpa syarat dengan orang-orang bermoral dan berkarakter baik.
Ini adalah kualitas menakjubkan dan mengagumkan ke empat yang terdapat dalam
diriku.
(5) “Kapan pun aku melayani seorang bhikkhu, aku
melayaninya dengan hormat, bukan dengan tidak hormat. Ini adalah kualitas menakjubkan
dan mengagumkan ke lima yang terdapat dalam diriku.
(6) “Jika yang mulia itu mengajarkan Dhamma
kepadaku, maka aku mendengarkan dengan hormat, bukan dengan tidak hormat. Jika
ia tidak mengajarkan Dhamma kepadaku, maka aku mengajarkan Dhamma kepadanya.
Ini adalah kualitas menakjubkan dan mengagumkan ke enam yang terdapat dalam
diriku.
(7) “Bukanlah tidak biasa bagi para dewata
mendatangi dan memberitahukan kepadaku: ‘Perumah tangga, Dhamma telah dibabarkan
dengan sempurna oleh Sang Bhagavā.’ Kemudian aku berkata kepada para dewata
itu: ‘Apakah engkau mengatakannya atau tidak, tetapi Dhamma memang telah
dibabarkan dengan sempurna oleh Sang Bhagavā.’ Namun, aku tidak ingat
kegirangan pernah muncul karena para dewata mendatangiku atau karena aku berbicara
dengan para dewata itu. Ini adalah kualitas menakjubkan dan mengagumkan ke
tujuh yang terdapat dalam diriku.
(8) “Dari kelima belenggu yang lebih rendah yang
diajarkan oleh Sang Bhagavā, aku tidak melihat satu pun yang belum kutinggalkan.
Ini adalah kualitas menakjubkan dan mengagumkan ke delapan yang terdapat dalam
diriku. [212]
[Kitab Komentar : Dengan ini ia
menyatakan dirinya sebagai “yang-tidak-kembali”.]
“Ini, Bhante, adalah kedelapan kualitas menakjubkan
dan mengagumkan yang terdapat dalam diriku. Tetapi aku tidak mengetahui delapan
kualitas menakjubkan dan mengagumkan apa yang kumiliki yang dinyatakan oleh
Sang Bhagavā.”
Kemudian bhikkhu itu, setelah menerima dana makanan
dari kediaman perumah tangga Ugga dari Vesālī, bangkit dari duduknya dan pergi.
Setelah makan, setelah kembali dari perjalanan menerima dana makanan itu, ia
mendatangi Sang Bhagavā, bersujud kepada Beliau, duduk di satu sisi, dan
melaporkan kepada Beliau seluruh pembicaraannya dengan perumah tangga Ugga dari
Vesālī.
[Sang Bhagavā berkata:] “Bagus, bagus, bhikkhu! Aku
telah menyatakan bahwa perumah tangga Ugga dari Vesālī memiliki delapan
kualitas menakjubkan dan mengagumkan ini yang sama dengan yang ia jelaskan
kepadamu. Engkau harus mengingat perumah tangga Ugga dari Vesālī sebagai
seorang yang memiliki kedelapan kualitas menakjubkan dan mengagumkan ini.”
Sebaliknya, kontras dengan ajaran Sang Buddha, bisa
dikatakan bahwa yang menjadi syarat utama bagi seseorang untuk masuk menjadi pemeluk
agama samawi (mualaf) ialah bukan iman, namun menjadi bagian dari lingkaran
kalangan PENDOSAWAN—kesemuanya dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan
membawa kesalahan sebesar isi bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya,
maka Aku akan menemuinya dengan ampunan sebesar itu pula.”
- No. 4857 : “Barang
siapa membaca Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya)
seratus kali dalam sehari, maka dosanya
akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No. 4863 : “Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam
dengan do'a; Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4864 : “Apabila
ada seseorang yang masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya
tentang shalat kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii
warhamnii wahdinii wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku
dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No. 4865 : “Ya
Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah
Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai
berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, selamatkanlah aku,”
- Aku mendengar Abu Dzar dari
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Jibril menemuiku dan
memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja yang meninggal dengan
tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya, ‘Meskipun dia mencuri dan
berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia
mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
- Dari Anas
radhiallahu ‘anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam,
selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni
dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun
kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau
menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak
isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku
datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR.
Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi No. 3540]
PENDOSA, namun hendak berceramah perihal akhlak, moral,
hidup suci, luhur, adil, jujur, mulia, agung, lurus, bertanggung-jawab, berjiwa
ksatria, dan bersih? Itu menyerupai ORANG BUTA yang hendak membimbing para
BUTAWAN lainnya, berbondong-bondong secara deras menuju jurang-lembah nista,
dimana neraka pun diyakini sebagai surga. Alhasil, sang nabi rasul Allah dalam
keseharian lebih sibuk mabuk serta kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA” (bagi PENDOSA
maupun KORUPTOR DOSA, tentunya), alih-alih introspeksi diri, mengenali serta
mengakui perbuatan buruknya, meminta maaf kepada korban-korbannya, terlebih
menggunakan waktu yang ada untuk bertanggung-jawab kepada mereka, lebih sibuk
lari dari tanggung-jawab ketimbang sibuk untuk mempertanggung-jawabkan
perbuatannya sendiri. Tergila-gila memohon “PENGHAPUSAN DOSA”, artinya
sepanjang hidupnya kecanduan “mencetak dosa-dosa yang serupa ataupun dosa-dosa baru
lainnya” tanpa pernah jera ataupun bertobat—juga masih dikutip dari Hadis
Muslim:
- No. 4891. “Saya
pernah bertanya kepada Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4892. “Aku bertanya
kepada Aisyah tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, maka dia menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang
telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No. 4893. “dari
'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca:
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukkan sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang
belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai
berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan,
kebodohan, dan perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah bertanya kepada
Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya bengkak. Bukankah
Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu maupun yang akan
datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]